
Evelyn menatap Karina yang tengah mengarahkan jari telunjuk padanya. Gadis itu menatap Evelyn dengan raut terkejut, seperti sedang melihat hantu.
"Apa kau bilang?" Evelyn bertanya sembari menaikkan sebelah alisnya, memastikan kalau telinganya memang tidak salah dengar.
Mendengar pertanyaan Evelyn itu membuat Karina langsung tersadar dari keterkejutannya. Perlahan Karina menurunkan tangannya yang masih menunjuk Evelyn, kemudian menatap Evelyn dengan raut wajah angkuh.
"Aku bertanya, kenapa kau bisa ada di sini juga?" tanya Karina, kali ini gadis itu bicara dengan nada yang lebih tenang.
"Kau bertanya kenapa aku disini?" jawab Evelyn lalu mendecih sinis, "Bukankah itu yang harusnya menjadi pertanyaanku padamu. Sedang apa kau di rumah kekasihku. Mantan pacar?"
Karina tersentak mendengar itu. Meskipun nada bicaranya sangat tenang, tapi ucapan itu berhasil menusuk hati Karina. Julukan 'mantan pacar' dari Evelyn itu sedikit banyak berhasil menyadarkan Karina tentang apa posisinya saat ini.
"Aku? Tujuanku datang kemari karena aku ingin menjenguk Alvin." jawab Karina menunjuk Alvin dengan dagunya.
Karina lalu mendudukkan dirinya di sofa panjang tempat Alvin duduk sebelumnya. Gadis itu melirik kotak makanan yang ada di atas meja lalu menatap Evelyn dengan tajam.
Sementara itu Alvin hanya berdiri diam di sebelah Evelyn. Sejujurnya ia bingung dengan situasi yang terjadi. Kenapa dua gadis ini bisa ada di rumahnya secara bersamaan seperti ini?
"Kau menjenguk Alvin?" gumam Evelyn kemudian dengan cepat Evelyn menoleh pada Alvin. Matanya menatap pemuda itu dengan tatapan tajam. "Kau memberitahu mantan kekasihmu juga?"
Alvin hanya bisa terdiam. Ia juga bingung harus menjawab apa pada pertanyaan Evelyn itu. Ia tak memberitahu Karina. Gadis itu kan memang sudah tahu sejak awal kalau dirinya sedang sakit.
"Alvin, wanita ini mengetahui kau sakit?" tanya Evelyn lagi tajam.
Dari nada bicaranya, Evelyn seolah memberitahu kalau ia tak terima dengan fakta kalau Karina juga tahu informasi tentang Alvin.
Alvin dan Evelyn saling tatap selama beberapa detik.
Karina yang melihat kecanggungan yang terjadi langsung terkekeh. Hal itu membuat Evelyn dan Alvin langsung menoleh bersamaan padanya, tapi tak mengatakan apapun.
__ADS_1
"Tentu saja aku tahu tentang ini. Aku yang merawatnya saat dia sakit tadi malam." Karina memberitahu Evelyn dengan raut sinisnya.
Evelyn mengerutkan alisnya. Ia mulai merasa bingung dengan pengakuan yang Karina katakan padanya. Apa katanya? Siapa merawat siapa?
"Kau apa?" tanya Evelyn, memastikan pendengaran.
"Oh, jadi kau tak tahu? Apa Alvin tak memberitahu dirimu? Bukankah kau kekasihnya, kenapa dia bahkan tak memberitahumu hal seperti ini." ejek Karina.
Awalnya ia terkejut karena Evelyn tak memberitahu Alvin tentang ini. Tapi Karina sadar kalau ini justru bisa dijadikan bahan untuk membuat hati Evelyn panas.
Evelyn menatap Karina tajam.
"Karina, lebih baik tutup mulutmu. Kau tidak perlu menjengukku lagi. Aku sudah baik-baik saja sekarang." ujar Alvin entah kenapa mulai kesal melihat Karina yang tampaknya memanas-manasi Evelyn
"Ayolah Alvin, aku hanya mengatakan apa adanya. Dan bukan salahku kalau dia tak tahu. Mungkin kau tak cukup nyaman memberitahu kekasih barumu ini, ya?"
