
Alvin sontak mendongak, menatap sang atasan sambil membulatkan kedua matanya. Haruskah ia mempercayai telinganya?
"A-Apa bos?" tanya Alvin kaget.
"Dipecat."
"Sa-saya di pecat?"
"Ya." jawab sang atasan tanpa ragu sedikit pun.
"Tapi kenapa bos?"
"Kenapa kau bilang? Kau masih bertanya apa alasannya? Bahkan setelah kau melakukan kesalahan tadi?" pekik atasan Alvin.
"Tapi saya sungguh tidak sengaja, bos." Alvin mencoba membela diri.
Sang atasan mendecih sinis.
"Asal kau tau saja, kau baru saja membuatku merugi besar hari ini."
Alvin menatap atasannya itu dengan tatapan miris. Ia tak percaya langsung dipecat karena kesalahannya tadi.
"Bos, saya tadi tidak sengaja me-"
"Kau masih mencoba membela diri atas hal ceroboh yang sudah kau lakukan?"
__ADS_1
Alvin langsung menundukkan kepalanya, takut. "Maaf, bos."
Atasan Alvin diam beberapa detik lalu menghela napasnya perlahan.
"Aku tahu semua yang terjadi hari ini adalah murni karena kesalahanmu sendiri, Alvin. Jadi ini jelas tanggung jawabmu." jelas sang atasan.
Alvin masih menundukkan kepalanya. Benar. Ia akui hari ini ia memang melakukan hal bodoh dan juga ceroboh.
"Aku perhatikan sedari tadi kerjamu itu hanya melamun saja. Bukannya bekerja dengan benar. Kau kurang konsentrasi dan tanpa sengaja menabrak pelanggan itu." sang atasan menjelaskan.
"Maka dari itu aku menganggap ini semua adalah kesalahanmu sendiri." jelas sang atasan lagi, tegas.
Alvin mendongak, menatap atasannya. "Tapi bos saya bisa mencoba mengganti kerugian restoran ini nanti."
"Ya bos, saya akan mengganti dan melunasi kerugian yang bos alami hari ini."
"Melunasi?" sang atasan terkekeh. "Dengan apa? Gajimu? Cih, ayolah Alvin! Untuk bekerja saja kau tidak becus."
Alvin menggelengkan kepalanya. "Bos, saya tadi melakukan kesalahan yang bahkan tidak sengaja. Dan ini juga kali pertama saya membuat kesalahan. Tapi kenapa saya tidak diberi kesempatan lagi."
"Ini memang kesalahan pertamamu. Tapi imbas yang kau lakukan tidak kecil. Kau membuat restoranku jelek di mata pengunjung. Kau juga membuatku harus ganti rugi." ujar sang atasan tajam.
"Dengar Alvin! Kau baru saja membuatku mengeluarkan uang sebesar lima juta rupiah. Gajimu di sini hanya satu setengah juta. Bayangkan! Uang sebesar itu bahkan bisa aku gunakan untuk menggajimu selama empat bulan lamanya." terang sang atasan tajam dengan nada yang semakin meninggi.
Alvin menelan ludahnya, getir. Mengapa semuanya jadi kacau seperti ini. Dia malah membuat dirinya sendiri kehilangan pekerjaannya sekarang.
__ADS_1
"Bos, saya mohon jangan pecat saya." mohon Alvin dengan wajah memelas. "Tolong Bos! Saya sangat membutuhkan pekerjaan ini."
Sang atasan menghela nafasnya pelan.
"Kalau kau memang butuh pekerjaan ini harusnya kau bekerja dengan benar. Bukan malah menyia-nyikan pekerjaan yang ada."
Jawaban dari sang atasan itu membuat Alvin menunduk. Ia akui kalau dirinya memang tak melakukan pekerjaannya dengan benar tadi dan malah melamun. Ya, semua ini memang murni kesalahannya.
Sang atasan diam untuk beberapa saat kemudian menghela.
"Begini saja, sekarang kau pilih. Di pecat atau kau harus bekerja tanpa di gaji selama empat bulan disini?" tawar sang atasan.
Alvin mendongak, kaget. Ia menatap sang atasan tak percaya. Bagaimana dia bisa memilih pilihan konyol seperti itu?
"Bos, mana bisa saya me-"
"Pilih! Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu untuk diskusi ini." ujar sang atasan acuh.
Alvin diam beberapa saat. Dia tidak mungkin memilih bekerja tanpa di gaji. Dia kan bekerja untuk mendapatkan uang agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tapi kalau dia berhenti, akan sulit baginya mendapatkan pekerjaan baru lagi.
"Baiklah bos. Saya akan berhenti." Alvin berujar pasrah setelah sebelumnya berpikir matang-matang.
Alvin akan memikirkan cara untuk mendapatkan pekerjaan baru lagi setelah ini. Alvin tidak mungkin bertahan di sini tanpa di gaji sedangkan ia sangat membutuhkan uang.
***
__ADS_1