
"Berhentilah mengikutiku, Karina!" ujar Alvin kesal saat menyadari Karina yang terus saja mengikutinya menuju parkiran kampus setelah jam kuliah berakhir.
"Tidak mau."
"Terserahmu sajalah." Alvin pasrah, memilih untuk mengacuhkan gadis itu dan terus melangkahkan kakinya dengan cepat.
"Kenapa jalanmu cepat sekali, sih?" gerutu Karina.
Alvin tak menjawab.
"Alvin, jalannya pelan-pelan sedikit." ujar Karina dengan nada memohon.
"Apa lagi yang kau inginkan dariku?"
"Aku hanya ingin bicara."
"Kau sudah cukup bicara selama ini." ujar Alvin semakin kesal.
Jujur saja selama ini ia selalu berbaik hati dengan membiarkan Karina bicara tapi sepertinya gadis ini tak tahu apa itu rasa malu.
"Aku ingin bicara lagi. Dengar, aku-"
"Apapun alasannya, aku tidak ingin mendengarnya apapun lagi." Alvin mempercepat langkahnya dan menatap Karina sejenak. "Dan juga kau sungguh sangat mengganggu dengan mengikuti aku begini."
Karina tampak tak peduli. Gadis itu tetap saja terus mengikuti Alvin. Ia berjalan di belakang pemuda tampan itu.
"Kenapa kau tidak mengangkat telepon dariku? Aku sudah meneleponmu sejak tadi pagi."
Alvin mendecih, "Memangnya untuk apa aku mengangkat telepon darimu?"
"Untuk mengurangi rasa khawatirku."
Alvin menghentikkan langkah kakinya dan menatap Karina heran. "Apa?"
"Aku khawatir padamu, Alvin. Dan aku hanya ingin tahu apakah kau baik-baik saja. Kau semalam demam tinggi, tapi kenapa hari ini kau sudah masuk kuliah saja."
"Bukan urusanmu."
Setelah mengatakan itu, Alvin melanjutkan kembali langkahnya meninggalkan Karina.
Tapi sepertinya Karina benar-benar tak peduli. Gadis itu mengikuti Alvin tak mengindahkan tatapan mahasiswa lain yang menatap aneh ke arah mereka.
"Alvin!" seru Karina.
Alvin tak menjawab, masih terus melangkahkan kakinya.
Karina berlari untuk menyusul Alvin. "Tunggu sebentar."
"Berhentilah mengikuti aku Karina!" ujar Alvin jengah. "Apalagi yang kau mau dariku. Berhentilah menerorku seperti ini. Dan urus saja urusanmu sendiri."
__ADS_1
"Kenapa kau tak mau bicara padaku?"
"Karena tak ada lagi yang perlu kita bicarakan."
"Ada banyak." Karina bersikeras. "Begini, kau dengar dulu sampai aku selesai bicara. Dan kalau kau tak suka dengan apa yang aku katakan, kau bisa mengacuhkan aku."
"Aku tidak mau."
"Kalau begitu aku akan tetap mengikutimu."
"Dengar Karina, sesuatu bisa saja terjadi jika aku bicara padamu apalagi kau terus mengikutiku seperti ini. Itu bisa jadi masalah untukku."
"Masalah seperti apa? Memangnya apa yang bisa terjadi padamu hanya karena bicara denganku? Ah, apa kekasihmu itu akan marah jika tau kau bertemu denganku?" Karina menuntut jawaban.
Alvin tak menjawab.
Pemuda itu memilih untuk kembali melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Karina.
Sebenarnya ia bisa saja mengatakan pada Karina untuk jauh-jauh darinya karena tak ingin mencari masalah dengan Steve. Tapi Alvin memilih diam. Ia memilih untuk merahasiakan perlakuan Steve pada dirinya. Ia tak suka mengatakan hal-hal tak penting seperti itu.
"Alvin!"
"Apa?" Alvin jengah.
"Berhentilah menghindar dan bicaralah padaku! Katakan, masalah apa yang kau maksud!"
Karina menatap Alvin yang masih tak mau berhenti juga untuk menanggapi dirinya. Ia kesal sendiri dengan sikap pemuda itu sampai sebuah ide muncul di kepalanya.
"Tadi malam."
Mendengar itu, Alvin kembali menghentikan langkahnya. Hal itu membuat Karina tersenyum puas. Rencananya untuk menghentikan Alvin berhasil.
Alvin dengan cepat berbalik untuk menatap Karina dengan tatapan dingin. "Kenapa dengan tadi malam?"
