
"Sayang, Apa kamu yakin ini rumahnya?"
Arkan memarkirkan mobil di muka sebuah rumah dengan nuansa Jawa yang sangat kental, bahkan di bagian depan rumah itu berdiri sebuah Joglo megah nan klasik.
"Iya, aku dengar mereka membuka sebuah guest house," jawab Rea sambil melepas sabuk pengaman yang melekat di badannya, gadis itu turun dari mobil dan bergegas masuk ke halaman rumah milik keluarga supirnya dulu.
"Permisi," ucap Rea saat melihat seorang bapak-bapak yang sedang sibuk menyapu dedaunan yang berguguran dari pohon.
Laki-laki itu membenarkan letak kacamatanya, melihat ke arah Rea yang berjalan mendekat sambil terus menunjukkan deretan giginya.
"Pak Rahmat!"
Rea kegirangan mendapati supirnya saat SMA dulu masih terlihat begitu sehat. Laki-laki itu mengernyitkan dahi kebingungan melihat seorang tamu yang datang sepagi ini bahkan memanggil namanya dengan begitu akrab.
"Bapak lupa sama saya?" tanya Rea.
"MasyaAllah, non Rea ya?" Laki-laki itu langsung melepaskan sapu yang tengah ia pegang untuk menjabat tangan gadis di depannya.
Arkan terlihat tertawa sambil membawa beberapa bingkisan yang sengaja mereka bawa dari rumah, ia menghampiri kedua orang yang nampak begitu bahagia setelah tak bertemu sekian lama.
Pak Rahmat terlihat melepaskan genggaman tangannya ke Rea menatap Arkan dengan pandangan yang sama seperti saat melihat Rea tadi.
"Bapak ingat saya ga hayo?" canda Arkan.
Pak Rahmat memandangi wajah Arkan lekat kemudian tersenyum "Mas Arkan ya?" ucapnya.
"Iya Pak." Arkan tertawa menyalami pak Rahmat sambil menyerahkan bingkisan yang dia bawa.
Laki-laki itu kemudian mempersilahkan mereka masuk, Bi Ulfa dan Anisa terlihat bahagia bisa bertemu lagi dengan Rea setelah sekian lama. Mereka kebetulan baru saja selesai memasak dan mempersilahkan tamunya untuk sarapan bersama.
Mereka larut dalam nostalgia, Pak Rahmat berkata tak percaya bahwa akhirnya Rea menikah dengan Arkan.
"Masih ga percaya gimana pak? Bapak lihat hasil kerjaan dia!" canda Rea sambil menatap ke arah suami tercinta dan mengusap perutnya. Semua orang terbahak mendengar guyonan gadis itu.
"Aku ga nyangka lho kalau Elang ternyata kakak kamu Re,"ucap Anisa.
"Kalau Elang bukan kakaknya, dia pasti nikahnya sama Elang mba bukan sama aku, orang aku ini cuma nomor dua kok buat Rea," timpal Arkan.
__ADS_1
Laki-laki itu tertawa menggoda sang istri sambil mengusap lembut perut Rea. Semua orang tertawa, sementara gadis yang menjadi obyek pembicaraan terlihat gemas dan mencubit lengan suaminya.
Anisa sudah memiliki dua anak berusia enam dan tiga tahun, sementara saat Arkan dan Rea datang kesana pak Lucky suami Anisa sekaligus sang guru olahraga mereka dulu sedang tidak berada di rumah, laki-laki itu tengah pergi bersepeda bersama kedua anaknya.
"Mbok nginep sini dulu aja non," ucap Bi Ulfa.
Rea cemberut memegang lengan wanita yang selalu membuatkannya sarapan dulu "Dari tadi sudah di bilang jangan panggil non lho, panggil Rea aja, kan aku udah bukan majikan Bibi sekarang," pinta gadis itu.
Bi Ulfa tersenyum, wanita itu menggenggam erat tangan Rea sambil mendoakan mantan nonanya itu agar selalu diberikan kesehatan dan kelancaran saat melahirkan nanti, tak lupa Anisa juga meminta kontak gadis itu agar mereka bisa tetap terus berhubungan.
"Kalau teman kalian ada yang main ke sini terus cari penginapan, direkomendasikan ya guest house kita," ucap Anisa ke Arkan dan Rea.
Mereka mengiyakan permintaan Anisa, keduanya berpamitan untuk pergi dan beranjak menuju ke pantai dimana keluarga mereka sudah kesana terlebih dulu, jarak yang mereka tempuh memakan waktu hampir satu jam perjalan dari sana.
