
Alvin tersentak kaget saat mendengar gadis itu yang tiba-tiba saja bicara. Tapi tunggu dulu, apa gadis itu sedang bicara dengannya?
"Anda sedang bicara pada saya, nona?" Alvin bertanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Apa ada orang lain disini?" tanya Evelyn balik.
Alvin kemudian menengok kanan dan kirinya, mencari orang lain yang mungkin ada di sekitarnya lalu menggeleng.
"Tidak ada. Hanya kita saja." jawabnya
"Kalau begitu kenapa kau bertanya pada siapa aku bertanya tadi?" ujar Evelyn.
Ya, sebenarnya itu adalah cara yang cukup rumit untuk menjawab pertanyaan yang mudah. Tapi toh kenapa juga Alvin melakukan hal konyol dengan menanyakan hal yang sudah ada jawabannya seperti itu tadi.
Evelyn mulai melangkahkan kakinya bergerak lebih dekat untuk menatap wajah Alvin, membuat pemuda itu menunduk.
"Aku barusan bertanya, apakah kau menangis?" tanya Evelyn lagi.
Alvin mendongak, buru-buru menjawab. "Tidak."
"Tapi kenapa wajahmu mengatakan kalau kau seperti habis menangis." ujar Evelyn.
Alvin buru-buru menyentuh wajahnya dan mendesis pada dirinya sendiri ketika menyadari bahwa dia pasti terlihat sangat kacau sekarang. Alvin yakin seratus persen kalau wajahnya pasti terlihat sangat berantakan dan matanya pasti juga sembab karena ia sempat menangis dalam diam barusan.
Alvin lalu kembali menatap Evelyn yang ternyata masih juga menatapnya. Alvin lalu menundukkan kepalanya ke bawah dan menatap pada lantai di bawah sepatunya, menolak untuk melihat kedua mata milik Evelyn.
Bukan karena ketakutan tetapi karena dia sadar bagaimana gadis itu menatap wajahnya. Ia menatap Alvin lekat, memindai setiap inci wajahnya dan itu membuat Alvin merasa tidak nyaman. Ah, lebih tepatnya Alvin jadi malu sendiri dan salah tingkah.
"Apakah bosmu memarahimu?" Evelyn bertanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas membuat Alvin jadi gelisah karena ia bingung harus menjawab apa. Tidak mungkin kan ia menceritakan kegundahan hatinya ada orang asing. Tentunya akan sangat memalukan.
Alhasil Alvin memilih menggeleng. "Tidak."
Evelyn mengangguk. Tentu saja tidak. Evelyn sebenarnya tahu apa alasan pemuda itu bersedih hati saat ini. Pasti karena kejadian penghinaan mantan kekasihnya tadi.
__ADS_1
Diam-diam rahang Evelyn mengeras, ia kembali merasa kesal atas kejadian yang ia saksikan tadi.
"Maaf, kalau kau terganggu dengan pertanyaanku." ujar Evelyn melihat betapa gelisahnya Alvin saat ini.
"Ah, bukan. Sebenarnya saya hanya ingin masuk." ujar Alvin.
"Begitu?"
"Apa anda ingin di sini?" tanya Alvin dengan nada sopan. "Kalau anda ingin di sini, saya bisa pergi ke-"
"Tidak! Kau di sini!"
"Ya? Maksudnya, nona?"
"Maksudku, kau tetaplah di sini." ujar Evelyn dengan cepat menjawab perkataan Alvin.
"Tapi saya pikir saya harus kembali ke dalam, nona. Pekerjaan saya pasti me-"
"Apa aku mengganggumu bersantai?"
Sejujurnya, Alvin memilih pergi karena merasa gugup jika harus berduaan dengan Evelyn seperti ini.
"Bukankah aku mengatakan padamu untuk tetap di sini?" ujar Evelyn, nada bicaranya terdengar dingin sekarang. Ia tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengatakan hal yang ia simpan selama ini pada pemuda tampan di hadapannya ini.
"Ah itu-" Alvin menggaruk tengkuknya tidak enak dengan situasi. "Tapi saya harus bekerja sekarang."
"Aku akan bertanggungjawab untuk apapun itu." ujar Evelyn, ia menatap Alvin dengan tatapan serius kali ini. "Sebenarnya ada hal yang ingin aku bicarakan padamu."
"Hah? Bicara pada saya?" Alvin menunjuk dirinya sendiri.
Evelyn mengangguk. "Jadi, kau tetaplah berada di sini. Denganku!" pintanya.
Setelah beberapa detik berpikir, Alvin akhirnya menghela napasnya dan memilih setuju, ia menatap Evelyn. "Baiklah, nona." ujarnya pasrah.
__ADS_1
"Sebelumnya, perkenalkan, namaku Evelyn ..." Evelyn memperkenalkan diri.
Alvin mengangguk pelan.
Dia sudah mengetahui nama Evelyn walaupun mereka tidak pernah berkenalan secara resmi sebelumnya.
Alvin bahkan masih mengingat dengan jelas saat gadis itu memberi uang tip padanya waktu itu.
"Dan kau, kau Alvin kan?" Evelyn bertanya.
"Ya?"
Alvin terlihat kaget dengan pertanyaan Evelyn, sepertinya Evelyn ingat siapa namanya.
"Umm, ya, saya Alvin. Senang berkenalan dengan anda, nona." kata Alvin, terus mencoba menenangkan diri dari rasa terkejutnya.
"Jadi begini. Aku ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya padamu." ujar Evelyn.
"Terima kasih?"
"Ya, benar." Evelyn melangkahkan kakinya menuju ke tepi balkon, ikut menatap pemandangan. "Terima kasih karena sudah bersedia mengantarkanku pulang malam itu."
Alvin tersenyum penuh pengertian.
"Ah, untuk masalah itu saya ikhlas membantu anda, nona. Teman anda terlihat sangat bingung malam itu."
"Ya, dia juga mengatakan hal yang sama padaku."
"Em, begitukah?"
"Ya," Evelyn mengangguk. "Ah, satu lagi. Sebenarnya aku tidak pantas mengatakan ini, tapi aku juga ingin minta maaf."
"Minta maaf?"
__ADS_1
***