
"Alvin, aku-"
"Apa aku pernah membahas apa yang kau lakukan? Aku menuntut apa darimu? Tak ada kan? Kau meninggalkan aku begitu saja. Dan sekarang. Kau datang dan menggangguku lagi."
Karina menatap Alvin dengan rasa bersalah kemudian bangkit untuk mendekat pada Alvin.
Gadis itu menarik dan menggenggam tangan Alvin. "Aku minta maaf karena telah membuat dirimu merasa kesal. Oke."
"Tapi aku sungguh kesal, karena kau diam saja saat dia menghinaku tadi?" Karina mengelus punggung tangan Alvin.
Alvin menatap gadis itu selama beberapa detik sebelum menghela napasnya. Ia menarik tangannya dari genggaman Karina.
"Kau mau aku melakukan apa? Itu masalah kalian sejak awal. Jika aku ikut campur itu justru tak dibenarkan. Kalian sudah sama-sama dewasa. Masalah kalian, hanya kalian yang bisa menyelesaikannya."
Alvin mendengus dan menjawab cepat. "Dia mengataiku gadis murahan, Alvin! Itu menyakiti perasaanku."
Mendengar itu, Alvin hanya diam. Dia bukan orang yang bisa menenangkan orang lain.
Alvin menghela napasnya perlahan.
__ADS_1
"Karina, dia memang sempat mengatakan sesuatu yang buruk padamu. Aku tahu itu. Tapi itu juga bukan sepenuhnya salahnya. Kau-lah yang memprovokasinya lebih dulu tadi."
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya. Kita memang bersama semalam. Lalu apa salahku?"
"Dan kenapa kau harus mengatakan itu padanya. Kau bahkan tak mendapat keuntungan apapun dengan melakukan itu." Alvin menggelengkan kepalanya.
Mendengar jawaban Alvin, Karina langsung mendecih sinis, "Kau terus saja membelanya dan mulut kotornya itu. Ah, tentu saja. Dia itu kekasihmu. Wajar kalau kau terus membela dia."
"Aku tak membela siapa-siapa. Aku hanya bicara yang sebenarnya. Kau yang lebih dahulu mengatakan hal yang tak perlu."
"Itu perlu. Dia harus tau."
Karina perlahan bergerak mundur selangkah dan kembali melipat tangannya di depan dada. "Aku melakukan itu untuk memperjelas apa sebenarnya posisinya. Untuk memberitahunya kalau aku dan kau masih saling menyimpan perasaan. Untuk membuatnya sadar kalau dia tak berguna apapun untukmu."
Alvin menatap Karina dengan tatapan tak percaya. Kenapa gadis ini harus bersikap mengerikan seperti ini. Alvin sungguh tak menyangka sikap Karina ini karena baru melihatnya.
Sebelumnya, saat masih bersama, Karina tak pernah bersikap begitu egois seperti ini. Ah, atau jangan-jangan beginilah sikap Karina yang asli.
Jujur saja, Alvin sudah tak sanggup lagi untuk menghadapi sikap Karina ini. Ia tak tahan kalau harus berlama-lama dengan Karina dalam satu ruangan seperti ini.
__ADS_1
Alvin sedang dalam suasana hati yang tidak baik sekarang. Karina sudah benar-benar merusak suasana hatinya dengan semua perdebatan ini. Ia lelah jika harus terus berdebat.
"Karina, apa masih ada yang ingin kau lakukan disini?" ujar Alvin dengan nada lelah.
Karina menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa memangnya? Kau mau aku pergi dari sini?"
"Aku tidak mengusirmu. Hanya saja, saat ini aku sedang-"
"Setelah memarahiku sekarang kau juga mencoba mengusirku. Ini lucu. Kau baik-baik saja saat dia ada di sini. Tapi kenapa aku tidak boleh berada di sini juga?"
"Bukan begitu, Karina. Aku hanya sedang lelah untuk berdebat denganmu."
"Kalau begitu jangan berdebat. Lagipula, tujuanku datang kesini adalah menjengukmu, Alvin."
"Tapi tak masalah. Aku tahu kalau kau masih dalam kondisi sakit. Jika kau mau aku pergi. Aku akan pergi." ujar Karina menggedikkan bahunya santai. "Tapi setelah ini aku akan terus muncul didepan matamu."
Setelah mengatakan itu Karina meraih tasnya dan melangkah meninggalkan Alvin dirumahnya, sendirian.
Alvin menghela napas frustasi. "Aku bisa gila jika terus seperti ini."
__ADS_1
***