Rea tersenyum memandangi jalanan yang pernah dia lewati bersama Elang dulu, di saat mereka berdua pergi ke pantai yang sama dengan yang akan mereka kunjungi sekarang, Arkan yang melihat istrinya tersenyum sendiri mulai jahil dan menggoda gadis itu.
"Pasti sedang mengingat kenangan romantis berdua sama Elang makanya senyum-senyum sendiri, Iya kan?"
"Iya, kok kamu tau sih sayang," jawab Rea sambil membuka makanan kecil yang dia bawa.
"Jujur banget sih, cemburu lho aku." Arkan memasang muka masam tak menyangka istrinya akan sejujur itu, namun seketika bibirnya tertawa mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Rea.
"Halah...ngerayu biar aku ga kesel," gerutu Arkan.
Rea terbahak sambil meyuapkan makanan yang tengah ia nikmati kedalam mulut sang suami.
Sampai di pantai mereka disambut Noah yang sedang bermain pasir pantai bersama Andi dan Laras. Anak itu menarik-narik lengan sang papa untuk bermain bersamanya.
Elang sepertinya pengertian, ia menyiapkan sebuah bangku panjang disana untuk adiknya duduk, laki-laki itu terlihat sedang berduaan dengan calon istrinya duduk di bibir pantai, membiarkan tubuh mereka diterjang ombak yang datang dan pergi. Rea hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya.
Noah berlari mengejar sang nenek, membiarkan sang papa yang akhirnya memilih duduk berdua dengan sang mama. Rea menyandarkan kepalanya di pundak Arkan, menatap pantai sambil menghirup udara yang benar-benar memanjakan paru-parunya.
"Sayang, apa kamu bahagia?" bisik Rea.
"Sangat, aku sangat bahagia bisa memilikimu, Bebe dan Bubu," lirih Arkan.
"Dan Noah." Rea mengangkat kepalanya menatap sang suami lekat.
__ADS_1
Arkan tersenyum sambil sibuk membelai dan merapikan rambut sang istri "Dan Noah," ucapnya.
"Aku berencana membawa Noah ke rumah kita, jadi besok kita siapkan kamar yang masih kosong untuk dia."
Arkan mengangguk mengiyakan permintaan sang istri, ia merangkum pipi Rea mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir gadis itu, namun secepat kilat Rea menahan tangan suaminya.
"Apa kamu tidak malu berciuman disini? aku malu," bisik Rea yang langsung berdiri dan tertawa meninggalkan Arkan menuju pantai.
Laki-laki itu berdiri berjalan mendekati istrinya, Rea tiba-tiba menatap tajam ke arah seorang gadis yang berjalan sambil tersenyum mendekat ke arah sang suami. Dengan cepat Rea berbalik menghampiri Arkan, gadis itu berjinjit memegang pinggang sang suami, mendaratkan bibirnya ke bibir Arkan.
Sunny adik Kinanti yang hampir mendekat berhenti dan hanya menatap dua orang itu dari tempatnya.
Masih dengan bibir Rea yang menempel di bibirnya Arkan mencoba untuk berbicara kepada istrinya.
"Bu..kan..kah kamu bi...lang..malu."
Gadis itu hanya menggelengkan kepala lalu melingkarkan tangannya ke leher sang suami, melepaskan ciumannya hanya untuk berkata bahwa Arkan hanya miliknya, lalu menempelkan bibirnya untuk mencium suaminya lagi.
Elang dan Ken yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala, namun dalam hati mereka sebenarnya juga ingin melakukan hal yang sama.
"Ken," panggil Elang yang tepat duduk disamping gadis itu.
Kinanti menoleh dan saat itu Elang mencium bibir gadis itu sekilas, tanpa sadar Pak Alif tengah berdiri didekat mereka. Melihat calon menantunya mencium anak gadisnya laki-laki itu pura-pura batuk, membuat keduanya kaget.
"Yang sudah muhrim sah-sah saja, yang belum ya ga boleh," ucapnya.
Wajah Elang dan Ken menjadi merah, semerah kepiting rebus yang akan menjadi santapan mereka nanti.
_
_
_
_
Jangan lupa tinggalkan jejak dengan TEKAN LIKE ❤ KOMEN dan berikan VOTE Bintang 5 setelah membaca.
__ADS_1
LOVE YOU A TON