
Karina menatap Steve terkejut.
"Vin, barusan kau bilang Vin, kan??" tanya Steve, mencoba untuk memastikan pendengarannya.
"Aku bilang begitu?"
"Benar." Steve masih menatap Karina dengan berang.
"Aku tidak memanggil Alvin!" sanggah Karina dengan raut wajah kaku.
"Kalau begitu nama siapa yang kau sebut barusan? Kau memanggilku apa?"
Karina buru-buru tersenyum, meskipun masih tampak canggung.
"Maksudku tadi aku... namamu. Aku memanggil dirimu, Steve, sayang." jelasnya.
Steve jelas menatap Karina dengan tatapan tak percaya.
"Ck, benarkah?"
"Ya!"
Steve mendecih kesal karena Karina tak mau mengaku, "Tidak Karina, aku bisa mendengar dengan jelas. Kau tadi menyebutku, Vin!"
Karina meruntuki dirinya sendiri. Ini pasti terjadi karena ia memikirkan Alvin sepanjang perjalanan. Habislah sudah. Ia yakin kalau Steve pasti sungguh kesal. Lagipula kenapa juga ia bisa sampai salah menyebut nama, sih?
Steve tiba-tiba memberhentikkan mobil yang ia kendarai ke pinggir jalan.
"Steve, kenapa berhenti di sini?" Karina menoleh kanan dan kiri jalan.
Steve tak menjawab. Ia mengetuk-ngetuk stir yang ia genggam dengan raut wajah kesal.
"Jelaskan padaku!" ujar Steve tajam. Matanya menatap Karina seolah ia butuh lebih dari sekedar penjelasan.
"Apa yang harus aku jelaskan?" Karina jadi kesal.
"Semuanya."
"Steve!"
"Karina! Lebih baik kau jujur saja, yang kau maksud barusan itu Alvin, ya kan? Apa kau sedang memikirkannya, hah?"
Tebakan Steve langsung pada intinya. Membuat tubuh Karina langsung menegang.
"Benar kan?" tanya Steve lagi.
Karina menatap Steve dengan raut wajah tak enak. Haruskah ia jujur saja. Tapi ia yakin kalau jujur, Steve pasti akan semakin marah padanya.
Dengan lembut Karina meraih sebelah tangan pemuda itu.
"Sayang kurasa sebaiknya kau dengarkan penjelasanku dulu."
__ADS_1
"Penjelasan?" Steve dengan cepat menyentak tangan Karina yang mencoba untuk menyentuhnya. "Kau ingin menjelaskan kalau barusan kau sedang memikirkan dia, begitu kan?"
"Steve!"
"Luar biasa, Karina. Pemuda bodoh itu sepertinya sudah berhasil membuatmu tergila-gila lagi. Kenapa, apa kau menyesal sudah putus darinya?"
Karina menggelengkan kepalanya.
"Bukan begitu, sayang. Aku tadi itu hanya-"
"Kenapa kau masih saja memikirkan pemuda bodoh itu, sih! Apa kau lupa kalau kalian itu sudah berpisah beberapa waktu lalu. Dan apakah kau lupa kalau kekasihmu sekarang adalah aku?"
"Iya, aku tau. Aku bisa ingat itu dengan jelas."
Steve menghembuskan napasnya kasar. "Lalu kenapa kau malah memikirkan dia?"
"Aku tak memikirkan dia."
"Lalu apa? Kau memikirkanku? Lantas kenapa malah menyebut namanya?"
"Ini hanya kesalahan penyebutan yang ke-"
"Cih. Ini bukan kesalahan penyebutan. Kau jelas sedang memikirkan dia, Karina. Itu sebabnya kau sudah tanpa sengaja menyebut namanya tadi." Steve memotong penjelasan Karina.
"Kau tau Karina, aku sudah tau semuanya tengangmu dan Alvin."
Karina tak menjawab. Gadis itu hanya diam menunggu hal apa yang akan dikatakan oleh Steve selanjutnya.
