
Axel, Rea dan Arkan berada diruangan Kinanti, bersiap mendengarkan penjelasan tentang hasil test DNA yang terlihat sudah ada berada dimeja dokter kandungan itu.
Namun, sebelum itu Ken memeriksa keadaan kandungan Rea terlebih dulu, Axel hanya duduk menatap istri orang yang dicintainya tengah terbaring diranjang pemeriksaan dengan sang suami yang berada disampingnya.
Jika hasil test DNA yang akan disampaikan Ken nanti mengatakan bahwa bayi itu bukan anaknya, Axel sudah bersiap untuk patah hati lagi.
"Sekarang gantian kita dengar detak jantung bayi kedua." Ucapan Kinanti membuat Axel terkejut.
"Bayi kedua?" tanyanya tak percaya.
"Hem, Rea mengandung bayi kembar," jawab Arkan.
Axel memandang ke arah Rea, wajah laki-laki itu terlihat bingung, sementara Ken sedikit khawatir menghadapi tiga orang yang berada diruangannya karena dia sudah tau hasil test DNA bayi Rea.
Setelah pemeriksaan mereka lantas duduk kembali didepan meja Kinanti, penuh rasa harap dan cemas ketiganya menunggu penjelasan dari sang dokter.
Kinanti terlihat mengambil napas sebelum menyampaikan dan menjelaskan hasil dari tes DNA itu.
"Aku harap kalian sudah siap menerima hasil tes ini," ucapnya.
Rea mengangguk, menggenggam tangan Arkan lalu meremasnya seolah mencoba menghilangkan perasaan yang berkecamuk didalam hatinya.
"Dari hasil tes DNA menunjukkan bahwa bayi dalam kandungan Rea adalah anak biologis kalian berdua." ucap Ken sambil memandang Axel dan Arkan yang duduk bersebelahan secara bergantian.
Ketiga orang itu melebarkan bola matanya menandakan bahwa mereka sama sekali tidak mengerti dengan ucapan Kinanti barusan.
Ken lalu menjelaskan bahwa kondisi kehamilan bayi kembar yang berbeda ayah disebut superfekundasi hetero paternal, dan kemungkinannya hanya 1 dibanding 13.000 kelahiran bayi kembar. Ini bisa terjadi jika seorang perempuan melakukan hubungan badan dengan dua pria berbeda dalam rentang waktu yang berdekatan.
Kinanti berkata kemungkinan Rea melepaskan dua sel telur yang terpisah masih dalam satu siklus, dan karena sel sper.ma dapat bertahan di dalam saluran reproduksi wanita selama beberapa hari, maka sangat mungkin terjadi dua pembuahan dalam waktu yang hampir sama.
Axel, Arkan dan Rea terlihat terbengong mendengar penjelasan dari Kinanti.
Ken tau kalau ketiga mahkluk didepannya sedang kebingungan kemudian memberikan penjelasan yang bisa dengan mudah diterima otak awam ketiganya tentang masalah ini.
"Jadi kesimpulannya bayi A merupakan anak biologis Arkan dan bayi B adalah anak biologis Axel," ucap Ken.
Rea membelalakkan matanya, bagaimana mungkin dia bisa mengandung anak dari dua orang laki-laki yang berbeda, dia berdiri dari kursinya, wajahnya terlihat tidak mau menerima sama sekali kenyataan yang dijelaskan oleh Kinanti.
"Enggak Ken, ga mungkin, hasil itu pasti salah, bahkan dulu aku juga pernah melakukan test DNA untuk tau apakah aku anak kandung ayahku atau bukan dan hasilnya juga salah, ayo lakukan test sekali lagi, tidak mungkin bayi dalam kandunganku salah satunya adalah anak laki-laki ini," Rea menunjuk ke arah Axel yang sebenarnya senang mengetahui bahwa bayi yang dikandung Rea adalah anaknya.
"Re, ini kejadian langka, mereka juga sampai memeriksa hasil test DNA ini tiga kali sebelum mengirimnya," papar Kinanti.
"Tidak Ken, aku tidak bisa terima," ucap Rea sambil meremas ujung dress yang dia kenakan.
Badannya tiba-tiba limbung, Axel berdiri dari kursinya dan dengan sigap memegang bahu gadis itu yang seketika roboh tak sadarkan diri.
