Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 37


__ADS_3

Happy reading 💕💕 semoga terhibur


-


-


-


-


-


-


-


-


Rea sedang berada dikamar mandi, dia dan Arkan berencana jalan-jalan sebelum nanti malam pulang kembali ke kota mereka. Dering ponsel Rea beberapa kali terdengar, tapi gadis itu masih sibuk membersihkan badannya.


Arkan mendekat, mengambil ponsel itu dari ranjang, melihat sebuah nama yang sedari tadi menelpon kekasihnya, laki-laki itu membawa HP dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang, ada telpon."


"Biarkan saja, sebentar lagi aku selesai."


Rea keluar dengan rambut yang masih basah meraih HP yang disodorkan Arkan ke dirinya, melihat sebuah nama kemudian menatap ke arah laki-laki yang udah berbalik sibuk mencari baju ganti di kopernya. Arkan mendekat kemudian mencium pipi Rea sekilas.


"Katakan iya jika dia mau bertemu," ucap Arkan sebelum masuk ke kamar mandi


Lagi-lagi ponsel Rea berbunyi.


Rea :"Halo"


Elang :" Hei apa kamu sudah pulang?kenapa tidak membalas pesanku?"


Sebenarnya dia tidak sempat memegang HPnya sama sekali dari kemarin.


Rea :" belum, aku baru akan pulang nanti malam, karena Arkan menyusul kesini"


Elang terdiam untuk beberapa saat.


Rea :"Halo, Lang apa kamu masih disitu?"


Elang :"Ah.. Iya, sebenarnya mama ingin mengundang kamu makan, kalau nanti malam kamu harus sudah pulang, apa bisa siang ini? kalau kamu tidak sibuk tentunya"


Rea:"apa aku boleh mengajak Arkan?"


Elang:" tentu, ajak lah dia"


Rea :"apa alamat rumahmu masih sama seperti yang dulu?"


Elang:"Masih, kalau kamu lupa nanti aku kirim lokasinya via chat"


Rea:" Baik, nanti kalau sudah mau jalan kesana aku kabari, sampaikan salam ku ke tante Maya, om Banyu dan Bumi ya"


Elang :"oke, see you"

__ADS_1


Rea menutup telponnya, sedikit cemas apakah Arkan akan marah. Laki-laki itu keluar dari kamar mandi melihat Rea duduk diatas kasur, menatap nya dengan pandangan penuh tanda tanya.


"Kenapa menatapku seperti itu? " tanya Arkan sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


"Kamu ga cemburu, Elang barusan menelpon."


"Aku tau, aku sudah lihat tadi."


"Dia mengajak kita makan siang dirumah nya dan aku mengiyakan."


"Baguslah, aku juga ingin bertemu dia, tidak ada salahnya kan bertegur sapa dengan orang yang pernah dicintai kekasihmu," sindir Arkan.


Rea mencebikkan bibirnya gemas, Arkan hanya tersenyum melihat kekasihnya itu.


"Aku sudah mendengar dengan jelas kamu bilang mencintaiku, jadi rasa cemasku sudah sedikit hilang,"


"Kenapa cuma sedikit, harus nya sudah hilang semua donk?" Rea terlihat cemberut.


"Apa kamu mau ini, agar cemasmu hilang seluruhnya?" Gadis itu sudah hampir membuka jubah mandinya didepan Arkan.


Arkan memegang tangan Rea, menghentikan gadis itu untuk tidak melakukan apa yang sedang dia coba lakukan.


"Sana ganti baju, jangan berbuat macam-macam, atau aku akan benar-benar tidak bisa mengendalikan diri dan menerkammu, " ancam Arkan yang malah membuat Rea tertawa.


******


Dengan memakai taxi siangnya mereka berdua sampai di rumah Elang, Maya menyambut mereka dengan hangat begitu juga dengan suaminya. Mereka saling menanyakan kabar kemudian meminta Rea dan Arkan masuk ke ruang tengah, disana Rea melihat sebuah piano kemudian bertanya.


"Siapa yang bermain piano tante?"


"Oh ya bagaimana kabar Bumi tante? Sekarang pasti sudah sebesar Aryan, Iya kan sayang?" ucap Rea ke arah calon suaminya yang juga ikut berjalan dibelakang nya tadi.


"Bumi sekarang Kelas 3 SMP."


"Oh sama, Aryan adik Arkan juga kelas 3 SMP."


"Bagaimana kabar ayah dan mama mu?" tanya Banyu.


"Baik Om, mama mau menikah lagi."


Sontak kedua pasangan suami istri itu saling pandang.


Elang terlihat keluar dari dalam, tersenyum memandang Rea kemudian memeluknya, beralih ke laki-laki didekat adiknya, bersalaman kemudian berpelukan layaknya laki-laki saat bertemu temannya.


