
Alvin tampaknya tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Hal itu terbukti dari matanya yang membulat tak percaya setelah mendengar ucapan pria paruh baya di hadapannya.
"Saya diterima?"
"Ya, benar. Kamu di terima bekerja disini."
"Apa bapak serius?"
"Ya, tentu saja saya serius. Kamu di terima bekerja di klub ini." jawab pria paruh baya itu lagi, memperjelas perkataannya.
Alvin menatap Mr. Robert dengan takjub, ia masih tak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Ia di terima. Begitu saja? Apakah sebegitu mudahnya bekerja di sini.
"Apa saya tidak salah dengar, Pak?"
"Tidak sama sekali." ujar Mr. Robert. Ia tersenyum seolah memahami kebingungan yang di rasakan pemuda tampan di hadapannya ini.
Mr. Robert kembali melanjutkan, "Jadi begini, klub ini memang butuh pelayan baru secepatnya. Dan kebetulan, sebelumnya kamu juga punya pengalaman bekerja sebagai pelayan, kan?"
"Ya, benar pak."
"Itulah sebabnya kamu di terima di sini."
Alvin mungkin tak menyadari sudut bibirnya yang melengkung. Tapi Mr. Robert dapat melihatnya dengan jelas.
"Saya yakin karena pengalaman kerjamu sebelumnya, kamu pasti lumayan cekatan dalam hal melayani pelanggan kami nantinya."
__ADS_1
Alvin tidak bisa untuk tidak setuju tentang hal itu. Ia paham apa yang dimaksud oleh Mr. Robert barusan. Meskipun di pekerjaan sebelumnya ia di pecat, tapi ia memang punya pengalaman menjadi pelayan.
Mr. Robert kemudian melanjutkan, "Selain itu, kamu juga punya penampilan yang luar biasa. Itu hal utama yang dibutuhkan untuk bekerja di sini."
"Jadi begitu." Alvin mengangguk paham.
Manajer itu kembali tersenyum. Ia memang berkata jujur. Perawakan Alvin memang luar biasa. Pemuda di hadapannya ini memiliki wajah tampan, tubuh jangkung dan kulit putih susu. Ia yakin kalau Alvin bisa menjadi 'aset' baru di klub ini karena penampilannya berharganya itu.
Alvin akan menarik pelanggan wanita.
"Kamu akan bekerja di klub ini dari jam tujuh sore sampai jam satu malam atau bisa lebih. Dan juga, karena kamu masih sangat baru di klub ini, gajimu perbulan adalah tiga juta. Tapi jika kamu bersedia lembur gajimu sudah pasti akan di tambah." jelas Mr. Robert dengan santai namun tampak serius.
"Berapa, ti-tiga juta, Pak?" tanya Alvin kaget.
"Kenapa? Apakah kurang?" tanya pria itu menatap Alvin datar.
Manajer itu lantas tersenyum kecil. Ia paham. Bagi orang-orang seperti pemuda ini, gaji segitu bukannya kecil.
"Tempat ini memang akan sangat ramai kalau malam hari. Orang-orang dari berbagai kalangan akan datang. Itu sebabnya gaji-nya juga tidak mungkin main-main, karena pekerjaannya juga tidak main-main."
Mr. Robert kembali melanjutkan kalimatnya. "Saya akan melihat bagaimana kinerjamu nanti. Pihak klub jelas tidak akan ragu memberimu bonus atau mungkin menaikkan gajimu jika kerjamu giat." jelas manajer itu.
Alvin mengangguk mengerti. "Baiklah, pak. Tapi saat ini saya belum membawa surat lamaran saya."
"Itu masalah gampang. Itu bisa kau berikan pada ku nanti setelah kau bekerja di sini. Saya percaya dengan kemampuan kamu." ujar pria tua itu tenang.
__ADS_1
"Baik, pak!" Alvin kembali mengangguk.
Mr Robert tersenyum simpul. Sebenarnya ia tak membutuhkan surat lamaran Alvin karena ia yakin pemuda ini adalah pemuda baik-baik dan mampu melayani pengunjung dengan baik pula.
Tapi tatap saja, aturan di klub ini wajib memberikan surat lamaran. Itu sebabnya ia tetap memerintahkan Alvin untuk memberikan surat lamarannya.
"Kau bisa memanggil saya Mr. Robert. Itu saja. Semua orang di sini memanggil saya seperti itu."
"Ya, Mr. Robert."
"Saya adalah manajer yang mengelola klub malam ini sejak klub ini baru di bangun. Pemilik asli dari klub ini hampir tidak pernah datang untuk mengecek. Jadi, saya adalah satu-satunya orang yang akan menilai kinerjamu nanti. Bekerjalah dengan baik, Alvin!" jelasnya.
"Saya akan berusaha untuk bekerja dengan baik Mr. Robert!"
Mr. Robert menganggukkan kepalanya sembari tersenyum.
"Kau bisa pergi sekarang. Kau bisa mulai bekerja sore ini juga. Dan jangan khawatirkan apapun. Nanti akan ada pelayan senior yang mengajarkan segala hal tentang klub ini padamu." ujar Mr. Robert lagi.
"Baik Pak, kalau begitu saya undur diri." pamit Alvin lalu membungkukkan setengah badannya. "Saya sangat berterima kasih pada bapak karena sudah menerima saya bekerja di sini." lanjutnya.
Pria itu mengangguk dan tersenyum.
"Jangan sungkan begitu. Kamu bisa menemui saya kalau ada sesuatu yang mengganggu di hatimu."
"Baik, terima kasih sekali lagi, pak." ujar Alvin sembari mengulurkan tangan untuk bersalaman.
__ADS_1
Mr. Robert membalas uluran tangan sembari tersenyum simpul. "Selamat datang di klub."
***