"Jangan bicara basa-basi. Katakan saja apa yang mau kau katakan. Apa yang kau lakukan di sini bersama Alvin?" sergah Evelyn mulai kesal.
"Aku merawatnya saat sakit. Semalaman. Di sini. Di rumah ini." Karina menekankan tiap kata pada kalimatnya. Ia lalu menunjuk Alvin yang berdiri tak jauh darinya. "Kau bisa bertanya sendiri pada kekasihmu itu. Ya, kan Alvin?!"
Evelyn dan Karina beralih menatap Alvin secara bersamaan. Sementara pemuda yang ditatap itu hanya bisa memasang raut wajah gugup.
"Benar begitu, Alvin? Dia menemanimu semalaman?" tanya Evelyn dengan nada tajam.
Pertanyaan itu membuat Alvin menundukkan kepalanya. Pemuda itu menggigit bibir bawahnya, entah kenapa hatinya merasa tak enak pada Evelyn.
Sejujurnya Alvin bingung. Bukankah terakhir kali mereka hanya pura-pura pacaran dihadapan Karina? Tapi entah kenapa Alvin merasa kalau saat ini Evelyn benar-benar marah padanya.
Jauh dalam hati, Alvin merasa hatinya pecah melihat Evelyn menatapnya seperti itu. Selama ini Evelyn selalu menatapnya dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Alvin, benar dia yang menjagamu semalaman?" tanya Evelyn.
Alvin melirik Karina sekilas lalu menatap Evelyn dengan tatapan ragu. Hatinya merasa tak rela untuk mengakui apapun. Tapi ia perlahan menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Evelyn.
"Benar. Dia yang menjagaku." jawab Alvin menunduk.
"Kau lihat itu?" Karina langsung tertawa. "Sebagai kekasih Alvin. Aku jadi mempertanyakan apa sebenarnya posisimu di hati Alvin sehingga dia tak memberitahumu tentang apapun. Dimana kau saat Alvin membutuhkanmu?"
Evelyn menatap Alvin dalam diam. Jujur saja, ia sungguh kecewa mengetahui pemuda itu dan Karina berduaan semalaman. Harusnya Evelyn yang ada disana bukan? Sial.
Alvin hanya bisa menatap Evelyn yang tampaknya sudah semakin kesal. Ia menggelengkan kepala, seakan memberitahu gadis itu kalau segalanya tidak seperti yang terlihat.
"Jangan salah paham dulu." Alvin bergerak maju, lebih mendekat pada kursi Evelyn. "Memang benar dia yang menjagaku. Tapi aku juga tidak tahu kalau dia akan menginap semalaman di sini. Begitu aku bangun dia juga masih di sini. ujar Alvin mencoba menjelaskan sembari tersenyum canggung pada Evelyn.
Pemuda itu menatap Evelyn tapi dengan tatapan yang sulit diartikan. Evelyn mengerutkan alisnya melihat raut wajah Alvin. Apa itu ekspresi merasa bersalah?
"Kuharap anda tidak marah karena ini." Ujar Alvin dengan nada seolah dia memang bersalah, masih menunduk tak ingin melihat wajah Evelyn.
Alvin jadi bingung saat ini mereka sedang berpura-pura menjadi sepasang kekasih atau ini sesuatu yang alami keluar dari hati mereka masing-masing.
Evelyn hanya diam menatap Alvin. Ia lalu beralih pada Karina, menatap gadis itu selama beberapa detik. Ia menyipitkan kedua mata kemudian melipat kedua tangannya sembari menyilangkan kakinya.
"Alvin!" seru Evelyn.
Alvin bisa merasakan badannya yang mulai dingin karena gugup. Alvin mendongak untuk menatap Evelyn. Awalnya, Alvin mengira saat dia menegakkan kepalanya, dia akan mendapati wajah kesal Evelyn, tapi dia salah besar.
Evelyn malah tersenyum.
"Aku tidak marah, sayang." ujar Evelyn menarik tengkuk Alvin agar lebih dekat padanya. "Bagaimana aku bisa marah pada kesayanganku ini."
__ADS_1
***