Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
53


__ADS_3

Itu jam sembilan malam saat Evelyn tengah duduk menyilangkan kakinya di ruang tamu. Ia tampak bersantai ria sembari memutar-mutar gelas kopi yang ia pegang saat tiba-tiba terdengar suara sepatu hak tinggi memasuki rumahnya.


Itu Ziva yang muncul sudah dengan mengenakan gaun indahnya.


"Hei, apa-apaan ini? Kenapa kau belum bersiap juga?" tanya Ziva kesal. Siapa yang tidak kesal. Ziva sudah bersiap sejak tadi bahkan pergi dengan sedikit buru-buru agar tiba tepat waktu di rumah Evelyn. Tapi begitu sampai, ia malah mendapati sahabatnya itu sama sekali belum bersiap.


"Bukankah aku sudah mengatakan padamu untuk bersiap?" Ziva berujar semakin kesal saat ini.


"Hm…"


"Lalu kenapa kau masih bersantai di sini?"


"Kopi..." ujar Evelyn sembari mengangkat gelas kopi di tangannya. "Ini enak, biarkan aku menikmati minuman ini."


"Eve!" seru Ziva sembari memutar bola matanya malas. "Seriuslah sedikit!"


Mendengar omelan Ziva itu, Evelyn langsung menghela napasnya malas sembari meletakkan gelas kopi yang ia pegang ke atas meja di hadapannya.


"Begini Ziva..." Evelyn menatap sahabatnya itu dengan senyum canggung. "Sepertinya aku memutuskan untuk tidak pergi menemuinya malam ini."


"Tidak pergi?" ujar Ziva menaikkan sebelah alisnya bingung. "Tapi kenapa?"


"Sebenarnya aku merasa… agak ragu." jawab Evelyn pelan. "Bagaimana kalau dia menganggapku sebagai wanita murahán nantinya?"


Perkataan Evelyn itu membuat Ziva langsung memutar matanya bosan.

__ADS_1


"Kau hanya melebih-lebihkan saja. Dia itu pemuda yang baik, kupikir dia tak akan melakukan itu. "


"Bagaimana kau bisa tau? Kau bahkan tak benar-benar mengenalnya."


"Yah, aku pikir dia memang anak baik. Dia tak akan menilai orang segampang itu di saat mabuk. Kurasa."


Evelyn menyipitkan kedua matany.


"Kedengarannya kau bahkan tak yakin dengan penilaianmu sendiri.."


"Aku hanya... menebaknya. Mungkin saja dia tak memandangmu begitu, kan?"


Evelyn mendecih sinis. "Kau bahkan hanya menebaknya, Ziva. Yang benar saja."


"Aku hanya menundanya, Ziva. Kita bahkan bisa menemuinya di lain hari, kan?" ujar Evelyn tak semangat


"Kau sudah menundanya selama beberapa hari Evelyn! Dan saat itu kau membuatku pusing dengan penyesalanmu itu." seru Ziva tak sabar. "Aku tak ingin mendengar ocehan penyesalanmu lagi jadi sekarang cepat selesaikan ini semua agar aku tak sakit kepala mendengar teriakan-teriakan konyolmu itu lagi."


"Berhentilah membuat alasan. Sekarang, cepat ikut aku." ujar Ziva dengan cepat memegang lengan Evelyn dan menyeret gadis itu menuju ke kamarnya.


"Ziva tapi-"


"Tidak ada kata tapi-tapian!" potong Ziva bersikeras sambil terus membawa Evelyn menuju kamarnya.


Dan sesampainya mereka di depan pintu kamar Evelyn, Ziva segera mendorong Evelyn masuk ke dalam kamarnya untuk berganti pakaian.

__ADS_1


"Cepatlah kau bersiap, aku akan tunggu disini." ujar Ziva menutup pintu kamar sahabatnya itu lalu bersandar di tembok dekat pintu kamar Evelyn untuk menunggu gadis itu berganti pakaian.


Tak beberapa lama kemudian Evelyn keluar dengan menggunakan hoodie berwarna abu-abu. Ia bahkan menutup kepalanya dengan topi hoodienya. Dan penampilan gadis itu sontak membuat Ziva memekik kaget.


"Astaga, Eve! Apa lagi yang kau kenakan ini?" protes Ziva histeris. "Kita ini akan ke klub malam, bukannya pergi ke gym."


"Apa yang salah?"


"Ini tidak salah. Tapi ini jelas aneh. Kenapa juga kau malah menggunakan pakaian ini? Dan ini juga, kenapa harus pakai masker debu begini?"


"Aku harus menutupi wajahku seperti ini agar pelayan itu tak mengenaliku nanti." ujar Evelyn menarik topi hoodie-nya untuk lebih menutupi wajahnya.


"Oh ayolah, Eve! Yang benar saja, bukankah tujuan kita adalah menemuinya. tidak mungkin kan kau me-"


"Kau ingin kita pergi kan?"


"Ya."


"Bagus, kalau begitu ayo!"


"Kau sudah memaksaku pergi dan aku menurut. Aku juga sudah ganti pakaian sekarang. Kita akan pergi, oke! Dan aku akan pergi dengan pakaian ini atau tidak sama sekali." ujar Evelyn santai sambil berlalu pergi meninggalkan Ziva yang tengah menatapnya di belakang.


Ziva hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku sahabatnya itu. "Dasar konyol! Dia benar-benar akan pergi ke klub malam dengan hoodie itu?"


***

__ADS_1


__ADS_2