
Laras tak habis pikir, dugaannya dengan Lidia saat mereka bertemu tadi ternyata benar.
"Aku mencium gelagat aneh dari Rea dan Ax, pertama saat Axel dirawat di rumah sakit Rea menghubungi aku dan papanya, kami terkejut karena dokter bilang luka operasi Ax terbuka kembali, kami tidak tahu kapan Ax melakukan operasi jadi kami bingung, kedua saat bangun anak tiriku itu mencari keberadaan Rea, Ia langsung meminta pulang saat tahu Rea tidak menemaninya."
"Arkan juga sama, aku lihat anak itu seperti sedang memendam emosi yang dalam, apalagi pagi tadi aku dapati matanya dan Rea sembab seperti habis menangis semalaman."
Laras menggigit jari telunjuknya, masih tidak percaya bahwa menantu kesayangannya itu menghianati anaknya. Wanita itu menelpon Lidia dan memberi tahu tentang kebenaran yang baru saja disampaikan oleh Arkan.
Dari seberang telpon terdengar suara Lidia yang murka, wanita itu berkata akan menemui anaknya, Laras yang tidak menduga bahwa reaksi besan sekaligus sahabatnya itu begitu marah terlihat cemas, Ia menyambar kunci mobil Andi untuk menyusul Lidia yang sedang dalam keadaan emosi.
Rea masih terduduk di sofa ruang tamu meskipun sudah hampir satu jam, ia terdiam menunduk bahkan tidak menyalakan lampu rumahnya. gadis itu masih terus meratapi kesalahannya, ketakutan mulai menggerogoti kepercayaan dirinya mengingat ucapan dan perlakuan Arkan yang benar-benar tidak peduli kepadanya.
Bel pintu rumahnya berbunyi, Rea masih berharap Arkan datang kembali untuk memeluknya atau sekedar mengajaknya pulang ke rumah sang mertua. Secepat kilat tangannya menekan saklar lampu untuk membuat terang seisi rumahnya. Namun, dia terkejut mendapati sang mama yang berdiri di balik pintu, dan sebuah tamparan langsung mendarat di pipinya.
Lidia melotot, sementara Rea memegangi pipinya, seingat Rea ini kali kedua sang mama menampar pipinya dan dengan alasan yang masih sama, membela suaminya.
"Gadis bodoh, siapa yang mengajarimu berselingkuh ha?" Lidia memukul lengan Rea.
"Meskipun mama sadar dulu mama jarang memperhatikanmu tapi mama tidak pernah memberi contoh seperti ini, bahkan mama yang tidak dicintai ayahmu saja tidak pernah berniat untuk selingkuh, tapi kamu?" amuk Lidia.
Laras yang datang langsung berlari masuk ke dalam rumah, menarik Lidia ke dalam dan menutup pintu.
"Lid, jangan berteriak! apa kamu ingin semua orang mendengar?" pinta Laras.
__ADS_1
"Kamu tidak akan pernah lagi mendapat suami sebaik Arkan jika sampai kalian bercerai, kamu pasti akan menyesalinya seumur hidup," amuk Lidia.
Rea menjerit, membuat Laras dan Lidia kaget. Gadis itu lalu menjatuhkan dirinya sendiri dengan bersimpuh di depan sang mama dan mertuanya, menangis meraung sambil memukuli dadanya. Laras yang melihat menantunya seperti itu merasa iba, ia berlutut di samping Rea kemudian memeluk gadis itu. Tangisan Rea terdengar sangat memilukan, membuat Lidia juga tak sanggup membendung air matanya.
Laras menepuk punggung menantunya, berbisik mencoba menenangkan Rea, "Sudah, jangan menangis lagi, semua sudah terjadi. Turuti saja dulu apa keinginan suamimu, kamu harus tahu Arkan juga sama sakitnya seperti dirimu, mama tahu apa yang kamu rasakan, mama juga tidak ingin membela Arkan atau menyalahkanmu. Jujur, saat mama tahu Arkan memiliki anak di luar nikah mama juga sangat kecewa, mama merasa bersalah padamu, mungkin sekarang mamamu juga sedang merasakan apa yang mama rasakan dulu."
Mendengar ucapan Laras, Lidia memegang keningnya, berjalan sempoyongan dan duduk di sofa.
Rea melepaskan pelukan Laras, masih dengan air mata yang menganak sungai gadis itu menatap sang mertua, Laras menyeka air mata Rea sambil terus mengucapkan kata tidak apa-apa untuk menenangkan sang menantu.
