Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
32


__ADS_3

"Bukankah dia tampan? Maksudku lihatlah wajahnya itu." ujar Helena, tepat setelah kepergian pelayan berwajah tampan nan rupawan tadi.


"Bukan tampan, tapi sangat tampan." jawab gadis lainnya.


"Tubuhnya juga wangi."


"Aku setuju. Astaga, aku bisa mencium aroma tubuhnya bahkan hanya dengan melewatinya saja. Ah, aku sangat ingin mencium wangi itu setiap hari." timpal Helena gemas.


"Tapi sayang, sepertinya pelayan tampan itu hanya tertarik pada Evelyn saja." sambung gadis berambut blode.


"Benar. Apa kalian lihat tadi? Dia terus saja menatap Evelyn tanpa berkedip padahal saat itu aku sedang sibuk menggodanya. Menyebalkan sekali." ujar Helena sinis.


"Ah, aku iri sekali pada Evelyn. Dia selalu menggoda pria yang kita sukai bahkan tanpa melakukan apa-apa." jawab gadis lain membuat ekspresi cemberut.


Evelyn terkekeh, menanggapi. "Ya, benar. Aku sama sekali tidak menggodanya tapi dia tetap tergoda. Jadi, lebih baik salahkan saja diri kalian karena gagal menggodanya." ejek Evelyn.


"Apa yang kalian bicarakan? Aku justru merasa kalau Evelyn-lah yang sebenarnya tertarik pada pelayan itu." sambung Ziva mengedipkan sebelah matanya pada Evelyn untuk menggoda sahabatnya itu.


"Aku?" Evelyn menunjuk dirinya sendiri dan langsung dibalas anggukan oleh Ziva.


"Ya, kau tadi menatap pelayan itu dengan tatapan lapar."


"Ck, apa yang kau katakan?" Evelyn berpura-pura memainkan rambutnya, canggung.


"Kau pikir kau bisa menutupinya dariku, Eve?" balas Ziva lagi tersenyum miring pada Evelyn.

__ADS_1


"Hai, ada apa dengan kalian. Dia itu kan hanya pelayan. Kenapa kalian harus memujinya sampai berlebihan seperti itu!" ujar salah satu teman pria yang duduk tidak jauh dari mereka, tampak mulai bosan dengan topik pembicaraan tentang pelayan ini.


"Kau hanya iri, Sean. Kau juga pasti menyadari kalau dia itu memang tampan. Bahkan jauh lebih tampan darimu." ujar Ziva mengejek teman lelakinya itu sambil sesekali bermesraan dengan kekasihnya yang duduk di sebelahnya.


"Cih, mau tampan seperti apapun. Tetap saja, dia itu hanyalah seorang pelayan." jawab Sean yang masih tak mau kalah dan membuat para gadis itu tertawa karena melihat ekspresi kecemburuan di wajah lelaki itu.


Ziva lalu menoleh pada Evelyn.


Gadis itu hanya duduk diam di posisinya seolah tak tertarik untuk bicara apapun lagi.


Ziva bahkan mendapati beberapa kali mata sahabatnya itu melirik ke arah pintu.


'Apa Evelyn memikirkan pelayan itu?' batin Ziva.


Tiba-tiba saja Ziva menyadari sesuatu. Evelyn bahkan tak mengatakan apapun untuk menyanggah ucapan Ziva yang mengatakan kalau Evelyn tertarik pada pelayan itu.


Evelyn juga lebih banyak diam. Ia hanya mendengarkan teman-temannya yang tengah bicara. Itu agak aneh, karena biasanya saat mereka berkumpul seperti ini Evelyn selalu jadi salah satu yang banyak bicara.


Menyadari keanehan dari sahabatnya itu, Ziva akhirnya bangkit lalu berpindah posisi agar bisa duduk tepat di sebelah Evelyn.


Ziva ingin mencoba mencari tahu penyebab dari kegalauan sahabatnya itu. Evelyn tak pernah diam saat ada pesta. Dia tipe orang yang selalu meramaikan suasana.


"Hei, ada apa denganmu? Kau baik-baik saja kan?" tanya Ziva sambil memegang lengan sahabatnya itu dan di balas Evelyn dengan tatapan bingung.


"Kenapa denganku?"

__ADS_1


"Ya, kau hanya diam saja? Apa kau sedang sakit?"


Evelyn tersenyum sekilas pada Ziva lalu menggeleng pelan. "Aku tidak apa-apa. Kau tenang saja."


"Kau yakin?" tanya Ziva, menatap agak khawatir pada Evelyn. "Maksudku, kau tampak banyak melamun dan juga sangat diam malam ini. Apa ada yang mengganggu pikiranmu?"


Evelyn menghela pelan lalu menatap Ziva lekat. Sahabatnya ini memang yang paling mengerti dirinya.


"Ya, sebenarnya memang ada yang mengganggu pikiranku." ujar Evelyn memilih mengalah.


"Sudah kuduga." Ziva tersenyum puas.


"Memang ada yang mengganggu, tapi ini bukan tentangku."


Ziva mengernyitkan alisnya bingung. "Lalu mengenai apa? Ah, apa tentang kekasihmu yang baru?"


Evelyn menggeleng. "Bukan. Jangan mengada-ada. Aku bahkan tak punya kekasih."


"Lantas? Siapakah orang yang sudah membuat sahabatku jadi galau seperti ini." canda Ziva.


Evelyn terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


"Aku bukannya galau. Aku hanya memikirkan sesuatu."


"Memikirkan apa?"

__ADS_1


"Sebenarnya… ini... ini tentang pelayan itu."


***


__ADS_2