
"Alvin." seru Karina.
Gadis itu buru-buru berlari mendekat, "Kau tidak apa-apa?"
Alvin tak menjawab. Pemuda itu memejamkan matanya karena tak sanggup membukanya. Melihat itu Karina mengambil inisiatif untuk membantu pemuda itu bangun.
Karina yang sudah meraih lengan Alvin justru harus membulatkan matanya karena menyadari suhu tubuh pemuda ini memang tinggi.
"Badanmu panas, Alvin. Kau demam. Pantas saja wajahmu terlihat pucat sekali." ujar Karina.
"Apa yang sedang coba kau lakukan?
"Kau tidak lihat. Aku sedang mencoba membantumu. Apalagi memangnya?"
"Aku tidak butuh bantuanmu. Jadi menjauhlah dariku." ujar Alvin mendorong tangan Karina agar terlepas. Ia mencoba bangkit sembari memegangi kepalanya yang begitu pusing.
Sebelumnya Alvin merasakan pandangannya sempat menghitam dan tiba-tiba saja ia sudah terjembab ke lantai. Alvin meruntuki dirinya sendiri karena sungguh ia tak ingin Karina membantunya tapi ia tak tahu kenapa tubuhnya terasa begitu lemas saat ini.
"Lihat, kan? Kau menolakku lagi. Harusnya kau lihat kondisimu dulu, Alvin. Kau bahkan tidak bisa berdiri dengan benar tapi masih mau keras kepala dan menolak bantuanku."
Karina kembali mencoba menyentuh Alvin tapi pemuda itu kembali menolak.
"Berhentilah menolak bantuanku. Aku hanya ingin membantumu." ujar Karina dengan nada datar. "Jadi biarkan aku membantumu sekali ini, oke?"
"Karina-"
"Diamlah!" potong Karina dengan cepat. Ia benar-benar merasa kesal sekarang karena Alvin yang terus saja menolak bantuannya sekalipun ia sedang sakit
Gadis itu dengan cepat meletakkan lengan Alvin ke atas bahunya, melingkarkannya di lehernya. "Masih bisa berdiri tidak? Kalau tidak bisa aku akan cari bantuan orang sekitar. Ini jam empat pagi, mungkin ada orang yang lewat."
Alvin mengangguk ragu, "Bisa."
"Ya sudah, ayo, biar aku bantu kau berdiri."
Alvin yang merasakan pusing yang teramat memilih untuk tak mengatakan apapun dan menurut saja pada mantan kekasihnya ini. Ia membiarkan Karina membantu dan membawanya ke dalam kamar meski dengan langkah yang terseok-seok.
"Tetangga akan melihatmu di sini." ujar Alvin di sela langkahnya.
Karina melirik Alvin kemudian mendecih.
"Aku tidak peduli dengan tetanggamu." ujar Karina sebal sambil terus membantu menuntun Alvin.
Karina heran kenapa pemuda ini begitu mengkhawatirkan apa yang akan tetangga sekitarnya pikirkan.
"Dimana kamarmu?" tanya Karina.
"Disana." Alvin menunjuk salah satu kamar di rumah itu. "Kamar yang paling pojok."
Karina tak tahu dimana kamar Alvin berada. Selama mereka menjalin hubungan dulu, Karina juga tak pernah sama sekali masuk ke rumah Alvin. Ya, ia memang tau rumah Alvin karena pernah beberapa kali mengantarkan pemuda itu saat pulang kuliah tapi tak pernah masuk seperti ini.
Sesampainya di kamar Alvin, Karina dengan cepat membaringkan tubuh lemas Alvin ke atas tempat tidur.
"Hati-hati." ujar Karina membantu Alvin perlahan, seolah sedang menjaga barang antik.
__ADS_1
Karina baru saja ingin menutup tubuh Alvin dengan selimut namun terhenti saat melihat pakaian Alvin yang tampak basah karena berkeringat.
"Pakaianmu basah." ujar Karina.
Tak ada jawaban dari Alvin. Pemuda itu tampak meringis menahan sakit. Alvin paling tak bisa menahannya jika dia sedang sakit, Karina tau itu dengan jelas.
"Aku akan mengganti pakaianmu dulu." gumam Karina pada akhirnya.
Karina lalu berlari kecil menuju lemari pakaian milik Alvin. Ia mengobrak-abrik lemari milik pemuda itu untuk mencari pakaian ganti.
Begitu mendapatkan apa yang dicari, Karina segera berlari menuju Alvin lagi untuk menggantikan pakaian pemuda itu dengan pakaian yang lebih kering.
Namun saat Karina hendak membuka kaos basah yang ia kenakan, pemuda itu dengan cepat membuka matanya.
"Kau mau apa?" tanya Alvin lemas namun dengan raut wajah dingin.
Karina menatap Alvin beberapa detik sebelum menjawab.
"Aku ingin mengganti pakaianmu. Apalagi memangnya?"
"Tidak perlu kau ganti. Biarkan saja pakaianku seperti ini. Kau pulang saja sekarang. Aku bisa mengurus diriku sendiri mulai sekarang. Aku ingin tidur sejenak untuk mengurangi sakitku."