Tiga jam kemudian Rea terbangun karena merasakan silau lampu yang mengenai netranya, mendapati dirinya tengah terbaring dengan tubuh lemas tak bertenaga ia mencoba untuk duduk, sekatika ia meringis merasakan sakit pada tangannya yang ternyata terpasang selang infus, Rea melihat suaminya tidur disofa, tangannya bergerak memegangi perutnya.
__ADS_1
Arkan terbangun melihat sang istri yang telah sadar, ia langsung berdiri dan mendekat.
"Sayang, apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.
Rea hanya menggelengkan kepala, memegang pipi suaminya kemudian menangis.
"Hei, kenapa menangis, ingat Ken bilang kamu tidak boleh stress, tidak baik untuk kesehatan janin didalam kandunganmu," bisik Arkan.
"Maafin aku... maafin aku sayang," ucap Rea penuh penyesalan.
"Harusnya aku bisa menjaga diri dan mencegah semua ini agar tidak terjadi, bagaimana bisa aku mengandung anak laki-laki lain," tangis Rea semakin menjadi membuat Arkan kebingungan.
"Ini bukan salah siapa-siapa sayang, mungkin ini takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk kita, please! kamu jangan berpikir macam-macam, ingat kamu juga sedang mengandung anak kita, aku tidak ingin sesuatu terjadi pada bayi kita."
Rea memeluk lengan suaminya, masih dengan berurai air mata. Tanpa mereka sadari Axel mendengar apa yang mereka bicarakan dari balik pintu.
Laki-laki itu berjalan pergi meninggalkan kamar Rea, dia merasa bingung, merasa sangat bersalah, tapi jauh dilubuk hatinya Axel juga merasa bahagia karena gadis yang dicintainya sedang mengandung anaknya. Axel memilih duduk di sebuah kursi tunggu yang berada dikoridor rumah sakit, tertunduk sambil menangkup kepalanya.
Ia terkejut saat sebuah tangan menepuk pundaknya. Axel mendongak melihat Arkan sudah berdiri tepat disebelahnya, suami adik tirinya itu kemudian duduk disampingnya, kedua laki-laki itu terdiam cukup lama.
"Aku minta maaf Ar, aku tau perbuatanku tidak bisa di maafkan, tapi bisakah kamu meminta Rea untuk juga menjaga anakku?," ucap Axel dengan suara yang agak bergetar.
"Meskipun dia anak yang tidak ibunya inginkan, biarkan dia lahir, kalau Rea tidak mau menerimanya, aku akan merawat anak itu, dan akan aku pastikan pergi menjauh dari kalian setelah bayi itu lahir," lanjut Axel.
"Jangan berpikir seperti itu, bagaimanapun Rea akan menjadi seorang ibu, tidak mungkin dia tidak menginginkan anaknya," terang Arkan.
"Apa kamu tidak membenciku?"tanya Axel ragu.
"Dan mungkin ini cobaan yang diberikan Tuhan untuk menguji pernikahan kami," lanjut Arkan.
Axel hanya terdiam mendengar kalimat yang meluncur dari bibir suami gadis yang dicintainya itu, jika dirinya adalah Arkan pasti dia sudah menghancurkan laki-laki yang berbuat seperti itu kepada istrinya, sejenak Axel berpikir mungkin karena itu Rea benar-benar mencintai Arkan, laki-laki itu memiliki hati yang amat luar biasa baik.
"Aku akan pulang sebentar mengambil beberapa barang dirumah, karena Ken belum mengijinkan Rea pulang sampai hasil test darahnya besok keluar, aku juga tidak mau menghubungi mama atau mertuaku karena aku takut mereka akan khawatir, tolong jaga Rea sampai aku kembali!" pinta Arkan.
Axel mengganggukkan kepala, memandangi Arkan pergi, setelahnya dia beranjak menuju kamar Rea.
Axel membuka pintu mendapati Rea yang mencoba bangun tapi kesusahan karena selang infus ditangannya, laki-laki itu langsung mendekat ingin membantu, tapi tangannya ditepis Rea dengan kasar.
"Aku bisa sendiri," ucapnya.
"Arkan memintaku menjagamu selagi dia pulang, tolong jangan menolak Re, kalau sampai terjadi apa-apa denganmu aku akan sangat merasa bersalah, dan Arkan juga pasti sama." Axel memberi penjelasan ke gadis yang seperti sangat membencinya itu.
Akhirnya Rea memilih menerima bantuan Axel untuk mengantarnya sampai kedepan pintu kamar mandi.
