Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
54


__ADS_3

Alvin selalu benci saat mengetahui semua mata tengah memandang kearahnya. Sejak tadi, hampir setiap pengunjung wanita yang melewatinya menatapnya sembari berbisik-bisik.


Memangnya apa yang salah dari penampilannya sampai-sampai orang-orang itu terus membicarakannya diam-diam seperti ini.


Alvin sudah pergi ke kamar kecil untuk berkaca dan wajahnya juga tampak baik-baik saja. Ia bahkan sampai menatap seragam yang ia kenakan untuk memastikan bahwa penampilannya baik-baik saja.


"Kenapa orang-orang itu menatapku dengan tatapan seperti itu, sih?" omel Alvin mulai sebal.


"Mereka menatapmu karena kau tampan." ujar Mr Robert tiba-tiba sudah berdiri di sebelah Alvin.


Alvin menoleh untuk menatap atasannya itu kemudian tersenyum. "Mr Robert." sapanya.


Mr. Robert balas tersenyum kemudian menatap ke arah aula, menunjuk ke arah keramaian di aula dengan dagunya.


"Biasakan dirimu dengan hal-hal seperti ini."


"Seperti ini?"


"Ya, seperti yang kau alami. Digoda. Ditatap. Ini termasuk hal biasa di tempat ini. Melayani godaan mereka adalah pilihanmu. Kalau kau bersedia kau akan mendapatkan uang lebih dari gajimu. Kalau tidak suka, tolak saja." ujar Mr Robert sembari menyilangkan tangannya di dada, sementara matanya masih menatap ke aula klub.


Alvin hanya mendengarkan ucapan atasannya itu dalam diam.


"Yah," ujar Alvin. "Mungkin masih terasa canggung karena saya belum terbiasa dengan perlakuan orang-orang ini."


"Kau bisa mengatasinya." ujar Mr Robert, optimis.


Alvin tak menjawab.

__ADS_1


"Alvin?"


"Ya, Mr Robert?"


"Ini urusan mudah, kan?"


Alvin menghela napasnya perlahan. "Jujur, saya tidak tahu pak."


Mendengar jawaban Alvin itu, Mr Robert langsung tersenyum, "Jangan khawatir. Bukankah kau sudah menjalaninya dengan baik beberapa hari ini."


.


Malam itu waktu benar-benar terasa begitu lama bagi Alvin untuk bekerja. Ia bahkan sudah berkali-kali menatap jam di pergelangan tangannya hanya untuk memastikan jam yang menurutnya entah kenapa tidak bergerak sama sekali.


Alvin menghela nafasnya perlahan sambil sesekali terlihat menguap lebar. Ia mencoba untuk menahan rasa kantuk yang menyerangnya sejak tadi.


Sekali lagi, Alvin menguap lebar hingga akhirnya ia tak mampu menahan kantuknya lagi. Alvin lalu memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju ke kamar kecil. Alvin berniat mencuci wajahnya karena ia benar-benar merasa mengantuk dan tak ingin rasa kantuknya membuat hal buruk terjadi, seperti menumpahkan minuman misalnya.


Beberapa saat kemudian Alvin keluar dari kamar kecil dalam keadaan lebih segar. Kantuknya sedikit berkurang sekarang. Ia yakin bisa melewati melewati malam ini tanpa khawatir akan menimbulkan masalah karena mengantuk.


"Hei, Alvin!" seruan itu menghentikkan langkah Alvin dan membuatnya segera membalikkan badan. Itu Sandy, salah satu dari rekan kerja Alvin.


"Ya?"


"Kemari sebentar!"


Alvin segera melangkah mendekati rekan kerjanya itu.

__ADS_1


"Ada apa, San?" tanya Alvin.


"Aku butuh bantuanmu."


"Ya, bantuan apa?" tanya Alvin.


"Tolong kau antarkan botol minuman ini pada meja yang ada di sudut itu. Teman-teman yang lain sedang sibuk sekarang. Dan beberapa lainnya lagi sedang melayani pengunjung yang ada di lantai dua. Sementra aku akan mengantar minuman yang lainnya." ujar Sandy menyodorkan nampan yang ia pegang pada Alvin.


"Oh baiklah." ujar Alvin.


"Tolong ya."


"Ya, tenang saja." jawab Alvin lagi.


Alvin mengangguk lalu mengambil nampan yang berisi beberapa botol minuman berserta gelas kosong dan segera mengantarkannya pada meja pengunjung yang di maksud.


"Permisi, ini minumanya. Silahkan di-"


Ucapan Alvin terhenti, karena begitu ia sampai pada meja yang di tuju, Alvin malah terdiam. Tubuhnya membeku di posisinya. Matanya menatap gadis cantik yang tengah duduk di meja di hadapannya. Gadis itu terlihat sedang asyik bersenda gurau dengan teman-temannya sekarang.


Dan tepat saat itu juga, gadis yang duduk di hadapannya itu memutar kepalanya, menghadap ke arah Alvin. Gadis itu tampak menatap Alvin dengan ekspresi yang sama terkejutnya.


"Kau! Alvin?" ujar gadis itu masih menatap Alvin dengan tatapan kagetnya.


Alvin menelan ludah lalu tersenyum kecut.


"Karina..." balasnya.

__ADS_1


***


__ADS_2