
Rea pulang kerumahnya, menangis dibawah guyuran air dingin dari shower kamar mandi, merasa dirinya sangat kotor setelah mendapat perlakuan dari Axel, tangannya menggosok kasar tubuhnya seolah jijik dengan dirinya sendiri. Ia benar-benar tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana menghadapi suaminya nanti.
Sinar matahari pagi masuk kedalam kamar dari celah jendela, Axel terbangun mendapati dirinya telanjang tertidur dikamar adiknya, laki-laki itu terkejut menarik selimut kemudian mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, ia melihat piyama Rea yang dia robek semalam teronggok dilantai. Laki-laki itu memegangi kepalanya sambil menjambak kasar rambutnya, kata-kata umpatan keluar dari bibirnya untuk memaki dirinya sendiri.
Sementara Rea masih tidak bisa tidur, gadis itu semalaman hanya terduduk di kasurnya, pandangan matanya kosong, berkali-kali ponselnya berbunyi, baik Arkan dan Axel beberapa kali mencoba menghubungi dirinya.
Arkan menghela napas, merasa bersalah karena kemarin tidak mengangkat telpon dari sang istri. Ia memakan sarapannya dengan sedikit malas karena berpikir Rea sedang marah. Ia berpura-pura menggeser gelasnya yang ada diatas meja saat menyadari ada yang tidak beres, dari pantulan digelas Ia melihat seseorang yang dari kemarin seperti selalu memperhatikan gerak-geriknya.
Laki-laki itu terlihat mengambil foto dirinya lalu keluar dari resto hotel. Arkan meletakkan sendok ditangannya, mengikuti langkah laki-laki itu masuk kedalam lift.
Saat didalam lift Arkan bertanya kepada laki-laki itu siapa dirinya dan kenapa membuntutinya.
Pria itu terdiam sadar akan terjadi masalah jika tidak buru-buru keluar. Ia memencet tombol lift untuk berhenti dilantai tedekat. Namun, Arkan mencekal tangannya.
"Katakan! Siapa yang menyuruhmu?" ucap Arkan.
Ia terkejut saat laki-laki itu menyebut nama sang istri.
Rea masih saja terdiam, dia tidak makan sampai hari mulai petang, memilih mengunci diri didalam kamarnya. Ia merasa benar-benar ternodai oleh perbuatan Axel.
Panggilan dan pesan dari semua orang dia abaikan, sampai keesokan harinya bel rumahnya berbunyi, Ia turun untuk membukakan pintu dengan wajah pucat dan kuyu.
Betapa terkejutnya dia mendapati Arkan sudah berdiri didepannya, laki-laki itu menatapnya dengan mimik khawatir.
Tanpa mengucapkan satu patah katapun dengan lunglai Rea berjalan kembali masuk kedalam kamarnya, Arkan terdiam diambang pintu mengingat pembicaraannya dengan laki-laki yang membuntuti dirinya kemarin.
"Jadi kamu mengirim foto ini ke istriku?" tanya Arkan dengan nada marah melihat foto yang laki-laki itu kirimkan ke Rea.
"Sial! pasti dia mengira aku tengah berselingkuh."
Arkan menghela napas, menutup pintu kemudian mengikuti istrinya masuk kedalam kamar. Melihat Rea yang duduk ditepi ranjang laki-laki itu menekuk lututnya untuk berlutut tepat didepan sang istri.
"Apa kamu marah?" tanya Arkan sambil menggenggam erat tangan Rea.
Istrinya terdiam, Arkan berpikir Rea seperti itu karena melihat foto dirinya dengan wanita lain, sementara Rea diam karena merasa sangat bersalah kepada sang suami dengan apa yang dia alami.
"Ceraikan aku!" ucap Rea, air mata mengalir deras membasahi pipinya.
Arkan terperanjat mendengar permintaan istrinya. Rea terisak sambil memukuli dadanya, suara tangisnya pecah, Arkan merengkuh tubuh Rea, mendekapnya erat.
"Maafkan aku sayang, maafkan aku, tapi jangan mengucapkan kalimat seperti itu aku mohon," pinta Arkan.
Rea hanya menggeleng didada sang suami.
"Sebenarnya aku ditipu temanku, dia pergi dengan semua uang yang aku berikan, wanita yang kamu lihat difoto itu adalah istrinya, aku ingin menemukan temanku maka dari itu aku menemuinya, maaf karena tidak jujur dari awal, aku tidak ingin kamu ikut memikirkan masalahku."
__ADS_1
Rea malah semakin terisak, karena bukan itu yang membuatnya mengeluarkan kalimat yang haram diucapkan pasangan yang sudah menikah. Ia merasa tidak pantas untuk Arkan.
Mereka terdiam masih dalam posisi berpelukan, sampai Rea sudah bisa menghentikan tangisannya Arkan baru melepaskan pelukannya.