"Tadi malam adalah malam dimana aku merawatmu saat kau sakit." ujar Karina kemudian menatap Alvin dalam. "Kau mengigau tentang aku."
"Apa?"
Karina melanjutkan dengan senyum. "Kau tidak sadar? Kau mengigau, Alvin. Kau mengatakan kalau kau masih sangat mencintaiku dan bertanya kenapa aku menyia-nyiakan cintamu."
Bola mata Alvin tampak membesar. Ia seolah baru mendapat informasi mengejutkan.
"Tidak perlu kaget begitu, Alvin." Kata Karina, tampak tenang. "Sebenarnya ini bukan hal yang mengejutkan untukku. Kita pernah menjalin hubungan yang indah sebelumnya. Itu sebabnya aku tahu kau pasti belum bisa melupakan aku sepenuhnya."
Alvin menundukkan pandangannya. Apa benar ia mengigau seperti yang Karina katakan?
"Kenapa malah diam? Apa kau tak percaya dengan perkataanku?"
Alvin tak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya, tak percaya.
__ADS_1
"Tidak. Aku tak percaya."
Karina mendecih, "Tak masalah. Lagipula aku memang tak punya bukti. Tapi aku mendengarnya sendiri langsung dari mulutmu. Jadi aku tahu isi hatimu yang sebenarnya."
"Ini agak lucu." sambung Karina. "Saat ini kau bersikap ketus padaku. Padahal hatimu masih mengharapkan aku."
Karina menatap mata Alvin.
"Kau masih mencintaiku. Benar kan?" Karina bertanya penuh selidik. "Aku tahu kau masih mengharapkan aku, Alvin."
Tubuh Alvin sontak membeku mendengar pertanyaan itu. Jujur saja, meskipun Karina menyakiti dirinya, namun tak bisa bohong kalau ia masih beberapa kali memikirkan gadis itu.
Namun buru-buru Alvin mengalihkan pandangannya dari Karina dan memandang ke arah lain.
"Minggir, aku mau lewat." ujar Alvin mendorong Karina menjauh dari jalan. Alvin lalu melangkahkan kakinya menuju parkiran kampus.
Sesampainya di dekat motor, Alvin langsung mengambil helm dari motornya dan hendak memakainya, namun Karina dengan cepat memegang kedua lengan Alvin.
"Hei, Alvin. Jawab dulu pertanyaanku. Kau masih mencintaiku seperti dulu, kan?"
Alvin diam beberapa saat, berpikir. Apakah benar kalau ia mengigau tentang Karina. Dan juga, memang benar ia masih memikirkan Karina, tapi apakah benar ia masih mencintai gadis ini? Alvin rasa tidak.
"Kau masih mengharapkan kita kembali bersama, kan?" tanya Karina lagi karena sejak tadi Alvin tak kunjung menjawab pertanyaannya.
Alvin tampak menghela napas, matanya menatap Karina dengan lelah. Ya, ia memang lelah menanggapi sikap menyebalkan yang di tunjukan gadis ini. Bahkan tidak ditanggapi pun, Karina masih bisa berulah.
Sembari menggelengkan kepala, Alvin tersenyum sinis lalu melepaskan pegangan Karina pada lengannya.
"Lepaskan!" ujar Alvin.
"Kau masih menolak mengakui? Bahkan alam bawah sadarmu saja mengakui, Alvin." ujar Karina.
"Kau mengada-ada Karina." ujar Alvin tersenyum kecut sebagai tanggapan. "Sekarang bisakah kau minggir! Aku mau pulang."
Setelah mengatakan itu, Alvin dengan cepat mengenakan helmnya. Ia naik ke atas motor lalu menyalakan mesin motornya.
"Minggir!" seru Alvin pada Karina.
Akhirnya, meskipun tak rela, gadis itu memilih untuk bergeser sedikit, memberi jalan pada Alvin untuk lewat.
Alvin kemudian menyalakan mesin motornya, lalu melajukan motornya dan menghilang di balik pintu gerbang kampus.
Karina sama sekali tidak menghentikannya lagi karena sibuk tersenyum. Entah kenapa ia yang awalnya kesal karena sikap Alvin yang terus mengabaikannya kini berubah menjadi lebih percaya diri.
Ya, Karina percaya diri. Ia tahu kalau Alvin masih mengharapkan dirinya.
Gadis itu tersenyum semakin lebar setelah mengingat kejadian semalam. "Aku yakin kalau dugaanku benar. Alvin masih memiliki rasa padaku."
***
__ADS_1