Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 7


__ADS_3

Rea bangun terkejut, dia pikir terlambat, melihat kesamping Arkan sudah tidak ada. Tapi kemudian laki-laki yang dia cari keluar dari dalam kamar mandi.


"Aahhhh keluar.., aku ga mau kamu lihat muka bantalku," teriak Rea


Arkan hanya tertawa, karena dia sudah melihat muka bantal Rea dari tadi.


"Apa yang membuatmu malu? sebentar lagi juga muka itu akan aku lihat setiap pagi" ledek Arkan


Rea malu kemudian berlari masuk ke kamar Mandi.


*****


Arkan memilih mengantar Rea ke hotel terlebih dulu, baru dia pulang untuk mandi, gadis itu terlihat berdandan dan memakai baju yang sedikit berbeda dari biasanya, mungkin karena akan ada acara besar di hotel tempatnya bekerja hari ini.


Sesampainya di hotel, benar saja semua orang sudah sibuk menyiapkan segala sesuatu sebagai final preparation sebelum acara. Rea berpamitan kepada calon suaminya, dan meminta didoakan agar acara pernikahan gadis yang pernah menyukainya itu berjalan lancar, meskipun setengah terpaksa mengucapkan nama Selena.


"Heh apa aku sudah gila cemburu dengan gadis yang beberapa jam lagi menjadi istri orang."


Diluar sudah ada beberapa media yang akan meliput, terlihat sebuah mobil mewah tanpa plat nomor berpita merah, mungkin mahar yang diberikan mempelai pria. Rea hanya tersenyum melihat mobil itu membandingkan dengan dirinya yang bahkan sudah dibelikan rumah oleh calon suaminya.


Rea memastikan semuanya sudah oke, kemudian menemani Agni menemui keluarga mempelai perempuan, sekedar menyapa dan mendoakan agar acaranya lancar. Rea melirik ke arah mempelai wanita yang terlihat cantik, memakai gaun pengantin yang akan menjadi saksi ketika mengucap ikrar Janji sehidup semati dengan laki-laki yang dia cintai beberapa menit lagi, tapi Rea malah sekilas melihat keanehan diwajah gadis itu.


Agni dan Rea pamit meninggalkan ruangan, gadis itu berkata kepada atasannya kalau ekspresi wajah mempelai wanita terlihat sedikit aneh


"Semua gadis pasti akan seperti itu saat akan melangsungkan pernikahan, cemas, grogi dan kekawatiran yang tidak perlu berkumpul menjadi satu di kepala mereka," ujar Agni


Rea hanya mengiyakan karena dia juga belum pernah berada diposisi itu. Dia melirik jam mungil di pergelangan tangannya, berjalan masuk kedalam ball room berdiri merapat disamping Reza yang bertugas sebagai koordinator acara, tamu undangan untuk akad terlihat sudah duduk dikursi mereka, nampak seorang pria gagah yang mengenakan setelan jas berwarna navy dengan ornamen bunga di kantong mendekat menyalami bapak ibu Gubernur.


"Pasti calon mempelai pria," bisik Rea ke Reza


Tiba-tiba seorang staff masuk memegangi ujung sepatu nya meringis kesakitan.


"Kenapa?" tanya Reza


"Sepertinya seorang tamu meletakkan koper sembarangan didekat lift, saya tidak liat dan menendangnya dengan keras Pak"


"Kemana bell boy? kenapa ada koper didepan lift, kemana...."  Rea belum sempat melanjutkan kalimatnya karena kaget.


Seorang laki-laki berbadan tegap dengan setelan jas hitam mendobrak pintu masuk berlari mendekat ke arah orang tua calon pengantin, raut muka mereka seketika berubah setelah laki-laki itu terlihat membuka mulutnya mengucapkan sesuatu, bu Gubernur terlihat memegangi kepalanya, wanita itu roboh , Rea merasakan sedang ada yang tidak beres, memandang ke arah staff yang berdiri didekat sana, staff itu berlari menghampiri Rea dibelakang.


"Kenapa?" tanyanya sedikit kawatir

__ADS_1


"Calon pengantin wanitanya kabur," jawab staff itu dengan nafas tersengal.


"Apa?" sontak semua orang yang berdiri dibelakang terkejut.


Semua tamu baik yang sudah duduk maupun yang baru datang memperlihatkan ekspresi kebingungan, situasi benar-benar kacau sekarang, akhirnya dengan pengertian pihak keluarga semua tamu mau tidak mau satu persatu meninggalkan ruangan, mempelai pria pasti sangat kecewa, apalagi orang tua mempelai wanita, pasti merasa seperti dilempar kotoran oleh putrinya sendiri. dipermalukan seperti itu, bahkan ibunya sampai pingsan dan dibawa untuk menenangkan diri di kamar hotel.


Ruangan sudah sepi, Rea dan staff nya beranjak keluar ruangan, Rea berjalan paling belakang berbalik menatap punggung mempelai pria yang sedang duduk dikursi nya sendirian.


"Pasti dia terpukul sekali, semoga dia tidak mencoba melukai dirinya sendiri."


Belum sampai badan Rea berbalik sempurna untuk melangkah keluar pintu, tiba-tiba suara pecahan yang begitu nyaring menggema diruangan yang sudah sepi itu.


"Pyarrrrrrrr....... "


Rea berbalik melihat vas bunga besar milik vendor sudah berserakan di lantai, Ia berlari ke arah mempelai pria yang sudah memegang sebuah vas besar diatas kepalanya ingin memecahkan vas untuk yang kedua kali.


