
Evelyn tidak tahu sudah berapa lama ia menunggu Daniel semenjak lelaki itu mengatakan ingin pergi ke toilet. Yang jelas sudah sangat lama bagi Evelyn menunggu sahabatnya itu di meja bar ini.
Orang-orang terus menatapnya dan mulai membuatnya risih. Jujur saja, saat ini ia tak tertarik dengan siapapun. Ia ingin kembali ke ruangan mereka tapi ia akan menunggu Daniel dulu.
Evelyn menyilangkan kakinya di atas kursi yang ia duduki. Menunggu sahabatnya yang lama tak kembali dari toilet.
Merasa tak sabar, Evelyn mengecek jam yang ada di ponselnya. "Ya ampun, sudah dua puluh menit. Ini sudah terlalu lama. Kapan dia akan kembali ke sini" omelnya.
Evelyn merasa kesal karena ditinggal sendirian untuk waktu yang lama.
"Aku telepon saja dia."
Evelyn baru saja hendak meraih ponselnya untuk menghubungi Daniel sampai ia melihat sosok Daniel, yang perlahan berjalan ke arahnya dengan senyum di wajahnya.
Lihatlah! Wajah lelaki itu seperti tidak melakukan kesalahan apapun, membuat Evelyn jadi semakin merasa kesal saja.
Lelaki itu kemudianmelangkah mendekati Evelyn.
"Darimana saja sih?" Evelyn menatap sinis.
"Aku dari toilet. Kan sudah ku katakan sejak awal, aku kebelet. Maaf kalau terlalu lama." ujarnya seolah sadar dengan maksud dari tatapan sinis yang Evelyn tunjukkan.
"Ya, kau memang lama sekali perginya." omel Evelyn lagi.
"Kau bosan menungguku di sini, ya?"
"Sangat." jawab Evelyn cepat. "Aku sendirian hanya diam seperti orang bodoh disini."
"Kau bisa bermain dengan pria-pria di sini, kan?"
"Sedang tak ingin." jawab Evelyn.
Daniel hanya terkekeh. Ia lalu mengambil waktu sejenak untuk tersenyum pada gadis itu.
Sementara Evelyn tak mengatakan apa-apa lagi selama berapa detik sampai kemudian Daniel mendudukkan diri di sampingnya.
"Ngomong-ngomong aku bertemu Alvin tadi." ujar Daniel sembari menyamankan dirinya di atas sofa.
"Oh ya?" Evelyn mengangkat sebelah alisnya dan langsung meletakkan gelas yang ia pegang ke atas meja bar, tampak tertarik dengan topik pembicaraan.
"Bertemu di mana?" tanya Evelyn.
Kali ini giliran alis Daniel yang terangkat. Apa-apaan ini. Kenapa gadis di hadapannya ini seolah lupa kalau ia baru saja marah-marah padanya? Semua berubah begitu ia mendengar nama Alvin disebut.
"Aku bertanya kau bertemu Alvin dimana?" tanya Evelyn lagi.
"Toilet."
"Lantas?"
"Ya, aku pikir dia sedang ada masalah tadi, jadi aku memutuskan untuk membantunya."
Evelyn menatap Daniel dengan tatapan seriusnya.
"Sesuatu terjadi padanya?" tanya Evelyn.
"Benar." Daniel mengangguk.
"Ada apa dengannya, Daniel?" tanya Evelyn padanya dengan raut bingung. "Sesuatu yang buruk telah terjadi?"
"Ya, begitulah. Seorang wanita mencoba mengganggunya tadi. Hampir."
Gadis cantik itu sontak mengerutkan keningnya. Ia langsung mengetahui kemana arah pembicaraan dari lelaki di hadapannya ini. Kata 'mengganggu' itu sudah cukup menjelaskan semuanya.
__ADS_1
"Kau serius?"
"Apakah aku terlihat sedang mengerjaimu?"
"Yah, jangan tersinggung. Biasanya kau kan memang seperti itu. Kau sangat suka mengerjai aku."
"Kali ini aku sedang serius, Eve."
Evelyn menatap Daniel dalam diam lalu menghela napasnya. "Baiklah, maafkan aku. Lalu bagaimana kelanjutannya?"
"Dia sudah aman sekarang."
"Aman bagaimana?"
"Ya aman." jawab Daniel santai. "Kau tenang saja. Aku sudah membantunya tadi."
"Baguslah kalau begitu." Evelyn menganggukkan kepalanya, menatap Daniel sembari tersenyum puas. Gadis itu terlihat jauh lebih tenang sekarang.
"Dan aku juga bisa jamin, setelah ini wanita itu bahkan tak akan berani mendekati Alvin lagi."
"Aku harap ucapanmu itu memang benar." ujar Evelyn. "Aku sungguh tak ingin ada gadis di klub ini yang coba-coba mendekati Alvin.
Daniel yang mendengar itu sontak menyeringai senang. Itu dia, reaksi yang ingin dia lihat dari Evelyn sejak tadi.
"Kenapa? Kau tak suka dia didekati orang lain?"
"Ya, aku tidak suka. Apalagi jika tau para gadis itu sedang mencoba menggodanya."
"Kenapa memangnya?" tanya Daniel bertanya dengan raut wajah menyelidik.
"Ya karena-" ucapan Evelyn terhenti. Melihat raut wajah Daniel, Evelyn melipat kedua tangannya di dada, menatap lelaki itu dengan mata yang menyipit, "Apa maksudmu sebenarnya?"
