Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
27


__ADS_3

Setelah beberapa saat sibuk melayani pesanan dari para pengunjung klub malam, Alvin kini sedang duduk di ruang ganti untuk beristirahat sebentar.


Alvin memijit tengkuknya yang terasa pegal. Ia cukup lelah karena melayani banyak sekali pengunjung klub.


Hari pertama memang akan terasa lebih lelah karena termasuk pengenalan. Tubuh Alvin pasti kaget karena harus bekerja lebih ekstra dari biasanya. Alvin yakin, setelah beberapa lama bekerja di sini Alvin pasti akan terbiasa.


Ia akan semangat bekerja. Apalagi jika gadis cantik yang ia tabrak tadi datang lagi. Ia yakin akan semangat empat lima.


Dalam lamunannya itu, entah kenapa Alvin malah kembali membayangkan gadis yang ia tabrak beberapa waktu lalu. Wajah gadis itu sangat cantik walaupun raut wajahnya terkesan dingin dan cuek.


"Tidak senyum saja bisa secantik itu." gumam Alvin masih memikirkan wajah gadis itu.


"Siapa yang cantik?" ujar seseorang menyahut.


Alvin mendongak dan mendapati seorang rekan kerjanya menyandar di ambang pintu yang ada di dekatnya, menatapnya sembari menyilangkan tangan.


"Bukan siapa-siapa." Alvin tersenyum canggung.


"Tamu klub, ya?" tebak rekan kerja Alvin itu.


Alvin tak menjawab. Malah menundukkan kepala karena malu ada yang mendengar ucapannya.


"Tak dijawab berarti benar." ujar rekan kerja Alvin lagi lalu mendecih. "Ini baru hari pertamamu dan kau sudah jatuh cinta pada pengunjung. Ayolah, kau masih punya banyak waktu untuk melihat banyak gadis cantik disini."


Alvin terkekeh sembari menggelengkan kepalanya pelan. "Kau benar, tapi aku kesini bukan untuk mencari gadis cantik."


"Begitukah?" ujar lelaki itu, mencoba untuk menggoda Alvin. "Lalu siapa yang kau puji cantik, heh?"


Alvin menatap rekan kerjanya itu gugup kemudian mengibaskan tangannya.

__ADS_1


"Lupakan saja." ujar Alvin dengan cepat bangkit dari duduknya.


"Hei, kau mau pergi kemana?" ujar rekan kerja Alvin tertawa melihat Alvin yang tampak malu-malu.


"Aku mau lanjut bekerja saja." jawab Alvin sembari melangkahkan kakinya, pergi meninggalkan ruang ganti.


Saat ini Alvin sudah kembali melayani para tamu. Ia melangkah dengan hati-hati, membawa nampan di tangannya untuk mengantar pesanan dari salah satu pengunjung.


"Alvin!"


"Ya?"


Alvin menghentikkan langkah dan menatap rekan kerjanya yang berdiri di dekat meja bartender. Ia berdiri diam kala melihat rekan kerjanya itu mendekat padanya sembari sedikit kesusahan mendorong troli.


"Kau sibuk?"


"Sedikit. Ada apa?" tanya Alvin bingung.


Alvin menatap troli yang dimaksud. Ia mengerutkan alis saat menatap troli di hadapannya yang berisi banyak sekali botol minuman dan juga gelas kosong di atasnya.


"Mengantar troli-troli ini?"


"Ya?"


"Ya, dua troli ini. Aku bawa yang ini dan kau bawa yang satu lagi. Yang disana!"


"Tapi, minuman ini bagaimana?" Alvin mengangkat nampan berisi gelas minuman di tangannya.


"Biar yang lain saja yang mengantarnya."

__ADS_1


Sang rekan kerja dengan cepat mengambil alih nampan itu dan meletakkannya kembali ke atas meja bartender.


"Ini jauh lebih penting. Ada private party di salah satu ruangan di atas. Mereka adalah pelanggan nomor satu di klub ini. Dan juga, salah satu dari mereka adalah anak dari pemilik klub ini. Mereka tamu istimewa, oke. Jadi kita harus cepat. Kalau satu saja dari mereka sampai komplain, Mr. Robert bisa marah."


Alvin mengangguk patuh. Toh tak mungkin kan ia membuat sang manajer marah di hari pertamanya bekerja.


"Minumanku barusan adalah pesanan meja nomor lima. Bisa tolong bantu aku mengantarkannya. Aku ada pekerjaan penting sekarang." ujar Alvin pada sang bartender yang berdiri di dekatnya sembari menunjuk nampan minuman di atas meja.


"Aku akan minta yang lain mengurusnya." balas sang bartender santai.


"Terima kasih."


Alvin lalu meraih salah satu dari dua troli minuman itu. Ia semakin terkejut saat melihat banyaknya botol minuman kerás yang harus mereka bawa.


"Wah, semua ini pesanan mereka?" tanya Alvin terkejut.


"Ya, semua ini memang pesanan dari orang-orang yang ada di ruangan itu." jawab sang rekan sambil mendorong troli miliknya, di ikuti Alvin yang berjalan di belakangnya.


"Ini banyak sekali."


"Sedang ada private party besar-besaran di sana. Itu sebabnya mereka memesan banyak sekali minuman untuk acara itu. Minumannya sangat banyak. Itu sebabnya kita harus menggunakan dua troli." jawab rekan kerjanya lagi.


Alvin mengangguk mengerti. "Baiklah."


"Dan ingat! Hati-hati saat membawanya. Ini semua bukan minuman murah." ujar sang rekan kerja mencoba mengingatkan Alvin.


"Ya, baiklah." Alvin kembali mengangguk paham. "Ini pesanan ruangan nomor berapa?"


"Nomor enam." jawab sang rekan kerja.

__ADS_1


Alvin terus mengikuti rekan kerjanya, membawa troli minuman itu masuk ke dalam lift, mengantarnya menuju lantai tiga dimana ruangan tempat pesta berada.


***


__ADS_2