Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 94


__ADS_3

Pagi hari Rea menyiapkan sarapan dan kopi untuk kakaknya di villa, sambil sibuk mengetikkan sebuah pesan Elang mencuri pandang ke arah adiknya sambil tersenyum.


"Jangan coba-coba memberi tahu Mas Arkan kalau aku ada disini." Rea menatap mata Elang penuh ancaman sembari meletakkan roti panggang yang dia buat ke meja.


"Aku tidak sedang mengirim pesan ke suamimu, aku sedang mengucapkan hati-hati di jalan untuk kekasihku." Elang menunjukkan ponselnya sambil menjulurkan lidahnya mengejek ke arah Rea.


Mata Rea menyapu pesan yang ada di layar ponsel kakaknya, ia tertawa sambil mengunyah roti yang dia buat tadi sebelum bertanya ke Elang " Kamu meminta Ken kemari?"


Elang mengambil cangkir kopinya, menggangguk sambil tersenyum "Aku ingin melamar Ken, pinjami aku halaman belakang villa mu ya," pinta Elang.


Rea mengadahkan tangannya seolah meminta imbalan kepada sang kakak untuk mengabulkan apa yang ia minta barusan. Elang hanya merespon dengan cara menepuk telapak tangan adiknya "Perhitungan banget," ucapnya.


Mereka berdua lantas menghabiskan waktu sendiri-sendiri. Elang keluar villa untuk mencari perlengkapan yang akan dia gunakan untuk mendekorasi halaman belakang villa, sementara Rea memilih membaca buku sambil mendengarkan musik favoritnya.


Siang harinya Elang terlihat kembali ke villa bersama beberapa orang, mereka terlihat sibuk membuat halaman belakang menjadi sedikit lebih istimewa.


Rea duduk dikursi goyang sambil menatap kakaknya yang sibuk memberi arahan kepada orang-orang yang membantunya, ia merasa bahagia melihat Elang yang antusias menyiapkan kejutan untuk kekasihnya. laki-laki itu menatapnya kemudian berlari ke arahnya.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Elang meminta pendapat sang adik.


"Cantik," ucap Rea sambil melihat rangkaian bunga berbentuk lambang cinta berwarna merah muda yang akan menjadi tempat dimana Elang akan melamar Kinanti.


"Oh ya malam ini aku akan ke bandara menjemput Ken, kamu tidak apa-apa kan sendirian disini?"


Rea hanya menganggukkan kepala untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.


***


Pukul tujuh malam Elang berpamitan untuk pergi ke Bandara menjemput sang pujaan hati. Ni Putu yang baru saja membawakan makan malam untuk mereka terlihat menamani Rea disana, tapi setelah menyelesaikan pekerjaannya wanita itu berpamitan untuk pulang.

__ADS_1


Rea menunggu Ni Putu sampai keluar dari villa, Ia lalu berjalan menuju ke halaman belakang, untuk sesaat gadis itu memandangi dekorasi romantis yang Elang buat untuk Kinanti, Rea berjalan mendekat menuju bibir pantai, berdiri terdiam memandangi deburan ombak di laut lepas.


Ni Putu berpapasan dengan seorang laki-laki di halaman depan, melihat laki-laki yang sepertinya kebingungan ia lantas bertanya dengan sopan, bibir Ni Putu tersenyum dan mengijinkan laki-laki itu masuk. Ia memberi tahu bahwa orang yang laki-laki itu cari kemungkinan sedang berada di halaman belakang.


Wanita penjaga villa itu memberikan sebuah selimut tenun ke tangan laki-laki itu, Ia memandang laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Rea. Ni Putu menunggu dan memastikan bahwa semua baik-baik saja dari depan pintu sebelum benar-benar pergi dari sana.


Sebuah selimut melingkar ke pundak Rea, bibir gadis itu tersenyum, ia membalikkan badannya sambil memegang kedua ujung selimut yang berada di pundaknya.


"Cepat sekali, apa___" Rea terdiam, sejenak matanya beradu pandang dengan mata teduh yang sebenarnya sangat dia rindukan. Ia sangat ingin memeluk sosok laki-laki di hadapannya yang tadinya dia sangka Elang, namun rasa sakit yang tersisa di hati dan egonya berbisik untuk tidak melakukan hal itu.


"Sayang," lirih Arkan.


Gadis itu tidak sanggup menatap wajah suaminya, Rea mendongakkan sedikit dagunya mencoba untuk tidak terlihat lemah di depan ayah dari calon bayinya.


"Untuk apa kemari?" tanya Rea sambil menatap ke arah pantai lepas seolah tak sudi melihat wajah Arkan.


"Aku merindukanmu," jawab laki-laki itu. "Apa kamu masih belum bisa memaafkan aku?"


"Apa kamu sudah makan? ayo masuklah," ajak Rea.


