Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 36


__ADS_3

Arkan sudah berdiri didepan pintu kamar Rea, gadis itu masih sibuk berdandan setelah sebelumnya meminta ijin ke Celine untuk tidak ikut pulang karena akan tinggal lebih lama liburan bersama calon suaminya.


Rea dan Arkan menyewa sebuah mobil dibantu pihak hotel tempat mereka menginap, mereka mengunjungi sebuah obyek wisata berbentuk taman dengan beberapa kolam pemandian yang dulunya adalah tempat mandi para dayang sebuah kerajaan yang pernah berdiri disana.


"Kamu lihat jendela diatas sana?" Arkan menunjuk satu jendela dengan tangannya.


"Konon katanya, dulu sang raja duduk dibalik jendela itu melihat para dayangnya mandi disini," cerita Arkan.


"Untuk apa?" tanya Rea penasaran.


"Untuk memilih siapa yang akan menemaninya menghabiskan malam untuk hari itu," jawab Arkan.


"Wow keren ya, bukankah dia pasti sudah punya ratu dan selir," ucap Rea.


Arkan tersenyum, melihat kekasihnya sama sekali tidak tertarik dengan cerita yang berbau wanita lain untuk seorang pria.


"Kamu tidak suka mendengar cerita seperti itu?" tanya Arkan sedikit berlari menyusul Rea yang sudah berjalan menjauh.


"Bukannya kamu suka nonton drama perselingkuhan?" goda Arkan.


"Drama hanya drama sayang, kalau ceritamu tadi meskipun konon katanya tapi ada di kehidupan nyata" Rea memberi alasan.


Arkan menyambar tangan calon istrinya, menggandengnya erat, gadis itu tersenyum mendapat perlakuan seperti itu dari kekasihnya.


"Sepertinya sudah tidak ada yang bisa kita lihat," ucap Arkan saat mendapati mereka sudah ada diujung tempat wisata itu.


"Mau kemana lagi kita?" tanya Arkan ke Rea


"Sayang," gadis itu memanggil kekasihnya lembut.


"Hem, apa?"


Rea sedikit ragu, tapi dia tidak mungkin tidak memberitahu Arkan soal pertemuannya dengan Elang.


"Aku bertemu Elang," ucap Rea.


Wajah Arkan sedikit terkejut "Dimana?"


Sontak Rea merasa serba salah dengan pertanyaan calon suaminya itu.


"Di kafe tante Maya."


"Apa kamu pergi kesana?"


Rea menganggukkan kepalanya, laki-laki itu sudah menduga pasti kekasihnya akan datang ke tempat yang penuh kenangan antara dia dan Elang saat berada dikota ini.


"Apa kamu masih memikirkan Elang? apa kamu merindukannya sampai harus datang kesana? " pertanyaan Arkan jelas mengandung nada tidak suka, apalagi melihat Rea hanya terdiam membuat dia semakin berpikir kekasihnya masih menyimpan perasaan pada kakaknya.


"Sayang, apa aku boleh bilang kalau sekarang aku merasa cemburu?" ucap Arkan.


Rea menatap mata Arkan lekat, tangannya menggenggam erat tangan calon suaminya itu "Maaf, tapi kamu tau kan aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa ke dia."


Arkan hanya diam, ia sebenarnya ragu.

__ADS_1


"Kalau jujur malah membuatmu seperti ini, aku benar-benar merasa menyesal sudah bercerita," Rea menundukkan kepalanya.


Arkan membelai pipi gadis itu "Terima kasih sudah jujur, tapi apa menurutmu aku tidak berhak cemburu?, aku ini juga sedang jujur dengan apa yang aku rasain Re."


Gadis itu terdiam, memeluk pinggang Arkan kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Ayo kita pergi ke pantai!"


" Kenapa tiba-tiba ingin pergi ke pantai?" tanya Arkan heran.


"Ada hotel didekat pantai yang aku datangi kemarin saat acara Celine, saat aku cari di internet hotel itu punya banyak kamar dengan kolam renang pribadi yang langsung menghadap ke samudra lepas."