"Maaf, kedepannya aku janji tidak akan menyembunyikan apa-apa lagi," bisik Arkan sambil menempelkan keningnya di kening sang istri. Ia lalu mencium lembut bibir Rea.
Gadis itu meneteskan air mata lagi, sambil menggigit bibir Arkan untuk membalas ciumannya, Rea menarik kaus laki-laki yang sangat dicintainya itu, seperti meminta sang suami untuk segera menghapus jejak yang ditinggalkan Axel ditubuhnya.
"Kenapa menangis?" tanya Arkan saat berada diatas tubuh Rea, sejenak menghentikan gerakan pinggulnya, tangannya menghapus buliran kristal yang jatuh berlinang dari mata sang istri.
"Karena aku sangat merindukanmu," jawab Rea lirih. Arkan tersenyum, melarikan bibirnya ke ceruk leher sang istri. Rea hanya bisa memejamkan mata antara menikmati atau masih memendam rasa bersalah yang mendalam ke suaminya.
Mereka berpelukan dibalik selimut, Arkan memeluk istrinya yang sedang membelakangi dirinya, menciumi rambut Rea penuh cinta.
"Sayang," panggil Rea.
"Hem..., ada apa?" Arkan menggeser tubuhnya lalu membalikkan badan Rea untuk menghadap kearahnya.
"Kamu bilang kita tidak boleh menyembunyikan sesuatu kan?"
"Iya." Arkan mendaratkan ciuman dikening sang istri. "Kenapa?"
"Aku sudah melunasi semua hutangmu di bank," ucap Rea sambil membelai pipi laki-laki yang paling dia cintai.
Arkan terdiam, memandangi mata istrinya lekat.
"Terima kasih," ucap Arkan lirih sambil meringsek membenamkan kepalanya di dada Rea "aku mencintaimu," bisiknya.
"Maaf, maaf untuk tidak jujur dengan apa yang terjadi padaku, biarkan saja ini menjadi rahasiaku, aku berdosa, maaf Ar maaf," gumam Rea dalam hati.
Air matanya menetes lagi, membuat sang suami kembali bertanya apa yang ia tangisi.
"Aku kesal, aku pikir kamu berselingkuh," ucap Rea, kali ini gadis itu berkata sambil tersenyum memukul dada Arkan gemas.
Setelah membersihkan diri mereka keluar untuk mencari makan, sebuah restoran cepat saji menjadi pilihan mereka. Arkan yang duduk sambil melahap menu brunch nya heran karena ponsel Rea berbunyi dari tadi, saat istrinya ke kamar mandi laki-laki itu melihat siapa yang menelpon berkali-kali. Melihat nama Axel disana Arkan mengerutkan dahi.
Rea kembali dari kamar mandi, saat akan duduk dikursinya kembali Arkan berkata Axel menelponnya. Gadis itu tiba-tiba gemetaran, berusaha menyembunyikan raut ketakutan di wajahnya.
"Oh mungkin dia ingin mengabari mama sudah pulang." Rea meraih ponselnya, membuat mode silent kemudian memasukkan benda pipih itu kedalam tasnya.
"Apa mama Lidia pergi? jadi kemarin kamu tidak jadi menginap dan bertemu Ale?"
"Iya, Aku tidak jadi menginap." dusta Rea.
Gadis itu membuka ponselnya saat Arkan berhenti untuk mengambil uang di ATM, melihat sebuah pesan dari Axel.
__ADS_1
"Re, Aku ingin bicara, aku ingin minta maaf, aku tidak sadar berbuat seperti itu, aku sudah gila, tolong terima telponku, setidaknya kamu harus mendengarkan permintaan maaf dariku, aku mohon."
Rea mengetikkan pesan balasan untuk kakak tirinya itu.
"Kamu ingin maaf dariku?"
Sebuah balasan langsung gadis itu terima.
"Iya."
"Jangan pernah mengganggu hidupku, berpura-puralah tidak terjadi apa-apa malam itu, aku akan menguburnya dalam-dalam, dan menganggapnya sebagai sebuah mimpi buruk."
Setelah memastikan pesan itu dibaca, Rea lalu menghapus semua pesan itu.
Arkan masuk kembali kedalam mobil, tersenyum sambil memakai sit belt nya.
"Bagaimanapun aku ingin hidup bahagia dengan laki-laki ini karena aku sangat mencintainya," bisik Rea dalam hati.
-
-
-
-
-
-
-
-
-
"Sayang dimana Ferrari mu? kamu tidak menjualnya kan?"
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, kalau kamu menjualnya aku akan membelikanmu yang baru."
"Hahahahaha, terima kasih mobil itu aku masukkan bengkel untuk maintenance rutin."
❤❤❤❤❤
__ADS_1
brunch : breakfast and lunch (makan diantara sarapan dan makan siang)