
Rea bangun menatap ponselnya yang tergeletak diatas nakas samping kasurnya, melihat apakah ada pesan dari Arkan, gadis itu terlihat menghembuskan nafas kecewa, berjalan ke kamar mandi mempersiapkan diri untuk pergi bekerja.
Rea sudah menenteng tas, memegang kunci mobil dan ponsel ditangannya, tapi ia masih sibuk berkaca memastikan penampilannya, mata gadis itu melihat ponsel ditangannya sekali lagi, masih tidak ada pesan atau panggilan dari laki-laki yang dia harapkan.
"Baiklah, kita lihat siapa yang paling kuat bertahan," ucap Rea
Gadis itu membawa mobilnya keluar apartemen, seperti biasa berbelok dulu ke restoran cepat saji untuk membeli sarapan, baginya sandwich sudah menjadi makanan favorit selain nasi uduk buatan calon mertuanya, saat berhenti dilampu merah ia menatap paperbag coklat berisi sandwich yang dia beli, memikirkan seseorang yang membuatnya begitu menyukai roti isi selada itu.
"Kenapa sudah lama dia tidak ada kabar?"
Sampai di hotel gadis itu langsung bersiap untuk mengikuti rapat koordinasi acara pernikahan putri Gubernur yang akan berlangsung esok hari, Agni selaku General manager memimpin rapat pagi itu, dia memastikan semua sudah terkoordinasi dengan baik, dan para staff sudah paham dengan tanggung jawab mereka masing-masing.
Setelah dinilai cukup Agni mempersilahkan staff nya untuk melanjutkan pekerjaan mereka, Rea melipat laptop dan merapikan kertas catatan yang ada didepannya, sudah hendak berdiri, tetapi Agni terlanjur membuka mulutnya, gadis itu mengurungkan niatnya dan kembali duduk manis dikursinya.
"Kamu masih ingat Re? wanita di kamar nomor 716," tanya Agni
"Iya mba"
Hubungan mereka sudah sangat akrab, Rea memanggil atasannya itu dengan sebutan mba bukan bu ketika hanya berdua.
"Ternyata suaminya masuk kehotel bukan bersama dia, tapi dengan selingkuhannya, wanita itu datang ke hotel memergoki, kemudian mereka bertengkar hebat didalam kamar, alih-alih menenangkan istrinya , suaminya malah pergi keluar hotel bersama selingkuhannya"
Rea hanya terdiam.
"Dan kamu tau, itu juga terjadi ke aku, sudah hampir 3 bulan ini aku tau suamiku memiliki wanita lain, tapi sial bahkan saat dia memintaku melayaninya aku tetap melakukannya, berpura-pura bahwa aku tidak tau dia berhianat dibelakangku"
Rea membelalakkan manik matanya, terkejut dengan cerita Agni soal suaminya tadi, mulutnya beku tidak tau harus berkata apa.
"Semua laki-laki sama, berkata mencintaimu, kamulah satu-satunya wanita untuk dirinya, tapi setelah menikah dan mendapatkan mu, ternyata ditengah jalan hati mereka bisa berbelok kearah lain, " ucap Agni yang tanpa sadar membuat gadis yang kurang lebih delapan bulan lagi akan menikah itu menjadi cemas.
"Sudahlah, apapun yang terjadi hidup harus tetap berjalan dan dihadapi, lanjutkan pekerjaan mu," perintah Agni sambil menghela napasnya.
Rea menganggukkan kepala.
"Kapan-kapan kita keluar yuk buat ngopi," ajak Agni
"Siap mba, kalau mba Agni butuh teman curhat atau bantuan aku pasti akan selalu ada," Rea menjawab dengan senyuman, menyembunyikan apa yang dia rasakan setelah mendengar cerita Agni tadi.
***
Semua orang yang ada di hotel benar-benar sibuk menyiapkan acara besok pagi, pasti banyak media yang akan meliput, jadi mereka berusaha menunjukkan yang terbaik agar citra hotel tetap terjaga.
__ADS_1
Rea masih sibuk di ballroom untuk memastikan sekali lagi semua sudah sesuai seperti permintaan klien nya, dia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul sepuluh malam, gadis itu bergegas keluar bersiap untuk pulang karena sudah merasa sangat lelah dan mengantuk.
"Dia benar-benar ya, sehari ini tidak menanyakan kabarku," gumam Rea sambil melihat ke layar ponselnya.
Muncul ide dikepala Rea, melihat lobby yang sepi gadis itu mengambil foto, kemudian membuat status di salah satu aplikasi chat yang biasa dia gunakan.
Ngantuk,capek banget hari ini
Tulisnya, tidak lupa untuk lebih mendramatisir dia bubuhi kalimat itu dengan emoji lelah.
Kemudian bibirnya terlihat mulai berhitung "satu...duaa...ti...."
