Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
120


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam saat Evelyn melangkah keluar dari restoran dan memasuki mobilnya.


Mobil Ziva tampak baru saja melewatinya, meninggalkan area restoran. Sahabatnya itu pulang lebih dahulu karena ada janji temu untuk membahas pekerjaan dengan rekan sekantornya.


Sementara Evelyn sendiri tak langsung pulang ke rumahnya. Gadis cantik itu memutuskan untuk berdiam diri di dalam mobilnya selama beberapa saat.


Evelyn menghela napasnya lelah. Ia bersandar pada kursi mobilnya. Termenung selama beberapa saat. Melamunkan banyak hal. Salah satunya adalah cara membuat Alvin menjadi miliknya.


Sejujurnya apa yang Evelyn sadar kalau apa yang ia rasakan pada pemuda itu bukanlah cinta. Tapi sesuatu yang lebih mengarah ke obsesi. Ia tertarik pada Alvin.


Evelyn merasa jika pemuda itu terlalu berharga untuk dilepaskan dan pada akhirnya menjadi milik orang lain. Ia tak rela.


Lantas, apakah Alvin sendiri mau menjadi pasangan hidup Evelyn seperti yang ia harapkan atau justru tidak. Itulah jawaban yang ingin Evelyn cari dari pemuda itu.


Jujur saja, meskipun punya banyak pengalaman tentang pria karena selama ini selalu hidup dikelilingi banyak pria tapi semua berbeda ketika ia bertemu Alvin.


Evelyn seperti bertemu karakter baru dalam hidupnya dan membuatnya kesulitan membaca isi hati pemuda itu. Alvin sangat tertutup tentang perasaannya.


Biasanya para lelaki yang dekat dengan Evelyn akan langsung mengutarakan apa yang mereka rasakan. Setelah itu mereka akan melanjutkannya dengan tidur seranjang.


Tapi Alvin tidak.


Pemuda itu seolah memberi tanda kalau ia memang tertarik pada Evelyn sama seperti halnya Evelyn tertarik padanya. Tapi entah kenapa seolah tak ada pergerakan apapun yang Evelyn lihat darinya.


Hanya tanda, tanpa aksi.


Dan itulah yang membuat Evelyn frustasi karena jangankan untuk tidur seranjang, apa yang Alvin rasakan saja Evelyn tak tahu.


Evelyn menarik napas dalam-dalam. Sepertinya ia memang harus menjadi orang yang bergerak lebih dahulu disini.


'Menyatakan rasa lebih dulu pada laki-laki, tak ada yang salah dengan itu, kan?' batinnya.


Jika Evelyn tak melakukan itu, ia merasa Alvin akan lebih dahulu di ambil orang lain karena Evelyn yakin banyak wanita yang juga menginginkan pemuda itu selain Evelyn sendiri.


Evelyn mendecih. Ia tak akan membiarkan hal itu terjadi padanya. Tidak akan pernah.


"Alvin milikku. Hanya milikku saja. Sampai kapanpun akan terus begitu. Dan secepatnya aku akan menjadikannya milikku, seutuhnya." gumam Evelyn tajam.


Detik selanjutnya Evelyn buru-buru memasang sabuk pengamannya.

__ADS_1


'Jika Alvin tak maju, biarkan aku yang bergerak lebih dahulu.' gumamnya.


Evelyn lalu menyalakan mesin mobilnya dan mengendarainya keluar dari halaman parkir restoran.


.


.


Sekitar satu jam kemudian Evelyn sudah berada di halaman parkir klub malam milik ayahnya. Ini merupakan tempat yang sama dimana Alvin bekerja.


Gadis itu mematikan mesin mobilnya dan mendongak untuk menatap bangunan klub malam yang ada di hadapannya.


"Saat ini dia sedang sibuk atau tidak, ya?" gumam Evelyn melirik jam di pergelangan tangannya. Ia ingin menemui Alvin tapi tak ingin mengganggu waktu bekerja pemuda itu.


