
Aroma dari minuman keras yang menusuk hidung dan suara dari musik dj yang terdengar nyaring, di sertai orang-orang yang tengah menari meliuk-liuk di atas lantai dansa klub.
Hal seperti adalah hal yang sudah sangat biasa terjadi bahkan sudah menjadi ciri khas dari klub malam di perkotaan. Keramaian manusia sudah tak dapat terelakan lagi membuat klub malam itu menjadi penuh sesak.
Dan di sinilah Alvin sekarang, berdiri sambil menatap aula klub yang penuh sesak karena diisi dengan orang-orang yang tengah menikmati serunya dunia malam.
Alvin menatap satu persatu orang yang melintas di depannya dengan heran.
'Jadi hal seperti ini yang membuat orang-orang senang pulang malam bahkan sampai enggan pulang ke rumah.' batinnya.
Sungguh Alvin bingung, sebenarnya apa yang seru dari hal seperti ini. Musik bising, ramai, penuh sesak, bau alkohol dan hal tak enak lainnya.
Alvin bahkan baru saja melihat dua orang berbeda lawan jenis berciuman di salah satu meja.
"Bebas sekali." gumamnya sembari menggelengkan kepalanya.
Alvin sendiri sangat tidak terbiasa dengan hal-hal ramai dan juga liar seperti ini. Selama ia hidup, ia juga tak pernah sekalipun menginjakkan kaki ke klub malam.
Saat diajak pun ia memilih untuk menolak saja. Ia merasa jauh lebih nyaman saat berada di rumahnya. Meskipun rumahnya adalah tempat yang sepi namun selalu membuatnya merasa nyaman.
Tapi sekarang sudah berbeda, karena mau tak mau, suka tak suka, Alvin harus membiasakan dirinya dengan hal seperti ini. Karena toh sudah jelas, berada di tempat ini akan menjadi pekerjaannya setiap malam.
Alvin meletakan nampan ke atas meja bartender dan menghela napas. Jumlah pengunjung di tempat ini jauh berbeda dari restoran tempat ia bekerja sebelumnya.
__ADS_1
Tiga kali lipat lebih banyak dan membuat Alvin sedikit keteteran karena belum terbiasa.
Beberapa kali Alvin bahkan hampir menabrak pengunjung karena memang terlalu sesak untuk sekedar lewat.
"Bagaimana pekerjaan pertamamu di sini, Alvin?" seseorang menepuk bahu Alvin.
Alvin menoleh ke sumber suara. Itu Mr Robert, manajer sekaligus atasan baru Alvin di tempat ini. Dia adalah orang yang menerima Alvin bekerja di tempat ini tadi siang.
"Mr. Robert." sapa Alvin.
"Apa kau kesusahan?" ujar Mr. Robert lagi. Pria tua itu bicara dengan nada suara yang cukup nyaring pasalnya suara musik di klub malam itu terdengar begitu nyaring dan sedikit menutupi suaranya.
"Aman pak. Pekerjaan saya sejak tadi hanya mengantar minuman pada para pengunjung." ujar Alvin dengan senyum lebar di wajahnya.
"Baguslah kalau begitu. Semoga kau betah bekerja disini." ujar Mr. Robert sambil kembali menepuk pelan bahu Alvin.
"Terima kasih, Mr. Robert."
"Ya, jangan sungkan bertanya pada pelayan senior jika butuh sesuatu atau kau bisa menemuiku di kantor…" ujar Mr Robert.
"Siap, Mr Robert." ujar Alvin.
Mr Robert lalu beranjak pergi untuk meninggalkan tempat itu, kembali ke ruangan kerjanya.
__ADS_1
Sementara Alvin kini hanya menatap kepergian atasannya itu dengan senyuman kecil.
"Hei, pelayan, kemari!" suara seorang pengunjung sedikit samar karena tertutup suara musik.
Alvin yang merasa di panggil oleh pengunjung itu segera berbalik. Seorang pria tengah menjentikkan jarinya, tampak memerintah pada Alvin agar mendekat.
Alvin meraih kembali nampannya lalu segera mendatangi pengunjung itu dengan setengah berlari, hingga tiba-tiba…
Bruk!
"Aw!" seru seseorang.
"Astaga." Alvin membulat saat menyadari kalau ia baru saja menabrak seorang pengunjung.
Itu bukannya hal yang di sengaja, tapi sudah mampu membuat Alvin kalangkabut.
'Oh, tidak lagi.' batin Alvin.
Kejadian siál yang terjadi di restoran waktu itu kembali terulang sekali lagi di tempat ini. Meskipun bedanya, Alvin tak membawa apapun di nampan tapi Alvin tetap gugup.
Alvin meruntukki dirinya sendiri karena tak punya kemampuan refleks cepat yang baik.
Dan juga, kenapa tubuhnya hobi sekali menabrak orang, sih?
__ADS_1
***