"Sudah beberapa kali aku menyaksikan kau diam-diam bertemu dengannya?"
"Kenapa? Kau kaget aku bisa tau semua itu, hah?"
"Tentu saja kaget. Aku kaget karena kau bisa menuduhku macam-macam begini"
"Menuduh macam-macam?"
"Ya, aku tidak pernah diam-diam menemuinya tapi kau mulai menuduhku macam-macam."
"Benarkah? Lalu siapa yang berduaan di dalam toilet? Siapa yang mengantarkan mantannya ke kampus dan siapa yang salah menyebut nama kekasihnya sendiri Siapa? Hah?" ujar Steve mulai menaikkan nada bicaranya. "Semua itu kau lakukan dan kau mau aku tetap diam, begitu?"
"Steve-"
"Satu lagi. Kau juga pergi ke rumahnya, kan?"
Karina terkejut bukan main melihat Steve bisa mengetahui semua itu. Bahkan pertemuannya dengan Alvin di toilet waktu itu Steve juga tahu. Dan bagaimana Steve bisa tau Karina pergi ke rumah Alvin.
"Ini hanya masalah salah sebut nama Steve, kenapa kau jadi begitu berlebihan dengan membahas banyak hal begini." Karina mencoba membela diri.
"Aku berlebihan?" Steve menatap sebal pada Karina.
"Steve ini hanya salah paham."
__ADS_1
"Ini bukan salah paham. Karina ini bukan hanya sekedar salah sebut nama. Alvin itu mantanmu, Rin. Dari jutaan nama di dunia ini kenapa kamu malah menyebut namanya?"
"Oke, oke, maaf!" pinta Karina.
"Dan kau mengakhiri semua ini dengan kata maaf saja?"
"Kau mau apa memangnya?"
Mendapat tantangan seperti itu, Steve langsung terdiam. Ia juga tak tahu apa yang dia mau dari Karina setelah semua insiden ini.
Karina balik menatap Steve kesal. Ia melepas kembali sabuk pengamannya.
"Kau tau. Aku rasa aku akan naik taksi saja ke kampus. Moodku jelek untuk pergi berduaan denganmu." ujar Karina turun dari mobil Steve.
Steve juga tak berniat mengejar Karina karena sedang dalam keadaan kesal.
"Sialán!" umpat Steve memukul kencang stir mobilnya dan kembali melajukan mobilnya menuju kampus dengan kesal.
***
Steve membanting pintu mobil dengan keras. Ia sungguh kesal. Tidak, bukan hanya kesal. Ia juga marah dan benci. Ia tak terima dengan Alvin yang berusaha mendekati Karina lagi.
Pertama ia melihat Karina bersama Alvin di toilet kampus. Kedua, Karina berada di rumah Alvin. Dan ketiga, Karina mengantarkan Alvin ke kampus dan sekarang gadis itu menyebut nama Alvin tepat di depannya.
Dengan raut wajah kesal Steve datang menuju ke tempat kelompoknya biasa berada.
"Ada apa dengan wajahmu, Steve?" tanya salah satu teman sekelompok Steve.
"Sumpek!"
"Kenapa?"
"Karina dan Alvin, kurasa mereka akan kembali bersama lagi."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Si bodoh itu terus saja mendekati Karina. Aku muak melihat mereka yang terus bersama. Karina bahkan melamunkannya."
"Ck, kenapa kau harus semarah ini."
"Tentu saja aku marah."
"Lebih baik kau santai saja, Steve. Urusan seperti ini adalah masalah kecil."
"Benar, itu urusan gampang." timpal yang lainnya.
"Apanya yang gampang."
"Balas saja pemuda bodoh itu. Beri saja dia pelajaran." tandas teman Steve yang lain.
Steve mengerutkan dahi, "Bagaimana cara membalasnya?"
__ADS_1
"Aku ada rencana untuk membantumu."
***