
Evelyn tak mengatakan apa-apa. Ia hanya menatap Mr. Robert dengan tatapan tenangnya. Evelyn bahkan menggelengkan kepalanya seolah memberi tanda pada Mr. Robert agar tak memberitahu siapa dia.
Setelah itu, ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, memberi tanda pada lelaki paruh baya itu agar menyelesaikan masalah tak penting ini.
Mr. Robert yang mengerti langsung mengangguk paham dan beralih pada kepala keamanan yang berdiri di dekatnya.
"Aku beritahu, yang memakai hoodie adalah orang penting untukku. Dia anak pemilik klub malam ini, atasanmu yang sebenarnya" bisiknya pelan.
Sang kepala keamanan seketika membulatkan matanya kaget. Ia melirik Evelyn sebentar baru kemudian menganggukkan kepalanya.
"Jadi, apapun masalahnya. Lebih baik cepat kau urus wanita itu, sebelum nona muda memecatmu." bisik Mr. Robert lagi.
"Baik tuan, akan saya urus." ujar kepala keamanan itu.
Kepala keamanan itu mengangguk kemudian mulai melangkah menuju Karina dan menarik lengan gadis itu. "Mari ikut saya keluar, nona."
"Hei, lepaskan! Kenapa kau malah menarikku seperti ini? Bukan aku yang salah di sini?"
"Nona sudah membuat keributan di klub ini dengan berteriak-teriak nyaring."ujar kepala keamanan itu lagi.
"Lepaskan aku, kalian harusnya mengusir gadis itu, bukan aku!"
Evelyn mendecih lalu mendekati Karina sembari menyilangkan tangan, "Kau mau pergi sendiri atau kepala keamanan yang akan mengusirmu?"
Karina menaikkan sebelah alisnya.
"Mengusirku?" ujar Karina.
"Anda telah mengganggu ketenangan atasan saya." ujar kepala keamanan pada Karina. "Jadi mari ikut saya keluar!"
"Apa kau bilang?" Karina berseru kaget. "Atasan?"
Evelyn menatap Karina sinis. "Ya, orang yang tadi kau sebut sebagai orang miskin ini adalah pemilik klub ini." ujar Evelyn tajam.
Karina tak bisa berkata apa-apa lagi setelah mendapatkan fakta yang sebenarnya. Ia terkejut bukan main mendengar pengakuan itu.
Dan belum juga sadar dari keterkejutannya, tiba-tiba kepala keamanan kembali menarik lengan Karina.
"Mari ikut saya atau saya akan berbuat kasar!"
"Tidak. Lepaskan aku! Lepaskan!" teriak Karina mencoba melepaskan tarikan pria itu.
__ADS_1
Kepala keamanan itu tampaknya tidak peduli dengan teriakan-teriakan Karina itu. Bahkan beberapa petugas keamanan lain datang dan menyeret teman-teman Karina yang hendak membantunya.
Melihat itu Evelyn merasa amat senang. Untuk pertama kalinya Evelyn bersyukur dalam hati memiliki ayah yang dikenal oleh banyak orang dan memiliki nama yang sangat besar. Evelyn tiba-tiba tersenyum bangga pada dirinya sendiri.
"Ini rasanya menggunakan kekuasaan yang dimiliki oleh ayah." gumamnya.
Sebelumnya Evelyn kesal karena semua orang yanh selalu menghubungkannya dengan nama ayahnya. Dan untuk pertama kalinya ia mensyukuri hal itu dalam hidupnya.
Setelah Karina dan teman-temannya pergi Mr. Robert kemudian beralih dan tersenyum pada Evelyn.
"Nona Evelyn, maafkan saya yang terlambat menyadari kehadiran anda." ujar Mr. Robert.
"Tidak masalah. Ah, aku minta maaf atas ketidaknyamanan yang sudah ku buat. Dan juga terima kasih sudah mengurus masalah ini." jawab Evelyn santai.
"Saya yang tidak enak karena terlambat menyelesaikan masalah ini."
"Jangan terlalu di pikir." ujar Evelyn tersenyum.
"Oh ya, bagaimana kabar ayah anda, nona?" tanya Mr. Robert lagi.
"Ayahku sedang ada di Amerika sekarang." balas Evelyn.
"Oh, baiklah! Tapi saya penasaran, tidak biasanya anda minum di sini." ujar Mr. Robert lagi menatap sekitar aula klub malam itu. "Bukannya biasanya anda selalu memesan ruang private."
"Mau saya siapkan ruangan untuk anda, nona?" tawar Mr. Robert.
"Tidak perlu, sepertinya aku juga akan pulang sebentar lagi. Kau bisa pergi sekarang Mr. Robert, sekali lagi terimakasih atas bantuannya." ujar Evelyn.
"Saya senang bisa membantu, nona. Kalau begitu saya permisi." Mr. Robert tersenyum lalu meninggalkan Evelyn di tempat itu bersama Ziva.
Evelyn memasang hoodie-nya kembali kemudian menoleh kanan dan kiri mencari keberadaan Alvin yang untungnya tidak terlihat. Mungkin sedang melayani pengunjung di lantai dua atau tiga.
'Baguslah pemuda itu tak ada di sini sekarang.' batin Evelyn lega.
"Ayo pergi." ajak Evelyn pada Ziva.
Ziva mengerutkan dahinya tak santai. "Hah? Pergi? Kemana maksudmu?"
"Kita harus pulang. Lihat ini, pakaianmu sudah basah sekarang. Ayo cepat!" ujar Evelyn hendak melangkah.
"Tidak! Kau kan belum bicara dengan Alvin?" tolak Ziva melipat kedua tangannya di dada.
__ADS_1
"Kita akan lakukan lain kali saja." tolak Evelyn.
"Ini hanya basah sedikit! Lagipula tujuan utama kita datang kemari malam ini adalah untuk menemui Alvin, bukan. Jadi-"
"Stttt." Evelyn meletakkan jari telunjuknya di mulut, memberi tanda pada Ziva agar gadis itu menutup mulutnya. "Jangan berisik, oke!"
"Tapi-"
"Diam dulu!" ujar Evelyn kesal.
Setelah itu Evelyn tampak berfikir sebentar. Ia menoleh pada Ziva, menatap lekat sahabatnya itu dalam diam dan menghela nafasnya pasrah.
"Baiklah!" ujar Evelyn menyerah setelah Ziva memberikan tatapan memelas padanya.
"Baiklah apa?" Ziva memastikan.
"Aku akan menemuinya malam ini juga. Hitung-hitung sebagai rasa prihatinku pada usahamu." jelas Evelyn melihat pakaian basah Ziva dengan tatapan mirisnya.
Ziva sontak tersenyum girang. "Benarkah?"
"Ya!"
"Kau bersungguh-sungguh, Eve?"
"Iya, Ziva."
"Kau akan menemuinya?"
"Hm!" ujar Evelyn sembari melangkah keluar ruangan.
"Kau mau kemana?" tanya Ziva heran.
"Ke mobilku."
"Mobilmu, tapi untuk apa?"
"Mengambil pakaian ganti milikku di mobil."
"Eh, untuk apa?"
"Untukmu! Lihat itu, pakaianmu basah dan aku tidak nyaman melihatnya. Entah kenapa membuatku merasa bersalah saja." ujar Evelyn membuat Ziva terkekeh.
__ADS_1
***