Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 47


__ADS_3

Rea terlalu fokus mengurusi Elang tiga hari ini dirumah sakit sampai lupa akan kekasihnya sendiri, ia duduk dimeja ruang makan apartemennya, menunduk sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya, merasa benar-benar lelah dan bersalah kepada Arkan.


Gadis itu mengambil HP didalam tasnya yang ia letakkan diatas meja, melihat ada beberapa panggilan dari kekasihnya dua hari yang lalu.


Tangannya mulai bergerak mencari aplikasi pesan yang biasa dia gunakan di HPnya, menggesernya kebawah untuk menemukan pesan dari Arkan, ia hanya menemukan satu chat dari laki-laki itu, dan isi pesannya pun tidak terlalu panjang.


"Jika harus kembali ke hari itu pasti aku juga akan rela mengorbankan nyawaku untukmu , setidaknya agar kamu tau aku sangat mencintamu,tapi aku tau Elang juga sangat mencintamu dan kamu pun ternyata masih memiliki perasaan yang sama ke dia, aku akan menunggumu sampai hatimu hanya menjadi milikku, tapi kalau memang kamu tidak bisa memberikan hatimu hanya untukku maka aku akan berdamai dengan hatiku untuk bisa mengikhlaskanmu."


Gadis itu menangis setelah membaca pesan itu, kemudian menghubungi kekasihnya, ia mencoba berkali-kali tapi tetap tidak diangkat, Rea mencoba menelpon ke kantor tapi Clara berkata atasannya tidak masuk hari ini, ia lalu menghubungi calon mertuanya.


" Tante apa Mas Arkan ada dirumah?"


"Lho tante pikir dua hari ini Arkan nginep di apartemen kamu Re, dia kemarin sempat demam karena luka ditangannya berair dan bengkak, tante pikir dia ke dokter terus nginep...."


Gadis itu mematikan ponselnya kemudian berlari keluar apartemennnya, menghentikan sebuah taxi konvensional seperti tau dimana tuangannya saat ini sedang berada, ia meminta diantarkan kerumah yang dibeli Arkan untuk mereka nanti.


Diperjalanan dia memikirkan semua perkataan dan kenangannya saat bersama Arkan , semua perbuatan laki-laki itu kepadanya dan apa yang pernah dia lalui bersama Arkan sekarang tergambar jelas dipikiran nya.


"Aku mencintaimu, maukah menjadi istriku, rumah untukmu, anak-anak kita, nona Rea kau begitu menggemaskan..."


Gadis itu pun menangis membuat si sopir taxi menatap bingung dari kaca spion depannya. Rea keluar dari taxi berkata kepada sopir untuk menunggu karena ternyata dia tidak punya uang cash untuk membayar ongkos .


Dia bergegas masuk kehalaman rumah, melihat mobil Arkan terparkir disana, hatinya menjadi lega, dia masuk kedalam rumah mencari disetiap ruangan, naik ke lantai atas tetapi tidak menemukan laki-laki yang di cari, Rea sudah menangis merasa frustasi membanting tasnya diatas kasur.


Dia berlari turun ke lantai bawah keluar rumah menuju kehalaman belakang , langkahnya terhenti dan hatinya merasa lega menemukan orang yang dia cari sedang bermain basket hanya dengan menggunakan tangan kirinya disana, sementara tangan kanannya masih terlihat terbalut perban.


Rea sontak berlari kemudian memeluk Arkan yang sedang melempar bola basket kedalam ring, memeluk pinggang laki-laki itu erat membuat laki-laki itu kaget dan sedikit terdorong kedepan, tapi tubuh atletisnya tidak mungkin jatuh terdorong hanya karena tubuh ramping kekasihnya, tiba-tiba hening dan hanya terdengar suara pantulan bola basket yang jatuh tanpa sempat masuk kedalam ring.


"Aku mencintaimu, sangat mencintaimu," ucap Rea terisak.

__ADS_1


Arkan ingin berbalik mendengar suara kekasihnya yang terdengar serak, tapi Rea makin mempererat pelukannya untuk memberikan tanda agar laki-laki itu tidak berbalik sampai dia selesai mengatakan apa yang ingin dia katakan.


"Maafkan aku, aku sadar selama ini pasti sulit untukmu untuk menghadapi gadis sepertiku , maaf untuk kata-kata jahatku kemarin, maaf untuk perbuatanku selama ini yang membuatmu terluka."


Mereka terdiam mematung untuk beberapa saat. Rea melonggarkan pelukannya, Arkan kemudian berbalik menatap ke gadis yang sangat dicintainya itu. Memegang Pipi Rea yang sudah banjir dengan air mata, gadis itu kemudian menciumi tangan Arkan yang sedang memegang pipinya, tangan yang lukanya masih belum sembuh itu.


"Maafkan aku" Rea menunduk mengulangi kata-katanya.


Tangan laki-laki itu merengkuh tengkuk Rea membenamkan kepala gadis itu didadanya kemudian memeluknya.


