Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
45


__ADS_3

Saat itu pukul sepuluh pagi saat Evelyn dibangunkan oleh suara teleponnya yang berdering. Ia mengacuhkan panggilan telepon karena terlalu mengantuk dan memilih untuk menutupi wajahnya dengan selimut.


Namun ia harus kembali terganggu oleh teleponnya yang berdering lagi. Evelyn mendesáh malas tapi tetap tak ingin mengangkat telepon itu.


Evelyn lalu membuka matanya perlahan, namun segera menutupnya kembali saat merasa silau oleh cahaya yang masuk ke kamarnya melalui celah gorden.


Evelyn membuka kembali matanya setelah mulai terbiasa.


"Uh kepalaku, sakit sekali." desis Evelyn saat merasakan sakit yang tak tertahankan di kepalanya.


Gadis itu tampak mengangkat tangannya untuk memijit keningnya perlahan, berharap sakit yang menyerang kepalanya bisa berkurang.


Evelyn yakin, jika dilihat dari kondisinya saat ini, bisa dipastikan kalau semalam ia pasti mabuk berat.


"Pasti aku terlalu banyak minum semalam." gumam Evelyn sembari menggelengkan kepalanya lelah.


"Huek," Evelyn menutup mulutnya dengan telapak tangan. "Aku mual dan perutku terasa tak enak."

__ADS_1


Menyadari kondisinya sedang dalam tak baik-baik saja, Evelyn meruntuki dirinya sendiri.


Bukankah terakhir kali ia sudah bertekat untuk berhenti minum. Tapi apa ini, ia malah membiarkan dirinya mabuk berat lagi. Semua ini ia lakukan karena Ziva yang mengajaknya.


Evelyn menggelengkan kepalanya sembari menghela napas. Jika itu orang lain, Evelyn tak akan bersedia minum banyak.


Gadis itu lalu mengedarkan pandangan ke area sekitarnya dan mengerutkan alisnya, merasa heran saat menyadari kalau ini adalah kamarnya sendiri.


"Aku di rumah ternyata?" gumamnya heran.


Tentu saja Evelyn heran.


Jangankan untuk berhasil sampai di rumah dengan selamat, menyetir dengan benar saja ia pasti tak akan mampu. Lantas bagaimana caranya dia bisa pulang dan bangun dengan nyaman di tempat tidurnya?


Sembari menahan sakit pada kepalanya, Evelyn bergerak untuk mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur. Evelyn menuang air putih yang berada di atas nakas di samping tempat tidur ke dalam gelas dan meminumnya.


Masih merasakan sedikit pusing, Evelyn memilih untuk kembali memijit kening dan memejamkan kedua matanya. Ia menghembuskan nafasnya perlahan, mencoba menghilangkan rasa penat yang melanda hati dan pikirannya.

__ADS_1


"Siapa yang mengantarkan aku pulang semalam? Kenapa aku tak ingat?" batin Evelyn..


Evelyn menghela. Apa-apaan ini. Sekacau apa sih dirinya hingga siapa yang sudah membawanya pulang saja ia sampai tak ingat.


Apakah Ziva sahabatnya yang sudah membawanya pulang? Tapi itu jelas tidak mungkin. Ziva mana mungkin mampu mengangkat tubuhnya. Evelyn menggeleng. Bukan. Jelas bukan Ziva. Kalau begitu, siapa? Apakah kekasih Ziva yang sudah membantu membawanya pulang?


"Bisa jadi, bukan?" gumam Evelyn.


Evelyn menegak kembali air putih di gelas yang ia pegang saat tiba-tiba saja sebuah gambaran tentang apa yang terjadi semalam muncul di kepalanya. Sebuah bayangan yang membuat Evelyn terkejut pada dirinya sendiri.


Itu adalah bayangan di saat ia menarik dan mencium seorang pemuda asing dengan 'rakus'nya.


"Uhuk! Uhuk!" Evelyn tersedak air minumnya sendiri setelah mengingat sikap kurang ajar yang sudah ia lakukan semalam.


Dalam kondisi mábuk, ia pasti sudah berbuat hal konyol lagi dengan mencium seseorang tanpa tahu siapa dia.


"Apa yang aku lakukan? Mencium orang asing? Aku pasti sudah sint!ng" omelnya.

__ADS_1


***


__ADS_2