Arkan terlihat sangat tertarik "Jadi apa mau kembali dulu ke hotel lalu check out? dan untuk sehari besok kita menginap disana saja?" tanyanya.


Rea mengangguk mengiyakan ide dari laki-laki yang tadi berkata tengah cemburu tadi.


Akhirnya mereka kembali ke hotel, mengemasi barang-barang mereka kemudian pergi menuju pantai dan pindah hotel yang Rea ceritakan.


Saat masuk kedalam hotel tanpa bertanya berapa kamar yang akan mereka pesan, resepsionis langsung berucap "satu kamar ya Pak" sambil tanggannya mengetikkan sesuatu, mungkin dia pikir Arkan dan Rea adalah pasangan suami istri yang sedang pergi berbulan madu.


Arkan sudah hampir menyela omongan si resepsionis, tapi Rea memegang lengan tangannya "Biarin" bisiknya tanpa bersuara.


Arkan hanya tersenyum kemudian menerima kunci kamar, seorang bell boy membantu mereka membawa barang masuk ke kamar.


Setelah masuk Rea membuka pintu kaca menuju kolam renang diluar kamar yang memang benar-benar menghadap ke samudra lepas. Sementara Arkan duduk di kasur memandangi calon istrinya dari belakang, mendekat kemudian memeluk pinggang gadis itu.


"Kenapa minta satu kamar, kita kan bisa pesan dua, hem..., kalau terjadi apa-apa malam ini apa kamu siap menanggung amarah orang tua kita,"


Rea hanya terdiam, dipikirannya dia memang berencana menyerahkan mahkotanya jika Arkan mau, untuk menepis keraguan dihati calon suaminya, pun untuk membuatnya benar-benar menjadi milik laki-laki itu seutuhnya, seolah dia memiliki dosa kepada Arkan dan hanya bisa dia tebus dengan memberikan tubuhnya.


"Jam berapa?" tanya Rea.


"Hampir setengah lima sore, apa mau berenang? bagaimana kalau pesan floating food" tanya Arkan.


"Boleh" Rea memutar badannya melihat Arkan yang sudah meraih gagang telpon untuk memesan makanan.


Rea sedang berganti baju renang dikamar mandi ketika floating food pesanan mereka datang, pelayan hotel meletakkan secara hati-hati nampan berisi makanan dan minuman itu disamping kolam ranang, karena Arkan bilang ingin berenang dulu.


Arkan mengunci pintu setelah pelayan tadi keluar, membuka Jubah mandinya, laki-laki itu terlihat hanya menggunakan celana renang kemudian mulai masuk kedalam kolam. Rea keluar dari kamar mandi tidak memakai jubah mandinya, gadis itu memakai bikini two pieces yang dia bawa, yang belum sempat dia pakai karena kemarin dia memilih memakai model one piece saat pesta Celine, mengikatkan selandang pantai di pinggangnya, berdiri bersandar pada pintu kaca sambil memandangi Arkan yang sedang berenang.


Arkan berhenti berenang memilih bersandar diujung kolam, mengusap wajahnya yang basah, menyibakkan rambutnya, melihat gadis disebrang sana, yang sedang berdiri didekat pintu dengan perut datarnya yang terekspos, melepaskan selandang pantai nya, berjalan bak model kemudian pelan-pelan masuk ke kolam.


.


"My sexy girl" gumam Arkan, bibirnya tersenyum.


Rea berenang menuju Arkan, setalah kepalanya naik dia menyandarkan punggung nya sama seperti yang Arkan lakukan, laki-laki Itu tersenyum ke arah gadis disampingnya, gadis itu berbalik memandangi samudra lepas melihat ombak yang berkejaran ditengah samudra, Arkan memeluk kekasihnya dari belakang, mencium pundak gadis itu yang terbuka.


"Apa kamu sudah memikirkan mau kemana saat bulan madu kita?" tanya Arkan.


