Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
19


__ADS_3

Di ruang kuliah, Alvin sedang mencoba untuk fokus mendengarkan dosennya yang tengah mengajar di depan kelas.


Sejak tadi ia mencoba fokus tapi sudah bisa di tebak kalau ia pasti gagal. Ia sama sekali tak bisa fokus.


Jujur saja sejak tadi pikirannya terus saja teralihkan oleh semua masalah yang selalu menimpanya beberapa waktu belakangan ini.


Mulai dari Karina yang mencampakannya sampai ia yang harus kehilangan pekerjaan karena kecerobohan yang ia buat sendiri.


Tiba-tiba, Dave menepuk bahunya. "Alvin!"


"Eh, ya?"


"Kau tidak apa-apa, kan?" bisiknya karena tak ingin di dengar dosen yang berada di depan.


"Aku kenapa memangnya?"


"Kau melamun barusan. Kau baik-baik saja, kan?"


Alvin tersenyum lalu mengangguk. "Tidak apa-apa."


"Yakin?"


"Aku yakin." jawab Alvin mantap.


Dave menatap Alvin beberapa saat kemudian tersenyum canggung.

__ADS_1


"Kau memikirkan Karina?"


"Tidak."


Dave masih menatap Alvin beberapa detik sebelum kembali bicara. "Yah apapun alasannya, jangan kebanyakan melamun. Ini jam kuliah."


Setelah mengatakan itu,Dave lalu menunjuk ke depan kelas dengan dagunya.


Alvin mengikuti arah yang dimaksud Dave dan kembali tersenyum.


Tak ada yang salah dari peringatan sahabatnya itu. Dosen yang sedang mengajar di depan adalah dosen yang amat pemarah apalagi jika ada mahasiswa yang tak memperhatikan penjelasannya


"Perhatikan penjelasannya jika tak ingin mendapat hukuman atau parahnya lagi adalah kau akan diberi nilai yang rendah." ujar Dave.


Setelah itu Alvin mencoba fokus pada mata kuliah yang sedang ia pelajari. Meskipun penjelasan sang dosen tak masuk sama sekali, tapi ia tetap berusaha.


Selang beberapa saat kemudian jam mata kuliah pertama-nya akhirnya selesai.


Alvin menyampirkan tas kuliahnya ke bahu dan melangkah keluar kelas. Ia segera bergegas menuju ruang administrasi karena beberapa saat yang lalu ia mendapat panggilan resmi dari petugas administrasi kampusnya agar segera datang ke ruangan administrasi.


Urusan ini ternyata berkaitan dengan tunggakan biaya semester Alvin yang belum dilunasi.


"Batas waktunya sudah hampir habis, Alvin." ujar petugas administrasi itu.


"Apa anda tidak bisa memberi waktu lagi pada saya, bu?" tanya Alvin pada petugas administrasi di hadapannya itu dengan raut wajah memelas.

__ADS_1


Sesaat setelah Alvin tiba di ruang administrasi ini, ia di beri informasi bahwa harus segera membayar sisa tagihan semester yang sempat ia cicil beberapa waktu yang lalu.


Alvin terkejut karena tagihan ini terlalu mendadak untuknya. Ia teledor karena tak mengecek tanggal pembayarannya.


Petugas administrasi itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak bisa, Alvin."


"Saya hanya butuh waktu tambahan, bu." ujar Alvin lagi.


"Saya minta maaf Alvin, tapi saya tidak bisa memberi waktu lagi. Ini adalah kebijakan dari kampus. Saya hanya menjalankan tugas. Lagipula selama ini pihak kampus juga sudah memberi keringanan padamu agar bisa mencicil pembayaran."


"Saya mengerti bu. Tapi untuk sekarang ini saya belum punya uang."


"Ibu tahu. Tapi apa boleh buat karena sekali lagi, ini merupakan kebijakan kampus. Jadi dengan berat hati saya memberitahu kalau kamu harus membayar sisa cicilan semesternya dan tenggat waktu paling lambat adalah minggu depan."


Alvin meringis.


Ia tak punya uang untuk saat ini. Jadi, mana bisa ia mendapat uang minggu depan. Ia kan bukan jin yang hanya dengan satu kedipan mata bisa mendapatkan apa yang ia mau.


"Ingat, jangan terlambat membayarnya nanti. Kalau kamu terlambat, saya tidak punya pilihan lagi selain mengeluarkan kamu dari kampus ini." ujar petugas administrasi itu.


Alvin akhirnya hanya bisa menghela napasnya pendek kemudian mengangguk pelan.


"Baik bu, saya akan mengusahakan agar bisa mendapatkan uang untuk membayar sisa tagihan semester saya, bu. Kalau begitu saya permisi, " ujar Alvin pasrah lalu segera pamit pergi dari ruangan itu.


***

__ADS_1


__ADS_2