Beberapa saat yang lalu
Arkan memeluk Rea, menciumi keningnya penuh kasih sayang. Sebelum ijin meninggalkannya pulang Arkan berpesan sesuatu kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang dengarkan aku! bagaimanapun juga didalam kandunganmu selain ada calon anak kita juga ada calon anak Axel, aku tau dia begitu menyesal, kita semua menyesal, tapi satu hal yang perlu kita ingat, bayi itu ada disini karena takdir Tuhan, jangan sampai kamu menyesali apa yang sudah Tuhan berikan, coba berpikir saja bahwa didalam sana anak kita tidak sendirian, bahkan sebelum lahir dia sudah memiliki teman."
Rea hanya bisa terdiam mendengar ucapan suaminya, sesekali menghapus buliran kristal yang mengalir dari matanya.
"Cintailah keduanya karena mereka anak-anakmu, tapi jangan mencintai laki-laki selain aku," lirih Arkan.
Gadis itu terisak sambil masih berlinangan air mata, memeluk erat tubuh Arkan yang sedang membenamkan kepala diperutnya yang terlihat sedikit membuncit, Arkan menciumi perutnya kemudian berbisik.
"Kalian berdua baik-baik saja kan disana? jangan membuat mama kalian susah, jadilah anak-anak baik, papa sayang kalian."
Dalam tangis Rea berpikir bahkan suaminya bisa menerima anak laki-laki lain, kenapa dirinya tidak.
Rea masih terdiam dikamar mandi memikirkan ucapan suaminya. Ia keluar berharap Axel sudah pergi dari sana. Namun, saat keluar dari kamar mandi ia terkejut karena Axel tiba-tiba berlutut didepannya.
"Re, maafin aku, aku benar-benar menyesal, aku salah, aku berdosa ke kamu dan Arkan," suara Axel terdengar berat, Rea sadar laki-laki itu sedang menahan tangisnya.
"Bangun Ax! jangan seperti ini!" Rea merasa tidak enak mendapati Axel berbuat seperti itu.
"Aku mohon, jaga anakku sampai nanti dia lahir setelah itu aku berjanji akan membawanya pergi dari hidup kalian," pinta Axel.
"Kamu ngomong apa sih Ax? bangun! jangan kayak gini! kalau kamu tidak bangun, aku tidak akan mau memaafkan kamu," ancam Rea.
Akhirnya Axel memilih bangun dan ternyata laki-laki itu benar-benar menangis, rasa iba menjalar dihati Rea.
"Ayo kita duduk!"
Axel kemudian membantu Rea duduk disofa, lagi-lagi ia berlutut didepan gadis itu.
"Aku tau kamu tidak menginginkan anakku, tapi aku mohon Re jaga dia juga seperti kamu menjaga anak Arkan."
"Ax, kamu pikir aku akan melakukan apa ke janin didalam kandunganku? apa kamu kira aku tidak punya perasaan? jujur aku memang tidak bisa menerima kenyataan sedang mengandung anakmu , tapi aku juga ibunya, apa kamu pikir aku tega berbuat jahat ke mahkluk lemah didalam sini?" Rea memegangi perutnya membuat mata Axel menatap kearah sana juga.
"kamu tau berapa usia kandunganku?" tanya Rea.
Axel terlihat berpikir, mencoba mengingat kapan waktu dia melakukan perbuatan bejatnya ke adik tirinya itu.
"Apa tiga bulan?" tanyanya ragu.
"Tepatnya empat bulan berjalan. Apa kamu tau? dia sekarang masih berukuran sangat kecil, jika dibandingkan dengan buah, ukurannya hanya sebesar buah plum." Rea menjelaskan dengan santai, seolah sudah melupakan amarahnya.
"Apa dia bisa mendengar suaraku?" tanya Axel.
"Hem...aku sempat membaca kalau janin dari usia tiga bulan sudah bisa mulai mendengar suara dari luar."
"Apa dia bergerak didalam sana?" tanya Axel penasaran.
"Aku belum merasakannya, ada yang bilang nanti saat menginjak usia lima bulan."
__ADS_1
"Apa aku boleh memegang perutmu?" pinta Axel sedikit ragu.
Rea menganggukkan kepala. Axel yang masih berlutut didepan Rea menggerakkan tangannya memegang perut gadis didepannya, Air matanya kembali menetes, kali ini ada perasaan lega di hatinya.