"Pakaianmu sudah basah oleh keringat." ujar Karina tegas. Gadis itu tampaknya tak peduli dengan ucapan pemuda itu yang tengah mengusirnya.
"Karina dengar-
"Kau yang dengarkan aku, Alvin!" sentak Karina. "Aku sedang mencoba membantumu. Diamlah dulu sebentar."
Alvin memejamkan matanya karena pandangannya menghitam untuk beberapa detik. Ia merasakan rasa sakit di baguan kepalanya. 'Siál, kenapa aku harus sakit sekarang?' batin Alvin.
Melihat Alvin yang tampak diam, Karina melanjutkan kegiatannya.
"Tenang saja. Aku hanya mengganti kaosmu." ujar Karina perlahan membantu melepas pakaian Alvin dan menggantinya dengan pakaian yang kering.
"Lihat, ini bahkan tak lama." ujar Karina setelah selesai mengganti pakaian Alvin.
Alvin diam beberapa saat sebelum ia menatap Karina dan menghela napasnya panjang.
"Karina, aku berterima kasih atas bantuanmu malam ini. Tapi ku pikir akan lebih baik kalau kau pergi saja." Alvin berbisik dengan suara paraunya.
Karina menaikkan sebelah alisnya, "Kenapa memangnya?"
"Tidak baik jika ada yang melihatmu berada di kamarku."
"Kau mau aku meninggalkanmu sendirian di sini, begitu?" Karina bertanya dengan nada dingin. "Kau mau aku membiarkanmu di saat kondisimu seperti ini?"
"Aku tidak sendirian. Aku bisa meminta seseorang untuk datang."
Alvin lalu meraih ponselnya dari kantong celananya dan mengetikan sesuatu.
"Kau mau apa?" tanya Karina.
"Menelepon Dave."
__ADS_1
"Untuk apa kau menghubunginya? Ingin Dave datang kemari dan menemanimu?" tanya Karina namun tak digubris oleh Alvin.
Dengan cepat Karina langsung merebut ponsel yang Alvin pegang.
"Apa yang kau lakukan, Karina!"
"Ini jam hampir subuh dan kau masih mau mengganggu sahabatmu itu. Kau tak lihat ada aku di sini. Aku bisa meluangkan waktuku untuk membantumu."
"Tapi aku tak ingin bersamamu." tolak Alvin.
Karina diam saja. Ia tetap fokus menatap Alvin. Gadis itu meletakkan ponsel Alvin ke atas nakas dan meletakkan pakaian basah Alvin ke dalam keranjang pakaian kotor yang berada dekat pintu kamar.
Dan, setelah mengganti pakaian pemuda itu, Karina menuju dapur untuk mengambil baskom berisi air dan mengeluarkan sapu tangan miliknya untuk membuat kompresan.
Begitu kembali ke kamar ia melihat Alvin sudah memejamkan mata. Karina menghela sembari meletakkan baskom ke atas nakas.
"Sebenarnya bagaimana kehidupanmu setelah kita berpisah, Alvin?" Karina bertanya pada Alvin yang masih memejamkan matanya setelah meletakkan kompresan di kening pemuda itu.
Karina terkejut saat tangan Alvin tiba-tiba saja memegan lengannya. "Alvin. Apa yang kau-"
"Jangan pergi.. kumohon..."
"Apa?"
"Aku merindukanmu."
Karina terhenyak.
"Apa Alvin sedang mengigau sekarang?"
Karina mengecek dahi Alvin dengan punggung tangannya. Demam pemuda ini sungguh tinggi sampai membuatnya mengigau begini.
Karina lantas tersenyum. Hatinya sungguh senang setelah mendengar Alvin menahannya pergi.
"Tenanglah… aku tak akan pergi." jawab Karina senang.
Pemuda itu tak mengatakan apa-apa lagi. Sepertinya sudah benar-benar tertidur.
Karina menghela lalu membelai pipi pemuda itu. "Yah, aku akui kalau aku memang terlalu kejam pada dirimu." gumamnya.
Setelah mengurus segala hal yang Alvin butuhkan, Karina mengecek jam yang berada di dinding rumah Alvin. Ini sudah jelas hampir pukul 04.00 pagi.
Karina masih tampak duduk di samping kasur Alvin dengan mata lelah dan sedikit perasaan bersalah yang entah kenapa mulai kembali muncul di dalam hatinya bahkan mengingat segala hal yang sudah ia lakukan pada Alvin.
Karina sungguh menyesal dan tak ingin membuat Alvin merasa sakit hati lebih dari sebelumnya. Ia akui kalau Alvin memang sangatlah rapuh. Pemuda itu akan mudah sedih bahkan minder jika ada yang menghinanya.
Diam-diam muncul ide di kepala Karina yang ingin menjaga Alvin selama pemuda itu sakit.
"Sepertinya aku memang akan menginap di sini malam ini." Gumamnya pada dirinya sendiri.
Karina mengelus puncak kepala Alvin.
"Apa ini. Kami sudah putus, tapi aku masih peduli padamu." gumamnya mengelus pipi Alvin.
__ADS_1
***