
Evelyn yang mendengar perkataan kasar dari Karina itu tampak heran.
"Apa katamu?"
"Diam! Sudah kukatakan padamu untuk diam dan jangan ikut campur!" ujar Karina pada Evelyn.
Meskipun pada awalnya cukup merasa kaget dengan kehadiran Evelyn tapi tetap saja Karina memilih untuk tak mengindahkan kehadiran gadis itu.
Karina masih merasa punya urusan dengan Alvin. Ia yakin kalau tujuan Alvin ada di sini karena ia memang berniat untuk menemui dirinya. Ia bahkan merasa kalau saat ini Alvin hanya mencoba mengulur waktu saja dan membuat alasan.
"Dan Alvin, bukankah kau sudah menemukan ponselmu. Jadi, cepat hubungi teman-temanmu itu!" ujar Karina kembali memerintah Alvin.
"Karina, bukankah aku sudah mengatakan padamu sejak tadi, aku kemari bukan untuk menemuimu. Aku hanya ingin bertemu temanku."
"Kalau begitu cepat hubungi mereka dan buktikan saja padaku!" tantang Karina.
Alvin menghela lelah. Ia menyerah untuk menjelaskan apapun pada Karina. Ingatkan dirinya sendiri kalau ini akan menjadi yang terakhir kali ia berurusan dengan gadis ini.
"Baiklah." ujar Alvin menyerah.
Alvin sudah hendak mencari nomor teman-temannya sampai tiba-tiba saja Evelyn memegang lengannya.
"Alvin, ada apa sebenarnya?" bisik Evelyn penasaran.
Alvin menggelengkan kepalanya dan tersenyum pada Evelyn.
"Tidak apa-apa, nona. Ini hanya salah paham yang harus aku selesaikan dengannya..." Alvin menunjuk Karina dengan dagunya.
Evelyn menoleh sekilas pada Karina lalu kembali menatap Alvin.
"Masalah apa. Bisakah aku tahu?" bisik Evelyn.
"Tidak apa, nona. Ini masalah kecil." ujar Alvin lembut.
__ADS_1
Alvin tersenyum pada Evelyn lalu menggeleng sambil kembali menatap ponselnya, hendak kembali mencari nomor teman-temannya.
Evelyn menatap Alvin beberapa saat sebelum tiba-tiba tersenyum licik. 'Ini kesempatan bagus.' batinnya.
Gadis itu kemudian kembali memegang pergelangan tangan Alvin, menahan pemuda itu yang hendak menghubungi temannya.
"Alvin, dengar! Apapun masalahnya, kau jangan lakukan apa yang dia inginkan!" perintah Evelyn.
Karina yang mendengar itu sontak saja menatap dingin pada Evelyn. "Apa-apaan, kau!"
Evelyn menatap Karina licik, "Aku sedang melarangnya untuk tidak mengikuti maumu, apapun itu masalahnya." ujar Evelyn santai.
"Kau diam saja, sialán. Kami punya urusan sendiri. Dan kau tak perlu ikut campur."
"Kau-"
"Nona-" Evelyn sudah hendak bicara lagi untuk menanggapi Karina namun ucapannya terhenti saat tangan Alvin menyentuh lengannya, menahannya agar tak meladeni Karina.
"Tolong hentikan." mohon Alvin pada Evelyn
"Apa-apaan itu. Kenapa mereka saling menyentuh satu sama lain seperti itu?" Karina menggerutu pada dirinya sendiri.
Ia kesal melihat Alvin yang menyentuh Evelyn dengan santainya. Sejauh yang Karina tahu, Alvin tidak akan pernah mau menyentuh tangan wanita dengan sembarangan begitu.
'Apa sebenarnya hubungan mereka?' batin Karina heran.
Dan juga, ia heran entah kenapa gadis sialán itu selalu tiba-tiba saja muncul dan mencampuri urusannya. Jangan lupa dengan apa yang sudah gadis bernama Evelyn ini lakukan pada Karina saat di klub malam beberapa waktu lalu.
"Alvin, kenapa kau diam saja. Jika kau terus diam begini, dia tidak akan berhenti menghinamu. Dia pikir dia bisa seenaknya menginjak-injak orang lain seperti itu." bisik Evelyn, menatap Karina tajam.
Sementara Karina saat ini tengah menatap ke arah mereka dengan tatapan merendahkan.
"Ya ampun, aku membenci sekali pada gadis konyol itu. Wajahnya benar-benar menyebalkan untuk dilihat. Aku ingin menámparnya." omel Evelyn.
__ADS_1
Evelyn tak berbohong saat mengatakan ia membenci Karina. Ia tak pernah merasa sekesal ini dalam selama ia hidup. Evelyn bahkan tak pernah ingin menampar wajah orang sebesar ia ingin menampar wajah Karina sekarang.
"Aku sama sekali tidak masalah dengan hal ini, Nona. Sungguh. Jangan hiraukan dia. Aku akan menyelesaikan masalahku sendiri." Alvin mencoba menenangkan Evelyn.
Tapi Evelyn sudah tak tahan. Ia menatap Alvin lalu melirik ke arah Karina sekilas.
Evelyn tersenyum kecil lalu menggelengkan kepalanya, memberi tanda pada pemuda itu kalau ia tak akan menurut.
"Minggir dulu, oke!" Evelyn lalu mendorong Alvin agar menyingkir dari jalannya.
Melihat Evelyn yang melangkah maju, Alvin jadi gelagapan.
"Nona, anda mau apa!" seru Alvin.
Tapi Evelyn seolah tak peduli, gadis itu tak menjawab, malah melangkah maju dan meninggalkan Alvin dibelakang.
Alvin hanya bisa menatap punggung Evelyn sembari menggaruk belakang kepalanya frustasi. "Kenapa jadi begini." ujar Alvin putus asa.
Alvin menghela napasnya kasar.
Pada awalnya, ia tidak berniat membuat Evelyn masuk ke dalam masalahnya tapi sepertinya kedua wanita ini memiliki masalah pribadi mereka sendiri dan malah menjadi pertengkaran antar para wanita.
Evelyn melirik ke belakang, menatap Alvin sekilas lalu kembali menatap Karina sembari melipat kedua tangannya di dada.
"Siapa bilang aku tak bisa ikut campur?" ujar Evelyn santai. "Aku bisa ikut campur semauku karena kami punya hubungan istimewa. Jadi apapun masalah yang menimpa Alvin, itu juga masalahku."
"Apa?" Karina menaikkan sebelah alisnya.
Evelyn tersenyum kemudian melangkahkan kakinya, lebih mendekat pada Karina.
"Kau harus tahu kalau Alvin dan aku…" sekali lagi Evelyn menatap Alvin sekilas, kemudian kembali menatap Karina sinis.
"Alvin… sebenarnya dia adalah kekasihku."
__ADS_1
***