
Itu tepat pukul satu siang, saat Alvin masuk ke rumah kecilnya dengan langkah gontai. Setelah meletakkan tas kuliahnya sembarangan ke atas lantai, Alvin langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Nyaman sekali, rumahku istanaku." gumam Alvin memejamkan kedua matanya dan menghembuskan napasnya perlahan.
"Aku lelah sekali." gumannya.
Alvin memutuskan untuk beristirahat lebih dahulu sebelum bersiap pergi bekerja. Ia butuh istirahat. Jika ia tidak, tubuhnya pasti akan merasa kelelahan karena tak pandai mengatur waktu istirahat.
Pagi sampai siang ia harus kuliah, sementara sore hingga malam ia harus bekerja di klub. Ia hanya punya waktu selama beberapa jam di siang untuk beristirahat dan mencuri-curi waktu menyelesaikan tugas kuliahnya.
Alvin mencoba untuk tidur siang selama beberapa menit, mencoba membuang rasa lelahnya, tapi ternyata gagal. Ia tak bisa tidur karena tiba-tiba saja harus teringat tentang sesuatu yang begitu mengganggu kepalanya. Itu mengenai tagihan iuran semesternya yang belum juga bisa ia lunasi.
Perlahan, Alvin membuka kembali kedua matanya dan meraih tas kuliahnya, mengeluarkan lipatan kertas dari salah satu kantong tas. Itu adalah kertas tagihan yang diberikan oleh petugas administrasi kampus padanya.
Alvin menatap lekat-lekat kertas yang berisi tanggal tagihan dari petugas administrasi yang ia dapat beberapa waktu lalu.
__ADS_1
Hanya beberapa hari lagi.
Itu adalah batas waktu yang ia miliki sampai pihak kampus mengeluarkannya. Lantas bagaimana caranya Alvin bisa mendapatkan uang untuk membayar sementara ini hanya tinggal hitungan hari. Ia bahkan baru saja mendapat pekerjaan. Itu sudah jelas kalau ia belum akan mendapatkan uang gaji dalam waktu dekat ini
Sejujurnya, Alvin bukannya tak punya uang sama sekali untuk membayar. Alvin punya. Tapi jika ia harus menggunakan uang itu untuk membayarkan iuran kuliahnya, sudah jelas Alvin tak akan makan untuk bulan ini.
Memilih antara membayar kuliah atau makan bukan hal mudah. Bagi siapapun itu. Ini antara hidup dan mati. Bisakah Alvin mengatakannya seperti itu?
Alvin akui, meskipun menurutnya gaji di tempatnya bekerja saat ini sangatlah besar tapi tetap saja ia tak bisa membayar biaya kuliahnya yang hanya di beri jangka waktu seminggu.
Alvin menarik napas dalam-dalam, lalu melipat kembali kertas tagihan semester yang ia pegang dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Bagaimana aku harus membayar tagihannya." Alvin bergumam.
Alvin menatap kosong pada dinding kamarnya. Saat ini ia hanya bisa melamunkan nasibnya. Seandainya ia punya uang simpanan sedikit lebih banyak dari yang ia punya saat ini tentunya biaya kuliahnya akan selamat.
__ADS_1
Tapi tunggu dulu. Uang simpanan?
"Oh iya. Benar juga. Uang simpanan." gumam Alvin sumringah.
Ia baru saja teringat tentang sesuatu. Seingatnya ia memang punya uang simpanan seperti yang ia harapkan. Alvin kan masih menyimpan uang tip pemberian para wanita di klub semalam.
Alvin buru-buru bangkit dan melangkah menuju nakas tempat ia meletakkan uang tip semalam. Ia membuka salah satu laci dan mengambil uang yang ada di sana lalu menghitung uang yang ada.
Setelah beberapa detik menghitung uang itu, Alvin akhirnya bisa menghela napasnya lega.
"Tiga juta lima ratus ribu. Ini jelas cukup untuk membayar tagihannya. Itu artinya masalah terpecahkan." gumamnya sumringah.
Alvin tak percaya ini. Masalah terbesarnya akhirnya bisa di selesaikan. Sisa uang ini bahkan masih bisa ia gunakan untuk makan selama beberapa hari ke depan.
***
__ADS_1