"Apanya?"
Daniel terkekeh karena menyadari kalau niatnya sudah terbaca oleh Evelyn. "Oke, oke, baiklah. Sebelumnya kau tak mau jujur tentang hubungan kalian. Aku hanya penasaran dengan itu. Tapi kenapa kau tidak suka? Apa kau cemburu?"
Evelyn terhenyak untuk beberapa detik gadis itu terdiam. Ia kemudian mengernyitkan kedua alisnya, jelas tidak terkesan sama sekali dengan pertanyaan sahabatnya itu.
"Apa kau bilang?" tanyanya.
"Aku bertanya padamu, apa kau cemburu?"
"Cemburu?" Evelyn menatap Daniel tak percaya. Ia tak mungkin cemburu. Para gadis itu bahkan tidak berada di level yang sama dengannya.
"Ya, kupikir kau sedang cemburu."
"Aku tidak cemburu pada gadis-gadis itu? Tentu saja tidak. Mereka bukan levelku."
"Ck, kau cemburu. Aku yakin itu."
"Tidak. Aku sudah bilang aku tak cemburu. Kenapa kau begitu memaksa?"
"Baiklah," jawab Daniel mencoba bersikap tenang saat melihat Evelyn yang mulai terpancing. "Tidak ada gunanya menjadi histeris, Eve. Kau harus lebih tenang, oke? Bersikap seperti ini jelas akan membuat cemburumu semakin terlihat."
"Daniel!!"
Daniel kembali terkekeh, "Oke, Oke. Maafkan aku. Aku hanya bercanda."
"Aku hanya tak ingin Alvin dekat-dekat dengan gadis liar itu. Mereka akan merusaknya nanti." jelas Evelyn.
"Begitukah?" Daniel menatap Evelyn dengan senyum yang tak bisa di artikan.
Daniel merasa heran. Ini adalah pertama kalinya Daniel melihat Evelyn bisa begitu peduli pada seseorang. Walaupun gadis ini menolak mengakui apapun tapi Daniel bisa melihat segalanya.
__ADS_1
Evelyn seolah tak terima melihat Alvin di sentuh orang lain. Setidaknya itu yang ia pahami.
"Apa dia begitu berharga untukmu?" tanya Daniel dengan penuh rasa penasaran.
"Kenapa kau tiba-tiba bertanya?"
"Ya, kau terlihat begitu peduli padanya. Kau seakan tak ingin dia disentuh orang lain. Kau bertingkah seolah dia adalah… kekasihmu."
'Kekasih? Ya, dia adalah calon kekasihku di masa depan.' batin Evelyn.
Evelyn kemudian tampak tersenyum malu-malu setelah mendengar perkataan Daniel itu.
Daniel melihat Evelyn yang tesenyum-senyum. Untuk sesaat sikap gadis itu berhasil membuat Daniel merasa geli sendiri.
"Ya, itu aku lakukan karena aku memang peduli padanya." ungkap Evelyn.
"Kau peduli padanya atau sedang tertarik padanya?"
"Keduanya. Dia hanya… spesial, Daniel."
"Oh, jadi dia spesial." sindir Daniel.
Daniel tersenyum sembari menaikkan sebelah alisnya. Ia semakin merasa heran dengan perkataan Evelyn barusan. Ia menganggap Alvin spesial tapi tak cemburu?
Bagaimana bisa gadis ini begitu plin plan begini.
Sementara itu Evelyn tampak bersikap canggung setelah kedapatan mengungkap isi hati.
Evelyn menelan ludah, merasa malu. Ia lalu batuk-batuk, mengurangi rasa canggungnya sebelum kemudian melihat ke arah lain, mencoba mengalihkan pandangan matanya dari Daniel.
"Jadi itukah yang membuatmu cemburu? Kau tidak mau me-"
"Aku tidak cemburu. Sudah ribuan kali ku katakan padamu."
Daniel mendecih kesal, "tapi kau bilang dia spesial, kan?"
"Ya, dia memang spesial. Aku juga peduli padanya tapi aku tidak cemburu."
Daniel menggelengkan kepalanya.
Gadis ini terlalu sombong untuk mengakui kalau ia tengah cemburu. Evelyn tak mau mengakui kalau ia tengah cemburu, tapi dari gerak geriknya terlihat jelas kalau ia memang tengah cemburu? Bukankah hanya Evelyn seorang yang seperti ini.
Daniel mendecih.
"Spesial apanya, heh? Jangan bercanda. Selama ini bahkan tidak ada orang yang kau anggap spesial selain dirimu sendiri, Evelyn."
Evelyn menatap Daniel tajam. "Aku bicara sungguh-sungguh, Niel! Dia memang spesial untukku."
"Benarkah? Memangnya seberapa spesial pemuda itu untukmu?" Daniel menatap tak percaya.
Evelyn tersenyum sinis,
"Aku tahu kau mencoba memancingku agar mengungkapkan siapa Alvin dihatiku, kan?"
Daniel tersenyum kecil sembari menggeleng, "aku hanya inggin tahu."
"Aku akan menunjukkan padamu seberapa spesial dia untukku. Tapi bukan sekarang. Kau akan melihatnya sendiri nanti."
***
Note :
Bab 92-102, saya revisi. Trm
__ADS_1