
Setelah mengenakan helm, Alvin mengeluarkan kunci motor miliknya dari saku celana.
Dari posisinya saat ini, ia bisa melihat rombongan pelanggan klub terakhir yang baru saja keluar dan tengah bercakap-cakap santai di halaman parkir klub malam itu.
Saat ini Alvin sudah hendak mengenakan jaketnya sampai tiba-tiba saja menghentikan gerakannya dan menoleh ke sekitarnya. Matanya menatap satu persatu mobil pengunjung yang masih terparkir.
Entah kenapa Alvin merasa seperti sedang diperhatikan oleh seseorang. Tapi tak ada siapapun di tempat itu yang menatap ke arahnya.
Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing. Area klub malam itu juga sudah mulai sepi karena banyak pengunjung yang sudah pulang.
"Mungkin hanya perasaanku saja." gumam Alvin menggedikkan bahunya dan lanjut mengenakan jaketnya.
"Hai, Alvin!" tegur salah seorang rekan kerja dengan tiba-tiba memegang bahu Alvin saat ia sudah hendak menyalakan mesin motor.
Alvin berjingkat kaget.
"Kau mengagetkanku, Rasyit." ujar Alvin memegangi dadanya yang berdetak kencang.
"Kenapa bisa kaget?" Rasyit bertanyan heran. "Aku hanya menyentuhmu. Bukan mengejutkanmu. Ah, jangan-jangan kau melamun lagi. Ck, ck, kau ini memang hobi sekali melamun, ya?"
"Siapa yang melamun." sanggah Alvin.
"Kau! Siapa lagi."
"Tidak." protes Alvin. "Aku tak melamun."
"Jangan membantah. Kau bahkan melamun sejak di dalam. Aku melihatnya sendiri. Saat kau sedang tak melayani pelanggan kau lebih banyak melamun dan sekarang kau melamun lagi."
Alvin terkekeh. "Aku bukan melamun. Itu berdiam diri karena aku sedang tak ingin bicara."
"Kenapa tak mau bicara?"
"Tak ingin saja." Alvin menggedikkan bahunya samtai.
"Seram sekali."
"Benar, jadi kau jangan coba-coba dekati aku saat aku diam. Kalau tidak kau akan kecewa karena bicara dengan angin." ujar Alvin tertawa.
Rasyit tertawa kemudian diam, tampak memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Apa itu alasannya gadis itu tak mau menyerahkannya langsung padamu."
"Ya?" Alvin menaikkan sebelah alisnya bingung. "Gadis apa? Menyerahkan apa?"
"Tunggu dulu." ujar Rasyit tampak merogoh kantong celananya, mencari sesuatu di sana. "Ada titipan untukmu."
"Titipan?"
"Ini… untukmu." ujar Rasyit menyerahkan selembar kertas pada Alvin, "Seorang wanita menitipkan ini padaku saat masih di dalam tadi. Dia memintaku menyerahkannya padamu."
Alvin mengerutkan alisnya. "Ini apa?"
"Kartu nama."
"Iya, aku tau ini kartu nama. Tapi untuk apa dia memberikan ini padaku?"
Rasyit memutar bola matanya malas sebagai tanggapan. "Itu agar kau bisa menghubunginya. Memangnya apalagi."
"Dan untuk apa aku harus menghubungi dirinya?"
"Kau serius menanyakan hal itu?"
"Berkenalan?" tebak Alvin yang langsung dibalas anggukan oleh Rasyit.
Alvin menghela napasnya malas kemudian menyerahkan lagi kartu nama itu pada Rasyit.
"Ambil kembali ini." ujar Alvin.
"Hei, kenapa malah dikembalikan?"
"Aku tidak butuh ini." ujar Alvin memutar kunci motornya.
"Tapi dia ingin kau menghubunginya."
"Dan aku tak akan melakukan itu." tolak Alvin sembari menaikkan standar motornya.
"Kau menolaknya?"
"Hm."
__ADS_1
"Hei, kau yakin? Dia ini sangat cantik!" ujar Rasyit.
Alvin hanya membalas dengan senyum simpul.
Rekan kerja Alvin itu tampak meringis sembari menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Sayang sekali, Alvin. Kau menolak sumber uang. Jika itu aku, aku pasti akan langsung menghubunginya di detik pertama aku mendapatkan kartu namanya."
"Kalau begitu kau saja yang menghubunginya."
"Ck, kau sedang menghinaku, ya? Orang yang dia inginkan adalah kau. Kau pria paling tampan di klub ini. Jika aku yang menghubunginya dia akan menghinaku habis-habisan bahkan di detik pertama dia mengangkat teleponku."
Alvin tertawa mendengar hal itu. "Jangan berlebihan."
"Aku bicara tentang kenyataan, Alvin. Ngomong-ngomong aku mendengar pembicaraan teman-teman yang lain. Mereka bilang kau idola baru di antara para pengunjung."
"Idola apa. Berhenti bicara omong kosong Rasyit."
"Aku mengatakan apa yang aku dengar, Alvin." Rasyit menepuk bahu Alvin. "Dan jika kau mendapat banyak tip dari pengunjung, bisakah kau bagikan sedikit padaku. Pendapatanku kurang akhir-akhir ini."
"Kau semakin ngawur saja." ujar Alvin lagi. "Lebih baik aku pulang sekarang sebelum kau semakin bicara ngawur."
Rasyit tertawa melihat Alvin yang tampak malu-malu setelah di puji.
"Ngomong-ngomong kau sudah makan?" tanya Rasyit.
Alvin menggeleng. "Belum."
"Aish, bukankah di dalam tadi aku sudah menyuruhmu makan? Kau terlihat pucat bahkan sampai sekarang." omel Rasyit.
Rasyit lalu merangkul bahu Alvin, "Ayo, aku traktir kau makan. Aku punya langganan warung makan yang buka dua puluh empat jam."
"Tidak, aku terlalu lelah untuk singgah makan. Aku akan langsung pulang saja."
Rasyit mengangguk paham. "Tak masalah kalau kau tak mau."
"Maaf, bagaimana kalau lain kali saja?" tawar Alvin.
"Setuju." Rasyit tersenyum. "Baiklah, kalau begitu kau hati-hatilah di jalan."
__ADS_1
"Ya, selamat malam." ujar Alvin menyalakan mesin motornya dan mulai melajukan motornya, pulang ke rumah.
***