"Lama ga ketemu bro," ucap Elang.


Arkan tertawa " 7 tahun lebih iya kan?"


Elang menganggukkan kepalanya, Rea tersenyum melihat kedua laki-laki yang sama-sama spesial baginya terlihat begitu akur.


Maya kemudian mempersilahkan mereka untuk duduk dimeja makan, mulai menjelaskan apa saja yang dia masak khusus untuk Rea, mereka berbincang setalah selesai menikmati makan siang nya.


"Sabtu besok aku sama Mas Arkan mau lamaran om tante," kemudian menatap Elang.


"Kalau om sama tante dan Mas Elang ada waktu, aku akan senang kalau kalian bisa datang."


Arkan terkejut mendengar imbuhan Mas yang Rea pakai untuk menyebut nama Elang, sebaliknya Elang juga terkejut Rea memanggil Arkan dengan sebutan Mas.

__ADS_1


"Om sama tante usahakan ya," jawab Banyu.


Maya dan Banyu kemudian pamit untuk menjemput Bumi dari tempat les nya, meninggalkan ketiga orang itu dimeja makan.


"Apa kamu tidak ingin mengambil alih salah satu bisnis om Farhan Lang?" pertanyaan Arkan memecah kecanggungan diantara mereka beritiga.


"Ingin, aku sedang mempelajari beberapa perusahaan ayah yang sekiranya menarik untuk aku kelola," jawab Elang


"Oh ya, apa kamu tidak bekerja Re?" tanya Elang ke adiknya.


"Hem... Aku baru saja dipecat, sekitar sebulan yang lalu," jawab Rea getir.


"Seorang Rea dipecat?" Elang membelalakkan matanya.


Arkan terlihat mengelus rambut Rea yang sedang duduk disamping nya, membuat Elang yang melihat pura-pura menggosok hidungnya.


"Aku bahkan tidak diberi tau alasan kenapa sampai aku bisa dipecat."


"Memangnya kamu bekerja dimana?"


"Di salah satu hotel bintang lima disana."


"Kenapa kamu tidak bekerja di perusahaan ayah?"


"Malas" jawab Rea singkat.


Sementara itu di hotel tempat Rea pernah bekerja sebuah pemberitahuan nampak mengejutkan banyak orang, pemberitahuan itu menyebutkan bahwa hotel itu sedang dalam proses peralihan kepemilikan.


Agni memijat dahinya karena pusing, belum berapa lama sejak Rea dipecat, Laporan keuangan sudah sangat semrawut. Wanita itu mengirimkan pesan kepada Rea,meminta sedikit bantuan karena Reza ternyata kurang bisa diandalkan.


Rea dan Arkan pamit untuk pergi ke Bandara, menolak Elang yang menawarkan tumpangan. Mereka menyalami kedua orang tua Elang dan Bumi, Rea mendekat menjabat tangan Elang kemudian memeluknya.


"Aku harap kamu bisa datang hari Sabtu ini," bisiknya.


Elang tersenyum berganti menjabat tangan Arkan, laki-laki yang akan menjadi adik iparnya.


"Datang ya, " ucap Arkan.


Elang hanya mengangguk


Taxi yang dipesan Arkan sudah datang mereka berpamitan untuk terakhir kali kemudian masuk, Elang menatap taxi itu sampai menghilang dari pandangan nya.


Didalam taxi Rea mengecek HPnya ternyata selain pesan dari Elang yang tidak sempat dia baca, juga ada pesan yang lumayan panjang dari Agni


"Semua kacau setelah kamu dipecat, Reza tidak begitu bisa diandalkan untuk mengerjakan laporan keuangan, dan hotel sekarang sedang dalam proses peralihan kepemilikan, kamu tau Re si CEO baru ingin membuat kantor nya di hotel, meminta sebuah ruangan khusus, demi apa coba? "~Agni


Rea tersenyum kemudian membalas pesan Agni.


Soal Laporan keuangan aku bisa bantu mba, tapi mungkin tidak minggu ini, karena sabtu aku lamaran, kirim aja file nya, akan aku kerjakan disela waktu ku~Rea


Rea melirik ke arah Arkan yang juga sedang sibuk membalas pesan.


"Siapa?" tanya Arkan.


"Mba Agni, minta tolong."


Rea melongok ke arah layar HP Arkan terlihat kata pabrik disana, menandakan masalah calon suaminya itu belum selesai, Rea manyandarkan kepalanya dipundak Arkan, laki-laki itu kemudian memasukkan HPnya ke kantong, memilih menciumi helaian rambut kekasihnya ketimbang membalas pesan soal masalah kantornya lagi.

__ADS_1


__ADS_2