
Evelyn baru saja membersihkan tubuhnya setelah selesai berolahraga. Ia keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang membungkus rambut panjangnya yang basah.
Ia menuang air putih ke dalam gelas dan menenggaknya habis tepat saat pintu kamarnya di ketuk oleh pelayan.
"Masuk." perintah Evelyn meletakkan kembali gelasnya ke atas nakas.
Seorang pelayan kemudian masuk dan langsung membungkukkan kepalanya, memberi hormat pada Evelyn.
"Maaf mengganggu nona."
"Ada apa?" tanya Evelyn sembari mengusak rambutnya dengan handuk kering.
"Ada tamu yang menunggu anda di lantai bawah."
Evelyn mengerutkan alisnya dan menoleh ke pelayan itu. "Tamu?"
"Iya, benar nona."
"Ada tamu untukku. Pagi-pagi begini?"
"Iya nona." Pelayan itu mengangguk sembari menatap Evelyn bingung. "Ya, nona. Saya bertanya apakah ada janji temu dengan anda, tapi dia bilang dia tak perlu janji untuk bertemu dengan anda."
Evelyn semakin bingung saja. Seingatnya ia tak punya janji temu dengan siapapun pagi ini. Tapi siapapun itu Evelyn akan tetap menemuinya.
"Katakan padanya untuk menunggu. Aku akan turun dalam lima menit. Aku perlu mengeringkan rambutku lebih dulu."
"Baik nona." Pelayan itu mengangguk.
Beberapa saat kemudian, Evelyn keluar dari kamarnya. Ia kini tengah menuruni anak tangga rumahnya yang menuju ke ruang tamu.
Sejujurnya Evelyn merasa agak kesal. Seumur hidupnya tak pernah ada tamu yang datang untuk menemuinya sepagi ini. Jelas ia sangat terganggu sebab ia juga punya rutinitas sendiri pada pagi hari begini.
"Siapa sih tamunya. Mengganggu saja." omel Evelyn sembari menatap seseorang yang berada di ruang tamu rumahnya.
Tamu yang merupakan seorang laki-laki itu tampak sedang duduk menyandar di sofa ruang tamu sembari menyilangkan kakinya.
Evelyn sontak menghentikan langkahnya menuruni anak tangga saat melihat siapa tamu yang datang. Ia yang sejak awal sudah kesal tampak semakin kesal saja saat melihat laki-laki itu.
"…Daniel?"
Tepat saat itu sang tamu menoleh.
Itu memang Daniel, sahabat baik Evelyn yang saat ini tampak cengar cengir, seperti tanpa dosa.
"Hai, Evelyn." sapa Daniel dengan senyuman.
Eveltn mendecih.
Lihatlah itu. Lelaki bodóh itu bahkan masih bisa tersenyum tanpa mengetahui kalau ia sudah mengganggu waktu Evelyn.
Tanpa membalas senyuman sahabatnya itu, Evelyn kembali melanjutkan langkahnya menuruni anak tangga. Ia mendekati Daniel dengan tangan yang terlipat di depan dada.
Sementara Daniel bangkut dari duduknya merentangkan kedua tangan hendak memeluk Evelyn.
"Apa ini?" omel Evelyn menepis tangan Daniel.
Daniel yang paham dengan sikap gadis itu hanya cengengesan saja. "Apanya?" tanyanya.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Rumahmu tak berubah ternyata." Daniel menatap bangunan rumah Evelyn.
__ADS_1
Merasa pertanyaannya diabaikan, Evelyn hanya memutar bola matanya malas.
"Aku bertanya padamu Daniel. Ada urusan apa kau datang ke rumahku pagi-pagi begini?" tanya Evelyn dengan ketus, raut wajahnya bahkan terlihat tidak bersahabat meskipun mereka memang bersahabat dekat.
Daniel terkekeh, "Hei, kenapa kau marah-marah begitu? Ini masih pagi. Kenapa sepertinya kepalamu sudah panas saja. Kau kesal pada sesuatu?"
"Ck, tentu saja aku kesal. Apa kau tahu tidak tahu jam berapa sekarang?"
Daniel tersenyum, mengabaikan kalimat tajam dari sahabatnya itu. "Ini jam tujuh lewat dua puluh." jawabnya.
"Lantas?"
"Bisakah aku duduk lagi?" tanya Daniel kembali mendudukkan dirinya ke atas sofa. "Sofamu ini terasa lebih nyaman dari milikku dirumah."
Mata Evelyn memicing tajam. Masih menatap Daniel yang saat ini bersantai di sofa.
"Yah, kupikir setidaknya kau bisa menawari aku secangkir kopi atau teh hangat, mungkin." ujar Daniel lagi.
"Ck, kau pikir rumahku ini kafe?" ujar Evelyn ketus, tapi tetap terlihat memberi tanda pada pelayan agar membuatkan minuman untuk Daniel. "Jadi, untuk apa kau datang kesini?"
"Bertemu denganmu. Aku merindukanmu."
Evelyn mendengus, "Jangan bercanda, kita bahkan baru berjumpa semalam."