Arkan terdiam dan menuruti ucapan sang istri, baginya Rea sudah mau berbicara saja adalah sebuah keajaiban. Hampir satu jam mereka duduk berhadapan dan hanya saling bungkam setelah selesai makan.


Elang yang datang bersama Kinanti terlihat memandangi pasangan itu dari kejauhan. Elang memilih menarik tangan sang kekasih untuk tidak masuk kedalam, ia membawa Ken langsung ke halaman belakang.


Selang beberapa menit suara kembang api yang bersahutan mengagetkan Rea dan Arkan, untuk sejenak mereka saling beradu pandang lagi. Elang berjalan masuk dengan memeluk pinggang Kinanti, gadis itu terlihat tersenyum sambil menunjukkan cincin di jari manis tangan kirinya ke arah calon adik iparnya, yang berarti ia menerima lamaran Elang tadi. Rea berdiri memeluk Kinanti untuk memberikan selamat, Arkan juga melakukan hal yang sama, ia berdiri memeluk kakak iparnya.


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, Rea sudah masuk kedalam kamarnya, sementara tiga orang yang berada di villa bersamanya masih berbincang diruang tengah. Arkan mencurahkan isi hatinya, berkata bahwa Rea sepertinya masih belum bisa memaafkannya. Elang dan Kinanti saling pandang, keduanya lalu berkata akan membantu Arkan mendapatkan maaf dari Rea malam itu juga.


"Bagaimana caranya?" tanya Arkan penasaran.

__ADS_1


"Serahkan pada kami," ucap Elang dan Ken hampir bersamaan.


***


"Apa kalian sudah gila? sama saja kalian ingin menyiksaku," ucap Arkan saat mendengar ide dari sang kakak ipar.


"Bukankah jika alergimu kambuh kamu hanya demam dan gatal-gatal, tidak sampai seperti Rea yang pingsan dan tak sadarkan diri berhari-hari," jawab Elang.


"Lagipula disini ada Ken, dia dokter meskipun dokter kandungan dia pasti tau cara menangani alergi seseorang," lanjut Elang.


Kinanti hanya menganggukkan kepala, meskipun dalam hatinya ia sedikit khawatir dengan ide Elang yang menyuruh adik iparnya memakan udang, makanan yang menimbulkan alergi untuk Arkan.


"Makan satu saja," perintah Elang sambil menyodorkan sepiring udang goreng tepung yang dibelinya dari layanan food delivery kepada Arkan.


Dengan ragu Arkan mengambil satu, memasukkan kedalam mulut mengunyahnya lalu menelannya dengan sedikit rasa takut. Ia cemas menunggu reaksi makanan itu ke tubuhnya, dan benar saja setengah jam setelahnya Arkan merasakan gatal-gatal, ia meringis menahan perasaan tak nyaman di badannya, mata dan hidungnya mulai berair, ia memilih tiduran di sofa.


Rea yang sudah terlelap tidur terbangun mendengar suara Elang dan Ken yang berisik, tentu saja mereka sedang berakting melebih-lebihkan keadaan Arkan.


"Apa kita harus membawa Arkan ke rumah sakit?"


Ucapan Elang berhasil membuat Rea hampir saja meloncat dari ranjangnya kalau saja gadis itu tidak sadar bahwa dirinya tengah hamil. Ia cemas keluar dari kamar apalagi mendapati suaminya yang tengah meringkuk tidur diatas sofa. Wajah Rea terlihat sudah hampir menangis, tangannya menyibak selimut yang menutupi tubuh Arkan, ia melihat banyak bercak merah di tangan dan kaki suaminya, gadis itu mulai memberondong Arkan dengan pertanyaan apa yang dia makan.


Ken dan Elang saling lirik, tersenyum dibelakang punggung Rea karena rencana mereka ternyata berhasil membuat Rea peduli kepada suaminya, keduanya memilih memberi ruang dengan berkata akan keluar sebentar membeli obat untuk Arkan. Setelah dua orang itu pergi Rea meminta suaminya untuk tidur di dalam kamar.


"Bagaimana ceritanya kamu bisa makan udang? ceroboh sekali, berapa banyak yang kamu makan? Kamu sudah hampir jadi papa, tapi menjaga dirimu sendiri saja tidak bisa," omel Rea sambil mengirim pesan ke Elang untuk mencarikan air kelapa juga.


Rea masih berdiri sambil sibuk dengan ponselnya, ia terlihat panik mencari informasi tentang cara mengatasi alergi di internet, Arkan yang duduk ditepian ranjang tersenyum mendapati istrinya yang sudah mulai memperhatikan dirinya lagi. Ia hampir berdiri untuk memeluk Rea, namun gadis itu sudah terlebih dahulu berbalik menatap ke arahnya.


"Tidurlah!" perintahnya.

__ADS_1


Arkan menuruti kemauan sang istri, senyumnya hilang dan berubah menjadi rasa kecewa karena Rea lebih memilih keluar dari pada menemaninya tidur di dalam kamar.


__ADS_2