Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
80


__ADS_3

Pagi itu Alvin bangun pagi-pagi sekali karena pekerjaannya semalam tak terlalu melelahkan dan ia juga pulang lebih awal dari biasanya.


Dengan malas Alvin membuka lemari pakaiannya, memperhatikan isinya, mencari pakaian apa yang akan ia kenakan untuk pergi ke kampus.


Setelah berpikir selama beberapa detik ia lalu meraih hoodie dari dalam lemari pakaian miliknya itu.


Ia melepas dan melemparkan handuk basah yang ia pakai ke atas kasur kemudian segera mengenakan pakaiannya.


Hari ini Alvin perlu berangkat pagi-pagi sekali untuk mengerjakan tugas kuliahnya yang sempat tertunda karena insiden kemarin.


Sebenarnya semalam Alvin bicara pada teman-temannya melalui sambungan telepon. Alvin mengatakan pada mereka kalau dia sendiri-lah yang akan mengerjakan tugas kuliah itu.


Alvin merasa sangat bersalah pada mereka sebab kemarin ia tak datang untuk memenuhi janji kerja kelompok dikarenakan gangguan Karina.


Alvin melangkah menuju cermin yang berada di sudut ruangan, berniat untuk sekedar memeriksa penampilan dan merapikan helaian rambutnya. Namun gerakan tangan Alvin perlahan terhenti, matanya kini fokus menatap refleksi dirinya dalam bayangan cermin.


"Kau terlihat sangat berantakan akhir-akhir ini." gumam Alvin bicara pada dirinya sendiri.


Alvin tersenyum sinis setelah menyadari kalau ia baru saja bicara pada dirinya sendiri.


Sembari membuang napas panjang, Alvin memejamkan kedua matanya. Diam-diam Alvin teringat kembali pada tawaran yang sempat Evelyn katakan padanya kemarin.

__ADS_1


Sejujurnya, tawaran itu adalah sesuatu yang tidak pernah diduga oleh Alvin sebelumnya. Apalagi tawaran itu keluar dari mulut Evelyn yang merupakan gadis yang ia sukai.


Meskipun niat Evelyn adalah untuk membantu dirinya melawan Karina, tapi tawaran itu tetap mengejutkan untuk dirinya.


Sejak semalam ia bahkan tak bisa tidur karena terus menerus memikirkan hal itu.


Yah, sebenarnya Alvin sudah menduga kalau tawaran Evelyn itu akan mengganggu pikirannya seperti ini.


Untuk sesaat, Alvin tampak ragu. Dia memandangi pantulan dirinya di cermin yang ada di hadapannya, tatapan mata penuh dengan rasa penasaran.


Bukan tentang tawarannya. Tapi alasannya. Alvin penasaran apa alasan sebenarnya Evelyn bersedia membantu dirinya. Evelyn bahkan tak mendapatkan keuntungan apapun dengan melakukan ini.


Apalagi kalau mengingat hal apa yang Karina lakukan padanya. Bukankah gadis itu memang harus mendapatkan balasan setimpal atas sakit hati yang Alvin rasakan?


Otak Alvin menyetujui semua itu. Sangat setuju. Tapi kenapa hatinya menolak? Apakah Evelyn benar. Apakah ia hanya terlalu baik untuk melakukan hal seperti itu.


Alvin menggelengkan kepalanya. Tentu saja ia harus melarang dirinya sendiri untuk melakukan hal seperti itu. Ia bukanlah orang jahat. Selama ini orang tuanya tak pernah mengajarkan hal semacam ini padanya.


"Apa yang kupikirkan." gumam Alvin menggelengkan kepalanya.


Entah apa yang merasukinya sehingga sempat menyetujui pikiran jahat itu.

__ADS_1


Alvin merasa kalau sepertinya pikirannya sudah mulai melantur kemana-mana. Lagipula kenapa juga ia harus memikirkan hal ini terus menerus sejak tadi. Ia kan cukup mengabaikan saja.


Lebih baik dirinya mengosongkan pikirannya, melupakan tentang hal ini dan fokus pada pendidikan saja.


Pendidikan harusnya menjadi hal utama dan nomor satu baginya saat ini. Jadi ia harus berhenti memikirkan hal konyol ini. Hal seperti ini tak ada gunanya untuk masa depan Alvin.


Akhirnya Alvin segera bersiap untuk pergi ke kampus. Ia tak boleh lupa kalau hari ini ada banyak tugas kuliah jadi harus bersiap lebih awal agar memiliki banyak waktu untuk mengerjakannya di kampus nanti.


Alvin kini membawa sepeda motornya memasuki area parkir kampus yang masih tampak sepi. Hanya terlihat satu atau dua orang mahasiswa yang melintas di kejauhan.


Setelah mematikan mesin motornya, Alvin memasang standar motornya dan turun sembari melepas helm dari kepalanya. Ia melangkah cepat menuju koridor yang menuju ruang kuliahnya.


"Hei, Alvin." seru sebuah suara.


Suara itu berasal dari arah kanan koridor, membuat Alvin menghentikkan langkahnya dan menoleh.


Alvin menatap sosok yang barusaja memanggilnya itu dengan setengah kaget dan setengah lagi heran.


"Karina?" gumamnya.


***

__ADS_1


__ADS_2