"Memang." jawab Daniel menggedikkan bahunya santai. "Aku hanya ingin bertemu lagi. Apa masalahnya."
Evelyn ikut duduk di sofa, menatap Daniel seolah pemuda itu baru saja melakukan hal aneh. "Kau memang hobi basa-basi, Daniel."
"Sungguh, aku memang datang untuk berkunjung ke rumahmu. Sudah ku katakan tadi, bukan?"
"Dan kau pikir aku percaya?"
Daniel kembali terkekeh.
Pemuda itu lalu menunjuk beberapa pelayan rumah Evelyn yang tengah sibuk membersihkan barang antik. "Ngomong-ngomong apa mereka itu pelayan baru?"
Evelyn menatap pelayan yang Daniel maksud kemudian mengangguk,"Ya, beberapa dari mereka memang baru bekerja di sini"
"Pantas saja, pelayanmu itu bahkan tak mengenal siapa aku."
"Kau sudah lama tak kemari. Hanya pelayan senior yang mengenalmu. Sudahlah, lebih baik kau katakan saja sejujurnya. Kenapa kau datang pagi ini? Kau butuh pinjaman uang dariku, ya?"
"Kau pikir aku ini lelaki miskin?"
"Ya maka dari itu aku heran. Kau bilang kau datang kemari hanya untuk menyapaku. Memangnya siapa yang akan percaya dengan omong kosong itu. Jadi, bisakah kau katakan apa maumu dan cepat pergi dari rumahku."
"Beginikah caramu memperlakukan tamu?"
"Kau bahkan bukan tamu, Daniel." Evelyn menggelengkan kepalanya tak percaya. "Dan juga, bukankah kau bilang ingin menyapaku? Kau sudah bertemu denganku, kan? Kalau begitu kau bisa pergi sekarang."
Daniel terkekeh, "Kenapa kau buru-buru sekali, sih? Minumanku bahkan belum disajikan. Pelayanmu itu lamban sekali."
"Aku memang buru-buru." Evelyn menunjukkan jam yang ada di pergelangan tangannya, "Sebentar lagi aku harus ke kampus. Aku butuh waktu untuk bersiap-siap dan kau sudah membuang waktuku dengan datang kesini, sepagi ini."
"Jika itu masalahnya, kau bisa masuk untuk bersiap-siap dan aku menunggu di sini!"
"Kau gila?"
"Lumayan." Daniel terkekeh, membuat Evelyn harus memutar bola matanya malas.
Minuman akhirnya dibawa masuk oleh pelayan, membuat Daniel tersenyum senang lalu meneguk minuman yang disuguhkan oleh pelayan untuknya.
__ADS_1
Setelah menenggak minumannya, Daniel melirik Evelyn sesaat kemudian meletakkan kembali gelas yang ia pegang ke atas meja.
"Jadi, apa semalam kau mengantarkannya pulang?" tanya Daniel.
Pertanyaan Daniel itu sukses membuat Evelyn mengerutkan dahinya bingung?
"Mengantarkan siapa maksudmu?"
"Alvin. Siapa lagi memangnya?"
"Hah?"
"Jangan berpura-pura. Bukankah kau berada di klub ayahmu sampai pagi? Kau tidak pergi dari sana, kan?"
Evelyn sontak membelalakan matanya, menatap Daniel terkejut.
"Kau!" ujar Evelyn, menunjuk wajah sahabat dekatnya itu. "Jangan katakan kalau semalam kau membuntuti aku."
Daniel mengendikkan bahunya. "Tidak. Aku ini bukannya orang yang kurang kerjaan seperti dirimu."
"Bohong." tukas Evelyn.
"Aku tidak bohong."
"Lalu bagaimana kau tau aku berad di klub sampai pagi."
"Jadi memang benar?"
Hening.
Daniel tidak mengatakan apapun lagi. Lelaki itu tampak tersenyum tipis, menatap lurus wajah sahabatnya itu dengan santai.
"Jadi benar kau mengikutiku?" tuduh Evelyn lagi.
"Sudah kubilang, tidak."
"Lalu bagaimana kau tau?"
"Semalam aku tidak langsung pulang. Aku pergi ke rumah temanku. Dan saat aku pulang, aku melihat mobilmu masih terparkir di area klub malam." Daniel menjelaskan.
Kali ini Evelyn kembali terdiam.
"Jadi benar kan kau memang berada di klub sampai pagi. Apa kau menunggunya?"
"Tidak."
"Lantas."
"Bukan urusanmu." ujar Evelyn kemudian mengibaskan sebelah tangannya, "Sudahlah, aku tidak mau membahas ini. Sekarang aku mau bersiap kuliah."
"Mau ku antar?" tawar Daniel.
"Mengantarku ke kampus?"
"Ya."
"Kau mau?" Evelyn menatap Daniel tak percaya. Sejak kapan Daniel bersedia mengantarnya pergi kemanapun.
"Tentu." Daniel menggedikkan bahu. "Lagipula, bukankah aku yang menawarkan barusan?"
Evelyn mengangguk, "Kalau begitu baiklah. Aku akan bersiap sekarang."
__ADS_1
***
Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)