Benar saja HPnya langsung berbunyi, orang yang dia harapkan mengirim pesan kepadanya dari tadi pagi menelpon, suaranya terdengar cemas.
"Jam berapa ini? kenapa masih disitu, jangan kemana-mana, aku akan menjemput mu!" perintah Arkan yang buru-buru mematikan telpon.
Rea tersenyum senang, kemudian berjalan keluar lobby, melihat beberapa orang yang sedang menata bunga papan ucapan selamat kepada mempelai yang akan melangsungkan acara pernikahan besok, terlihat jelas bahwa pengirimnya adalah para petinggi dan pengusaha, tertulis jelas disana selamat berbahagia untuk Selena dan Axel.
Selang beberapa menit Arkan sampai, Rea tidak langsung mendekat untuk masuk kedalam mobil, sampai laki-laki itu turun kemudian menariknya, membukakan pintu mobil dan menyuruh ia untuk segera masuk.
"Apa kamu ga pengen......."
"Aku ga pengen tau siapa nama calon suami Selena, Oke!" lanjut Arkan sedikit marah.
Rea memang ingin berkata seperti itu tadi, tapi karena sudah bisa ditebak kekasihnya muncul ide untuk menggoda Arkan.
"Padahal aku pengen bilang, apa kamu ga pengen menginap di apartemen ku malam ini?," ucap Rea.
Raut wajah laki-laki itu seketika berubah sumringah "Kenapa tidak langsung
bilang tadi?," ucapnya antusias.
****
Sampai apartemen Rea langsung mengambil baju ganti, berjalan masuk ke kamar mandi, membiarkan Arkan yang langsung merebahkan diri diatas kasur miliknya.
Gadis itu keluar dari kamar mandi kemudian duduk didepan meja riasnya, menyisir rambut hitamnya dan mengoleskan skincare ke wajahnya.
"Kamu ngapain disitu?" tanya Rea sambil menepuk kedua pipinya agar skincare yang dia pakai benar-benar terserap kulit wajahnya.
"Katanya aku boleh menginap di sini"
__ADS_1
"Aku bilang boleh menginap tapi aku ga bilang tidur dikamarku" Rea berkata sambil merebahkan badannya disamping Arkan, alhasil laki-laki disampingnya langsung bergeser memeluknya.
"Terakhir badanku sakit semua tidur dikarpet" sambil mencium pipi Rea.
"Kamu tidak kasihan?" Arkan memasang muka memelas.
Rea memiringkan badannya menghadap ke arah kekasihnya.
"Baiklah tidur disini saja, lagian kamu juga tidak akan bisa macam-macam, tamuku sedang datang"
"Pantas dari kemarin gampang marah" Arkan membelai rambut Rea kemudian mengecup kening gadis itu.
"Tadi kamu kemana aja selain ke pabrik, jadi ke butik untuk fitting baju ga?," tanya Rea sambil memainkan jari telunjuknya didada bidang Arkan.
"Jadi, Steve juga memperlihatkan design kebaya dan gaun milikmu, aku tidak bisa membanyangkan bagaimana cantiknya kamu besok" puji Arkan sambil menopang kepala menggunakan tangannya.
Gadis itu tersenyum, mengangkat sedikit kepalanya, mencium bibir Arkan sekilas.
"Oh ya kapan kita mau mulai belanja perabotan dan furniture rumah?" tanya Arkan
"Terserah, aku ikut aja" Rea menarik lengan Arkan untuk berbaring agar ia bisa membenamkan kepalanya didada calon suaminya itu, lalu memeluknya.
"Aku masih tidak percaya, menyiapkan acara pernikahan orang yang pernah menyukai calon suamiku, menyiapkannya dengan sepenuh hati lagi," Rea menghembuskan napasnya kesal.
Arkan tersenyum kemudian berbisik "aku senang kamu merasa cemburu, artinya kamu benar-benar menginginkan aku"
Rea terhenyak dengan kata-kata itu , melepaskan pelukannya, menjauhkan wajahnya.
"Kamu masih berfikir aku tidak benar-benar mencintaimu kan?" tanya Rea
"Bukan begitu, hanya saja aneh buatku kamu sama sekali tidak pernah mengatakan mencintaiku" Arkan membelai pipi gadis didepannya yang sudah terlihat marah lagi.
Rea tidak bicara apa-apa, langsung membalik kan badannya membelakangi Arkan, ia tau gadis itu sedang sensitif kemudian memeluknya dari belakang, membenamkan wajahnya di punggung gadis itu.
"Tuh kan, marah lagi, jangan marah Re"
"Aku ga marah, aku hanya kawatir kalau acara besok tidak berjalan sesuai rencana"
"Semua akan baik-baik saja, tidak perlu terlalu cemas" ucap Arkan sambil mempererat pelukannya.
Mereka berdua sama-sama lelah dan akhirnya tertidur.
__ADS_1