"Maafkan aku ma, aku bersumpah aku menyesal, aku tidak pernah melakukan hal di luar batas dengan Axel, tapi mas Arkan dia...." tak sanggup meneruskan kalimatnya Rea menangis lagi membuat Laras memeluknya kembali.
"Biarkan suamimu, dia memang berkata akan menghukummu, tapi kita lihat saja berapa lama dia sanggup jauh darimu, yang pasti sekarang kamu harus berusaha mendapat kepercayaan darinya lagi, aku tahu kalian berdua masih saling mencintai."
Malam itu air mata Rea benar-benar terkuras habis, badannya terasa lemah, Ia bahkan belum makan seharian ini. Sebelum pulang Laras berpesan kepada menantunya agar memperbanyak ibadah dan mengingat Tuhan, sebenarnya Laras takut kalau Rea sampai berbuat hal-hal yang nekat.
***
Paginya Rea bangun sangat terlambat, Ia kaget saat mendapati Dewi sudah berada di rumahnya.
"Siapa yang membukakan pintu?" tanya Rea penasaran.
"Bapak, saya tadi pagi datang dan menekan bel berkali-kali tetapi tidak ada yang membuka, saya telpon ponsel ibu tapi juga tidak diangkat, saat saya hampir pergi pak Arkan datang."
__ADS_1
Rea memegangi keningnya, sepertinya Ia terlalu banyak menelan obat tidur semalam, "Jadi Bapak yang mengantar Bening? lalu Embun?" Tanya Rea penasaran.
"Iya bu, saya tidak tanya dimana mba Embun karena bapak langsung pergi tergesa-gesa katanya ada rapat penting, tapi Sari kirim pesan kalau diminta Pak Arkan datang ke rumah Pak Axel saja, jadi kemungkinan mba Embun disana."
Rea menganggukkan kepalanya, sadar bahwa sang suami benar-benar melakukan apa yang diucapkannya semalam. Gadis itu mencium anaknya, berbisik lirih ke telinga Bening," Maaf ya gara-gara mama kamu harus jauh dari Embun."
Sementara itu Arkan datang ke rumah Lidia, Ia benar-benar memberikan Embun ke Axel, Lidia dan Jordan hanya bisa terperangah dengan keputusan sang menantu.
"Aku melarangmu bertemu istriku, jadi jangan pernah kamu hubungi Rea!"
"Dan satu lagi Ax, aku minta serahkan semua saham RBB market milikmu ke aku, berapapun nominal yang kamu minta aku akan memberikannya, aku tidak ingin bekerja sama denganmu lagi, anak bersama, perusahaan bersama, selanjutnya kamu pasti ingin istri bersama, iya kan?" sinis Arkan.
Axel tersenyum menghina, "Jika kamu ingin saham RBB market yang menjadi bagianku minta saja ke Rea."
"Apa maksudmu?" Arkan terkejut, menatap Ax dengan raut wajah kebingungan.
"Seharusnya aku katakan ini dari awal, tapi Rea memohon untuk tidak membocorkannya kepadamu, awalnya dia memang memintaku untuk menanam modal di perusahaan yang akan kamu bangun, tapi satu bulan kemudian Ia meminta semua saham atas namaku dan aku memberikannya, jadi semua saham atas namaku di RBB market sebenarnya sekarang adalah milik Rea."
Penuturan Axel membuat Arkan semakin tidak percaya, sementara Ax mengungkapkannya bermaksud agar Arkan semakin kecewa kepada istrinya.
"Rea tahu bahwa kamu akan malu jika mendirikan perusahaan memakai uang atau modal darinya, maka dari itu dia meminta bantuanku di awal, jadi tidak ada perusahaan bersama Ar karena saham itu bukan milikku, tidak ada anak bersama karena dari awal Embun adalah anakku, dan tidak akan ada istri bersama karena aku akan menunggu kamu sampai menceraikan Rea." Penuh percaya diri Axel menatap tajam Arkan.
"Bukankah kamu sudah menalaknya?" lanjut Axel."Kenapa tidak langsung kamu ceraikan saja dia?"
__ADS_1
Sebuah pukulan mendarat di pipi Axel, laki-laki itu jatuh tersungkur, sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Teruslah bermimpi, karena aku sama sekali tidak akan melepaskan Rea! dan tunggu saja, aku akan menghancurkanmu, kamu ingin mulai dari mana? Sky hotel?" Ancam Arkan.