"Apa Elang sudah pulang dari rumah sakit?" tanya Arkan dengan suara serak menahan perasaan sesak didadanya sambil melonggarkan pelukannya.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala tanpa berani melihat mata laki-laki didepannya, bagaimana mungkin ia malah menanyakan keadaan orang yang menjadi penyebab mereka bertengkar.


"Re, lihat aku," pinta Arkan.


Gadis itu kemudian mendongak melihat Arkan yang ternyata sudah meneteskan air matanya juga.


"Aku bahagia kamu datang padaku," ucapnya.


"Mulai sekarang aku akan mendatangimu lebih dulu, agar kamu tau aku juga tidak ingin kehilangan dirimu."


"Bisakah kamu ulangi ucapanmu tadi?" pinta Arkan.


Rea manatap wajah calon suaminya itu penuh cinta "Aku mencintaimu, sangat mencintaimu."


Arkan merasakan kelegaan yang amat sangat didadanya, jemarinya sibuk merapikan rambut Rea yang terlihat berantakan, menyematkannya dibelakang telinga gadis itu, kemudian memegang pipi Rea turun kedagu, sedikit menunduk mengarahkan bibirnya ke bibir Rea, memberikan ciuman sekilas dibibir ranum kekasihnya.


Arkan sudah memundurkan kepalanya, namun secepat kilat Rea berjinijit melingkarkan tangannya dileher Arkan, manarik kepala laki-laki itu mendekat ke wajahnya, mencium bibir calon suaminya itu lembut tapi lama kelamaan dengan berani membuat ciumannya makin dalam, Arkan tersenyum merengkuh pinggang calon istrinya, meladeni ciuman yang rasanya selalu berbeda setiap kali mereka selesai bertengkar, ada rasa tidak ingin kehilangan yang amat mendalam disetiap detik yang mereka habiskan.

__ADS_1


"Apa kamu bawa uang?" tanya Rea tiba-tiba setelah melepaskan tautan bibirnya.


"Ada bapak sopir taxi yang menunggu didepan rumah, aku tidak bawa uang cash" lanjutnya sambil menyunggingkan senyuman sedikit nyengir ke arah kekasihnya.


Arkan menggandeng tangan gadis sambil merogoh kantong celananya dengan tangan kirinya mengambil dompet untuk diberikan ke Rea.


"Jangan-jangan kamu menciumku sambil membayangkan wajah bapak sopir taxi yang sedang gelisah menunggu ongkos taxi darimu."


"Ish.... ngaco," ucap Rea sambil menggeleng-gelengkan kepalanya merasa geli dengan ucapan Arkan.


Dia berlari keluar halaman rumah kemudian membayar biaya taxi yang tentu saja membengkak karena harus menunggunya lumayan lama.


Ternyata dua hari ini Arkan menginap dirumah yang dia beli untuk mereka, Rea heran saat mendapati didalam kamar yang akan mereka pakai besok sudah terdapat almari baju dan sebuah meja rias, kemudian ia berpikir apakah laki-laki jika sedang ada masalah juga melampiaskannya dengan pergi berbelanja.


"Sayang coba lihat tanganmu," gadis itu menarik tangan kekasihnya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Tante Laras bilang kemarin kamu demam, karena lukamu bengkak, kok bisa sih, emang kamu ngapain sampai bisa kayak gini?" tanya Rea sambil mengusap-usap luka ditangan kekasihnya yang terlihat hanya ditutupi dengan sebuah plester transparan.


"Aku gunakan untuk memukul tembok karena kesal waktu dirumah sakit kemarin."


"Ish.. dasar kayak anak kecil kalau marah mukul-mukul, ini gapapa perbannya kamu buka?" gadis itu terlihat sedikit cemas.


"Gapapa tadi aku pakai perban karena aku main basket takut kotor, lagian bisa-bisanya ngatain orang kayak anak kecil, kamu juga kayak anak kecil tau," balas Arkan sambil mencium kening kekasihnya.


Rea hanya mencebikkan bibirnya sedikit kesal, kemudian naik keatas kasur sambil meluruskan kakinya, menepuk pahanya memberi isyarat ke laki-laki yang sedang berdiri diujung kasur untuk merebahkan diri disana, persis eperti anak kecil Arkan melompat ke kasur kemudian memakai paha Rea untuk bantal sambil memeluk pinggang gadis itu, membenamkan kepalanya diperut ramping kekasihnya.


"Aku benar-benar takut jika kamu kembali ke Elang," ucapnya pelan dengan sedikit keraguan.


"Aku benar-benar takut jika Arkana pergi dariku," jawab Rea sambil mendekap kepala kekasihnya, menciumi rambut laki-laki itu kemudian berbisik ketelinganya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, jangan pernah berpikir lari dariku, atau melepaskanku untuk laki-laki lain."


Arkan tersenyum mendengar kalimat yang diucapkan kekasihnya.


__ADS_2