Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit

Menikahi Bumi Yang Dicintai Langit
Rekan : Bab 30


__ADS_3

Rea terdiam menatap langit-langit diatas kamarnya, sejenak dia berpikir apa yang dikatakan Kanaya di pesawat tadi.


“Ah tidak mungkin Arkan tidak normal, bukankah kami beberapa kali berciuman, dia jelas terlihat bernafsu dan berkata adiknya bangun”


“Ish….berhenti berfikir yang tidak-tidak Rea” gadis itu mengepalkan tangan menjitak kepalanya sendiri.


Rea mendekat ke arah cermin yang ada dikamar hotelnya, melihat pentulan dirinya sendiri di cermin, kemudian melirik jam


dipergelangan tangan kirinya, baru jam dua siang , di agenda group acara Celine


baru akan dimulai jam tujuh malam.


Dia sedikit ragu kemudian menelpon seseorang.


Rea :" Sev aku sedang ada di XX, apa kamu ada waktu?"


Sevia :" yang benar? tidak ada waktupun pasti aku sempatkan bertemu denganmu Re, kapan?"


Rea : "satu jam lagi bisa? dimana kita mau bertemu?"


Sevia :" bisa, kalau di restoran XX aja gimana?"


Rea : "Oke , aku tunggu"


Setelah mematikan telpon , Rea bergegas keluar kamar hotel, memesan taxi online kemudian pergi ke restoran tempat dia janjian bertemu dengan Sevia tadi.


Sesampainya di restoran Rea memilih duduk didekat jendela sambil menunggu minumannya datang.


Seorang laki-laki yang berada tidak jauh dari tempat duduk Rea terlihat berdiri merapikan laptop dan memasukkan benda itu kedalam tasnya, berjalan menuju meja kasir untuk membayar, sejenak laki-laki itu berhenti kemudian menoleh kearah gadis yang sedang duduk sendiri dengan posisi membelakangi dirinya, matanya memunujukan sorot menduga-duga.


Selang lima belas menit Sevia datang, langsung berlari menghambur melihat Rea yang tengah memegang HP dan melambaikan tangan ke arahnya.


Kedua gadis itu saling berpelukan, melepas rasa kangen satu sama lain, bagimana tidak


mereka juga hampir tujuh tahun tidak bertemu, hanya masih sering berkomunikasi lewat aplikasi chat dan video call saja.


“Sumpah kamu berubah banget Re,” ucap Sevia


“Apa nya yang berubah?” tanya Rea

__ADS_1


“Makin cantik, dan lihat rambutmu,” tunjuk Sevia


Rea memang sengaja membuat rambutnya bergelombang dibagian bawah hanya untuk pergi dan bertemu teman-teman Celine.


“Hanya sementara, besok juga udah balik lurus lagi,” Rea tersenyum


“Ada acara apa kamu sampai kesini Re” Sevia bertanya sambil meminum orange juice didepannya.


“Temanku mengadakan pesta lajang ya semacam bridal shower gitu, minggu depan dia mau menikah, dan oh iya dua minggu lagi aku lamaran lho,” cerita Rea


“Wah selamat... Selamat, tapi maaf aku mungkin ga bisa datang Re, tapi aku pastikan datang saat pernikahanmu”


Rea mengangguk sambil tersenyum ke arah temannya itu.


Mereka terlibat percakapan hangat, dari mulai membicarakan soal Rea yang dipecat


sepihak dari hotel tempatnya bekerja, Sevia yang sekarang sibuk bekerja disebuah firma hukum, sampai saling curhat soal kekasih mereka, lalu Rea membahas tentang Cindy.


“Apa kamu tau kabar Cindy? Kenapa dia seolah menghilang dari muka bumi?” tanya Rea


“Terakhir aku kerumahnya dia tidak ada disana dan rumahnya ternyata juga sudah


dijual” Sevia sedikit sedih menceritakan keadaan temannya.


“Aku harap dia baik-baik saja,” lanjut Rea sambil melihat jauh keluar jendela restoran.


Tak terasa pertemuan sahabat lama itu sudah memakan waktu hampir tiga jam, Sevia sadar


bahwa dia tadi hanya ijin satu jam kepada atasannya, sontak Rea tertawa dan juga merasa bersalah melihat temannya kelimpungan bergegas untuk kembali ke tempatnya bekerja, yang pasti sudah sangat terlambat mengingat ini sudah jam lima sore.


