Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
72


__ADS_3

Alvin melangkah tenang di bawah teriknya sinar matahari siang itu memasuki area kampusnya.


Baru beberapa saat melewati gerbang kampus, langkah kaki Alvin tiba-tiba saja terhenti.


Matanya menatap lurus ke depan. Di jarak beberapa meter di depannya, ada sosok gadis cantik.


Alvin bisa merasakan tubuhnya membeku di tempatnya berdiri, sementara kedua matanya menatap ke arah sosok gadis cantik yang berdiri tak jauh darinya itu.


Sosok itu, Alvin hafal jelas siapa sosok dihadapannya itu. Dan detik itu juga Alvin bisa merasakan jika waktu ikut berhenti untuk sesaat setelah menyadari siapa sosok yang ada di hadapannya itu.


Gadis cantik dengan aura dominasi yang begitu kuat. Aura yang bisa membuat Alvin merasakan dengan jelas dadanya yang saat ini tengah bergejolak hebat. Ia bahkan hanya bisa berdiri mematung di posisinya.


"Karina?" bisik Alvin pelan pada dirinya sendiri. Dan detik itu juga Alvin langsung memicingkan kedua matanya, menatap gadis itu dengan tatapan sinis.


Ya, sosok gadis cantik itu adalah Karina.


Dia adalah gadis yang sudah mencampakan Alvin begitu saja beberapa waktu lalu.


"Dia ada di sini juga?" gumam Alvin lagi. Ia heran. Setahu Alvin, jam pulang kuliah sudah berakhir beberapa jam lalu, tapi entah kenapa gadis itu masih ada di sini juga.


Alvin menelan ludahnya kasar. Jujur saja, ia amat gugup sekarang. Yah, Alvin benci untuk mengakuinya, tapi kehadiran Karina memang selalu membuat hati Alvin menghangat setiap ia bertemu dengan gadis itu.


Meskipun faktanya, gadis itu sudah menyakiti hati Alvin berulang kali bahkan menghinanya tapi Karina masih mampu menggetarkan hati Alvin.


Mungkin itu karena hubungan percintaan mereka bukanlah hubungan yang biasa. Itu bukan hubungan singkat dimana Alvin bisa melupakannya dengan mudah.

__ADS_1


Karina adalah cinta pertama Alvin. Dia gadis pertama yang membuat Alvin jatuh cinta. Dan itu yang menjadi salah satu sebab kenapa Alvin tak bisa melupakannya dengan cepat.


Alvin bukannya tak berusaha. Alvin sudah mencoba melupakannya, namun sampai saat ini, Alvin akui kalau ia belum mampu.


Alvin sadar kalau ia butuh seseorang yang dapat membuatnya lupa akan hubungannya dan Karina. Tapi ia belum percaya diri untuk membuka hatinya pada orang lain. Karina telah benar-benar berhasil menguasai hatinya.


Sementara itu, didepan sana ternyata Karina juga sudah menyadari kehadiran Alvin bahkan sejak awal kedatangan Alvin di pintu gerbang.


Gadis itu hanya menatap Alvin dengan senyum meremehkan. Raut wajah gadis itu bahkan seakan tengah mengejek Alvin yang saat ini terlihat seperti lelaki yang begitu menyedihkan menurutnya.


Alvin mendongak untuk menatap Karina sekali lagi. Ia menghela napas. Bertemu dengan Karina seperti ini bukan hal bagus baginya saat ini.


Logika berkata pada Alvin untuk segera menjauh dan pergi meninggalkan tempat itu.


Alvin kembali melangkahkan kakinya untuk menjauh, namun apa daya baru juga Alvin melangkah, Karina sudah lebih dahulu memanggilnya.


Alvin menghentikan langkahnya. Kedua mata Alvin tampak fokus menatap sosok Karina yang saat ini tengah melangkahkan kaki, mendekat ke arahnya.


Untuk sesaat Alvin hanya terdiam, menatap sosok Karina yang semakin mendekat padanya.


"Alvin, mantanku. Kebetulan sekali kau disini juga." tegur Karina.


"Ya, kebetulan sekali." balas Alvin dengan nada malas.


Karina menatap area sekitar mereka. "Sedang apa kau di sini? Bukankah ini sudah jam pulang kuliah?"

__ADS_1


Alvin hanya diam. Memilih untuk tidak mengatakan apapun. Ia hanya menatap Karina dengan tatapan dinginnya.


Karina tersenyum miring melihat raut wajah pemuda di hadapannya itu. Ia tahu kalau Alvin pasti masih merasa sakit hati padanya atas kejadian yang lalu.


"Apa ada sesuatu yang ingin kau lakukan di jam pulang kuliah ini?" tanya Karina lagi.


"Bukan urusanmu."


"Oh wow, santai saja?" ujar Karina. "Tidak perlu menaikkan nadamu begitu."


Karina mendekati Alvin dan menatap wajah Alvin lekat-lekat.


"Ah, apa jangan-jangan kau sedang menungguku di sini?" tebak Karina penuh percaya diri.


"Menunggumu?" Alvin menaikkan sebelah alisnya.


"Ya, kau menungguku, kan?"


Alvin sontak mendengus. "Untuk apa aku menunggumu?"


""Kau tau kalau aku ada jam tambahan kan, Alvin?" tebak Karina, sok tahu. "Ck, ck, apa kau berniat sekali untuk bertemu denganku sampai harus mencari tau jam tambahan kuliahku seperti ini?"


Ucapan Karina berhasil membuat dahi Alvin semakin mengerut bingung.


"Apa?"

__ADS_1


***


__ADS_2