Evelyn menolehkan kepalanya, menatap pada bingkisan yang ada di kursi mobil di sebelahnya.


Itu adalah bingkisan makanan yang sempat ia beli saat masih diperjalanan menuju kemari. Tujuan utama Evelyn datang kesini adalah untuk memberikan bingkisan makanan itu pada Alvin.


Namun Evelyn malah bingung bagaimana cara menyerahkan bingkisan ini pada Alvin.


Jika ia lewat pintu depan semua pelayan sudah pasti akan mengenalinya. Dan mereka pasti akan melihatnya memberi sesuatu pada Alvin.


Haruskah ia masuk melalui pintu belakang saja dan menitipkannya pada seseorang?


Namun Evelyn buru-buru menggelengkan kepalanya. 'Itu sama saja. Tetap akan ada rumor beredar yang akan merugikan Alvin nanti."


Evelyn tiba-tiba saja teringat sesuatu dan menepuk dahinya sendiri.


"Kenapa aku harus bingung. Aku kan punya nomor ponselnya." gumam Evelyn mentertawakan dirinya sendiri.


Evelyn lalu mengeluarkan ponselnya dari dal tas untuk menghubungi Alvin.


Sekarang nyaris jam setengah sebelas malam dan sepertinya pemuda ini agak sibuk. Jadi akan lebih baik kalau Evelyn mengakhiri telepon ini dengan cepat.


"Halo?"


Terdengar suara serak Alvin dari seberang telepon.


"Hai, Alvin?" Evelyn menyapa balik. "Maaf aku mengganggu pekerjaanmu. Tapi apa kau bisa keluar dari klub untuk menemuiku sebentar."

__ADS_1


"Anda tidak menggangguku. Tapi apakah anda sedang ada di klub?"


"Ya, aku menunggumu di area parkir." jelas Evelyn. Kedua matanya menatap ke arah klub yang mulai ramai.


"Aku tak bisa menemui anda karena hari ini aku tak ada diklub."


Ucapan Alvin itu membuat kedua alis Evelyn berkerut. "Kau tidak diklub? Memangnya kau ada dimana sekarang? Tak bekerja."


"Aku sedang dirumah. Kebetulan hari ini aku sedang libur bekerja." suara Alvin terdengar agak lemas dan serak.


Tepat setelah Alvin mengatakan itu, Evelyn bisa mendengar Alvin yang batuk-batuk.


"Kau sakit?" tebak Evelyn.


"Aku hanya sedikit flu." jelas Alvin, "Tapi apakah anda ingin bicara sesuatu yang penting denganku?"


Evelyn berusaha untuk tak mengumpat setelah mendengar informasi itu.


"Kau sungguh sakit? Sejak kapan? Bukankah siang tadi kau masih makan bersamaku?" Evelyn bertanya dengan nada khawatir.


"Iya, memang benar. Siang hari tadi sebenarnya sudah pusing sedikit. Aku tak tahu kenapa tapi setelah tidur siang hidungku terasa panas dan kepalaku juga sangat pusing. Sepertinya aku tidak bisa bertemu dengan anda malam ini."


Evelyn terdiam.


Ia tampak mengingat-ingat dan langsung menyadari kalau tadi wajah Alvin memang terlihat sangat pucat.


Evelyn menggigit bibirnya, bimbang tentang apa yang harus dilakukan saat ini. Dan detik selanjutnya, sebuah ide muncul di kepalanya dan membuat Evelyn tersenyum.


"Berikan alamat rumahmu?" ujar Evelyn tiba-tiba.


"Alamat saya?"


"Ya."


"Tapi kenapa?" Alvin bertanya heran.


Evelyn kembali terdiam untuk beberapa saat, menoleh kembali untuk menatap bingkisan makanan di sebelahnya, sebelum kemudian menjawab pertanyaan Alvin.


"Aku akan pergi ke rumahmu sekarang juga."

__ADS_1


***


__ADS_2