Rea membalikkan badannya " Maldives" jawabnya.


Arkan tersenyum, mendaratkan bibirnya ke bibir ranum Rea. Gadis itu memegang tengkuk kepala Arkan, menikmati setiap desiran yang muncul dari dalam dirinya.

__ADS_1


"Ini benar-benar romantis" ucap Rea sesaat setelah melepaskan bibirnya dari Arkan, laki-laki itu terlihat memejamkan mata, begitu menikmati atau mungkin berusaha mengerem nafsunya.


Matahari mulai terlihat terbenam, Arkan menaikkan badan Rea dari atas kolam, sementara dia masih berada didalam, pergi ke pinggir kolam menarik floating food pesanannya tadi mendekat ke arah mereka.


Mereka pun menikmati makanan dan minuman sambil sesekali bercanda.


"Sayang" ucap Rea sambil meletakkan gelas juice yang belum habis dia minum.


"Hem" Arkan melirik kearah gadis itu sambil masih menenggak minumannya.


Tangan Rea menjauhkan nampan besar yang mengambang diatas kolam renang itu, lalu dia masuk kedalam air, berdiri didepan badan kekar calon suaminya, meraih pinggang Arkan, laki-laki itu terlihat meletakkan gelasnya.


"Apa?" tanyanya lembut jarinya merapikan rambut Rea yang basah terkena air.


"Jawab aku"


"Apa?”


"Kenapa kamu sepertinya selalu berpikir kalau aku selama ini tidak mencintaimu?"


"Karena kamu tidak pernah sekalipun berkata mencintaiku."


Langit sudah nampak akan berubah menjadi senja, Rea lebih mendekat ke arah Arkan, sedikit berjinjit merengkuh tengkuk Arkan dengan kedua tangannya, mencium bibir laki-laki itu.


"Tapi kamu tau kan bagaimana perasaanku ke kamu, apa kamu tidak benar-benar merasakannya? kenapa kamu sepertinya selalu ragu?" Tanya gadis itu.


"Aku...." Arkan tidak sempat melanjutkan kalimatnya karena terpotong ucapan Rea.


"Aku mencintaimu."


Kalimat cinta yang selama ini ingin Arkan dengar muncul secara mulus dari bibir Rea, sontak mata Arkan berbinar, laki-laki itu merasa berbunga-bunga, hatinya amat sangat bahagia, apalagi melihat tatapan mata dari gadis yang sangat dicintainya.


Mereka saling memandang satu sama lain, gadis itu mengucapkan lagi kalimat yang selama ini ingin didengar oleh calon suaminya.


"Aku mencintaimu Arkana, sangat mencintaimu, bahkan aku sampai merasa bisa mati tanpa kamu."


"Aku..." sekarang Rea yang tidak bisa melanjutkan kalimatnya, Arkan sudah mengunci bibirnya dengan ciuman, mengecupi bibir itu berkali-kali, mendorong badan Rea terpojok ke ujung kolam, masih menciuminya sampai matahari benar-benar terbenam.


Setelah mandi dan berganti baju, mereka berbaring diatas ranjang saling berhadapan, bibir Arkan tak henti-hentinya tersenyum.


"Kenapa sih senyum-senyum?" tanya Rea penasaran "ada yang salah ya di mukaku? "


Arkan menggelengkan kepala


"Aku sedang bahagia" laki-laki itu mencium bibir Rea sekilas lalu kembali tersenyum


"Apa kamu bisa mengucapkan kalimat itu lagi?" pintanya.


"Aku mencintaimu" ucap Rea menuruti permintaan kekasihnya.


Arkan merengkuh badan Rea memeluk gadis itu, lalu menciumi keningnya.


"Aku ga tau kenapa tapi aku suka dengan baumu," ucap Rea sambil membenamkan kepalanya ke dada Arkan.

__ADS_1


"Bau kasih sayang" ucapnya yang membuat Arkan tersipu.


__ADS_2