Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
35


__ADS_3

Setelah beberapa saat berlalu, pesta malam itu berakhir juga. Semua orang berpamitan dan mulai meninggalkan ruangan itu satu per satu.


Tampak beberapa dari mereka pulang dalam keadaan mabuk berat. Bahkan beberapa lainnya ada yang sudah kehilangan kesadaran karena terlalu banyak minum di pesta itu dan mau tak mau harus di bopong oleh yang lain.


Ziva melongo menatap teman-temannya yang sudah tampak kacau.


"Ck, ck, ck, mereka mengerikan sekali kalau sudah mabuk." ujar Ziva berdecak sembari menggelengkan kepalanya. "Untung saja aku tak banyak minum seperti mereka. Aku bersyukur punya kontrol diri. Ya kan, Eve?"


Ziva menoleh untuk menatap pada Evelyn yang ternyata juga sudah terlihat mabuk berat.


Melihat kondisi Evelyn saat ini Ziva langsung mendengus kesal. "Dia juga mabuk? Bukankah tadi dia mengatakan kalau dia tidak mudah mabuk." gerutunya.


Ziva sedikit heran. Biasanya Evelyn memang bukan gadis yang mudah mabuk. Ia dan Evelyn sama-sama bisa mengontrol diri. Tapi tampaknya hari ini Evelyn agak berbeda. Ia bahkan minum lebih banyak daripada biasanya.


Beberapa saat kemudian, Evelyn membuka sedikit matanya dan melihat ruangan yang sudah mulai sepi.


"Apa acaranya sudah selesai?"


"Sudah dari tadi. Semua orang juga sudah pulang sekarang." jawab Ziva malas.


"Kalau begitu aku juga akan pulang sekarang." ujar Evelyn mencoba bangkit dari duduknya namun gagal.


Ziva buru-buru bangkit dari duduknya untuk membantu Evelyn berdiri.

__ADS_1


"Hati-hati, Eve! Kau sangat mabuk sekarang."


"Semua sudah selesai, kan? Aku hanya ingin pulang" gumam Evelyn lagi.


"Iya! Ayo kita pulang. Kalau tidak kau akan tidur di tempat ini nanti. Sayang, tolong kau bawakan tasku, ya!" pinta Ziva pada kekasihnya lalu mulai kembali membantu Evelyn untuk berdiri.


Sebenarnya Evelyn masih memiliki sedikit kesadaran bahkan masih bisa berjalan meskipun langkahnya terlihat agak sempoyongan.


Mereka berjalan melewati beberapa pelayan yang tengah mengepel lantai. Para pengunjung lain memang sudah pulang. Hanya menyisakan beberapa orang saja termasuk mereka.


"Aku akan mengantarkan pacarku dulu, oke!" ujar Ziva pada Evelyn sesampainya mereka di area parkir.


"Hm."


"Ya, pergilah dulu." ujar Evelyn mengibas-ngibaskan tangannya malas.


Sepeninggalan Ziva, Evelyn melangkahkan kakinya perlahan menyusuri area parkir. Ia tampak menyandarkan punggungnya pada sebuah mobil yang entah milik siapa, sembari memijit kepalanya yang terasa sangat pusing.


"Kepalaku sakit sekali." Evelyn langsung merosot kebawah karena tak tahan melawan efek mabuk.


Sementara itu, Ziva saat ini sedang mengantarkan kekasihnya menuju ke tempat kekasihnya itu memarkirkan mobil.


"Aku pulang dulu, sayang." ujar kekasih Ziva yang bernama Leon itu.

__ADS_1


"Ya sayang."


Ziva mengecup pipi Leon sebagai tanda perpisahan. Ia memang meminta kekasihnya itu untuk pulang lebih dulu dan tidak perlu menunggunya karena ia memang membawa mobil sendiri.


"Kau yakin tidak mau ku antar saja, sayang?" tanya kekasih Ziva itu mencoba memastikan.


Ziva mengangguk mantap.


"Ya, Leon. Aku harus mengantar Evelyn pulang terlebih dahulu. Aku harus bertanggung jawab karena dia datang bersamaku tadi." ujar Ziva.


"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu, ya" pamitnya.


Ziva mengangguk. "Hati-hati."


Ziva melambaikan tangannya pada mobil kekasihnya yang mulai pergi meninggalkan area klub malam itu. Setelah itu Ziva lalu memutuskan untuk segera pulang karena hari sudah sangat malam.


Namun begitu ia menolehkan pandangan kembali pada Evelyn, Ziva terkejut setengah mati saat melihat sahabatnya itu sudah duduk menyandar di dekat ban mobil milik orang lain dengan mata yang tampak tertutup.


"Astaga. Apa-apaan dia." seru Ziva segera berlari menuju Evelyn.


"Hei, Evelyn. Ya ampun. Apa yang kau lakukan. Jangan tidur di situ." pekik Ziva terus berlari mendekati Evelyn dengan panik.


***

__ADS_1


__ADS_2