"Jangan tuan aku mohon" Rea mendongak sambil memegang kedua tangan mempelai pria yang dia tau bernama Axel itu, berharap laki-laki itu tidak melakukan tindakan yang merugikan lagi.


"Jangan vas ini kumohon, ini milik vendor dan harganya sangat mahal,"


Staff yang juga mendengar bunyi pecahan benda dari dalam ruangan kembali masuk kedalam, berlari ingin membantu Rea menenangkan mempelai pria yang pasti sangat terpukul ditinggal lari dihari pernikahannya itu.


"Aku sudah bilang kalau tidak menginginkan perjodohan konyol ini lebih baik bilang tidak dari awal," ucap pria itu


Vas kedua pecah, bunga didalamnya berhamburan ke lantai bersama pecahan benda yang terbuat dari keramik itu, membuat Rea melepaskan tangan dan memundurkan badannya menjauh dari laki-laki itu, staffnya yang tengah berlari seketika berhenti.


Pria itu sedang berusaha menguasai emosinya, dari caranya bernafas terlihat jelas dia sedang murka, ia pergi tanpa memperdulikan atau sekedar menatap wajah Rea, berjalan melewati staff yang masih terkejut, kakinya menendang sebuah kursi dengan kesal sampai terjungkal.


****


Arkan berkali-kali mencoba menghubungi Rea, dia mendengar dari temannya kalau Selana melarikan diri dari pernikahnnya. Laki-laki itu memikirkan kekasihnya yang sekarang pasti sangat kecewa karena dia tau bagaimana usaha Rea menyiapkan acara pernikahan itu.


Dia melirik jam tangannya berpikir pasti gadis itu belum makan, Arkan mengambil jas yang tergantung di dekatnya kemudian keluar dengan sedikit berlari, tanpa berkata apapun kepada staff nya yang dibuat bingung bagaimana kalau nanti ada yang bertanya kemana atasannya pergi.


Arkan membawa mobilnya menuju ke hotel tempat Rea bekerja, disana dia melihat hotel sudah sepi, beberapa orang terlihat menyingkirkan papan bunga berucapkan kalimat selamat kepada pasangan pengantin yang gagal menikah hari itu.


Arkan masuk, menanyakan keberadaan Rea kepada resepsionis , lalu berlari tergesa menuju ballroom tempat yang disebutkan resepsionis tadi.


Laki-laki itu masuk melihat beberapa orang sibuk mengeluarkan meja, kursi dan sound system dari ruangan, matanya berkeliling kemudian berhenti setelah melihat gadis yang dicemaskannya sedang berdiri mematung sambil memandang pelaminan megah didepannya.


Arkan mendekat, meraih tangan gadis itu untuk dia genggam.

__ADS_1


"Ar, dia kabur tepat sebelum acara di mulai, bagaimana kalau itu terjadi padaku?" gadis itu menatap ke arah laki-laki disampingnya yang juga sedang memandangi kursi pelaminan dihadapannya.


"Maksudmu apa? mana mungkin aku kabur darimu? Apalagi dihari pernikahan kita nanti, hari yang sudah aku tunggu hampir seumur hidupku" Arkan mempererat genggaman tangannya.


"Lihatlah yang Selena perbuat, mencampakan calon suaminya, mempermalukan orang tuanya, bahkan membuang uang yang jumlahnya tidak mungkin kurang dari lima milyar, bahkan gardena dan calla lily itu kami cari sampai ke luar negeri," ucap Rea memandangi bunga-bunga cantik yang terbuang sia-sia.


"Mungkin hotel tidak dirugikan secara materi, tapi aku yakin semua yang terlibat demi lancarnya acara ini merasa kecewa sama seperti dirimu," ucap Arkan.


"Apa pernikahan semenakutkan itu untuknya? sampai dia berani kabur dan membuang semua. "


"Aku tidak bisa menjawab, karena aku bukan Selena, yang pasti aku bisa menjanjikan satu hal padamu, aku tidak akan kabur dihari pernikahan kita, aku akan selalu disisimu dan berjanji selalu membuatmu bahagia," ucap Arkan.


Tanpa terasa air mata Rea menetes, perasaan dihatinya sudah campur aduk tak karuan.


"Kamu nangis?" tanya Arkan


Rea menyeka air matanya yang terus menetes.


"Bagaimana ini, lagi-lagi aku tidak bisa berhenti menangis," seru Rea berusaha menghapus air mata di pipinya.


"Dasar kebiasaan" Arkan menarik tubuh calon istrinya itu, memeluknya erat.


Memang kebiasaan Rea terbilang aneh, kalau dia merasa terlalu sedih atau terlalu seneng tiba-tiba saja dia menangis, meskipun sudah berusaha mengendalikan perasaannya air matanya masih tidak mau berhenti menetes sampai ada orang yang memeluknya.


"Jangan menangis seperti ini didepan orang lain, oke," bisik Arkan ketelinga Rea


"Kenapa?" tanya Rea dengan suara parau, sambil menyeka air matanya yang masih tidak mau berhenti menetes.


"Karena aku tidak ingin ada yang menenangkanmu seperti ini, selain aku," jawab Arkan sambil masih memeluk tubuh gadis itu.


*


*


*


*


*


*

__ADS_1


Terima Kasih buat kalian yang sudah mau lanjut baca tulisan aku 💕 jangan lupa LIKE dan KOMENTAR, jika berkenan VOTE juga cerita ini


__ADS_2