Setelah Sevia pergi, Rea masih duduk di restoran itu, pikirannya melayang entah


kemana, membuka pesan yang dia kirim tadi dan masih belum dibaca oleh orang yang menerima, gadis itu kemudian memutuskan untuk memesan taxi memilih pergi ke SMA nya dulu.


Ia memandangi gerbang sekolahnya yang tentu saja sekarang menjadi lebih megah dan mewah, sejenak dia mengenang masa lalunya di sana, tapi karena takut jika berdiri lama-lama sendirian akan menarik perhatian orang, Rea memilih pergi berjalan menyusuri trotoar di sepanjang pagar sekolahnya, sampai dia merasa kakinya sakit karena memakai high heel setinggi 10 centimeters.


Sebuah mobil lewat, sang pengendara menoleh kearah Rea, tapi sayang tidak bisa melihat wajah gadis itu yang sedang berjongkok memegangi kakinya, rambutnya tersibak kedepan menutupi wajahnya dari samping.


Ia memutuskan memesan taxi lagi, pergi ke satu tempat yang ingin di kunjunginya juga sebelum kembali ke Hotel.

__ADS_1


Didalam taxi Rea termenung, dalam hatinya berharap bisa bertemu dengan seseorang ditempat yang akan dia tuju. Gadis itu menatap keluar jendela mobil kemudian membukanya, sedikit mengeluarkan tangannya untuk merasakan hembusan angin senja.


Taxi berhenti didepan sebuah kafe yang sepi, disana tertulis tutup sementara waktu karena sedang dalam proses perbaikan, begitu juga cucian mobil disampingnya sudah terlihat sepi tidak ada orang sama sekali, Rea sadar ini sudah hampir jam enam sore, cucian mobil pasti sudah tutup dari jam lima tadi.


"Ternyata Kafe dan cucian mobil milik keluarga Elang masih beroperasi" gumam Rea


Rea turun menatap cucian mobil dimana dulu beberapa kali dia melihat Elang bekerja mencuci mobil pelanggan disana, gadis itu tersenyum simpul, bayangan akan dirinya yang sedang bermain selang air berdua dengan Elang muncul dipikirannya.


Gadis itu tersenyum, kemudian berjalan menuju depan kafe, tanpa dia sadari sebuah mobil berwarna merah sudah terparkir disebrang jalan. Notifikasi pesannya ke Elang pun sudah berubah, menunjukkan yang dia kirimi pesan sudah membacanya.


Rea termenung agak lama didepan pintu kafe, memikirkan kalimat yang pernah dia ucapkan ke Elang tepat ditempatnya berdiri beberapa tahun lalu.


“Bisa tidak mulai sekarang kamu mencintaiku sebagai adik saja? kamu tau lang hatiku juga sangat sakit”


Dia ingat sekali kejadian dimana dia harus berpisah dengan kakak yang dicintainya itu, bahkan dia mengucapkan kalimat itu sambil memukul berulang kali bagian dadanya karena merasakan sesak disana, ia juga mengingat saat itu Elang meneteskan air mata.


Rea tersenyum getir mengingat memori itu, dirinya menunduk, memainkan bongkahan batu kecil dibawah kakinya menggunakan ujung sepatu high heel yang dia pakai.


Seorang laki-laki memandanginya dari jauh kemudian mendekat, melihat lekat punggung gadis itu, ujung rambut yang Rea buat bergelombang bergerak-gerak mengikuti gerakan kakinya yang sedang memainkan batu kerikil dibawah sana.


Gadis itu menegakkan badannya, menghembuskan nafas kasar lalu membalikkan badannya, sorot matanya terkejut melihat laki-laki berkaos putih dengan kemeja lengan pendek berwarna biru denim yang tidak dikancingkan berdiri tepat dihadapannya.


Laki-laki itu juga tak kalah terkejut melihat wajah yang dia kenali. Mereka saling menatap mata satu sama lain.


-


-


-


-


-


-


-


Untuk para reader yang sudah mau mengikuti cerita ini, jangan Lupa tinggalkan LIKE, KOMEN dan pencet tanda LOVE dibawah ya 👇 💕💕

__ADS_1


Jika berkenan silahkan VOTE atau ajak teman kalian untuk membaca cerita ini juga, mohon maaf jika masih ada typo dan kekurangan dalam menulis cerita ini.


Thanks a Ton


__ADS_2