Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
98


__ADS_3

Alvin melangkahkan kakinya menuju toilet dengan sedikit terburu-buru. Ia bahkan harus beberapa kali meminta maaf pada pengunjung klub malam karena tak sengaja menabrak atau menyenggol mereka.


Sesampainya di toilet, Alvin mengedarkan pandangan untuk memastikan suasana toilet. Saat itu ia yakin kalau toilet tengah kosong karena orang terakhir baru saja keluar.


Dengan cepat Alvin memasuki salah satu bilik toilet dan dengan gerakan tergesa-gesa menutup pintu toilet lalu menguncinya.


Alvin lalu menutup tutup toilet dan mendudukkan dirinya ke atas closet.


"Apa yang baru saja terjadi. Kenapa gadis itu tiba-tiba berbuat hal tak senonoh seperti itu padaku?" Alvin mengusap wajahnya frustasi.


Alvin ingin sekali memekik kesal. Tapi ia ingat ini adalah toilet umum dan seseorang bisa saja mendengarnya. Tangan Alvin tampak mencengkram rambutnya sendiri dengan kasar.


Jujur saja ia merasa kesal setengah mati pada dirinya sendiri karena bayangan saat gadis itu mencoba menciumnya masih terus terbayang di kepalanya.


Kejadian ini sedikit banyak kembali mengingatkannya dengan kejadian beberapa waktu lalu. Kejadian saat dimana Evelyn mencium bibirnya. Ini sama persis seperti yang terjadi di area parkir waktu itu tapi entah kenapa perasaanya jauh berbeda.


Evelyn memberikannya rasa yang lain. Rasa yang membuat jantungnya berdebar kencang bahkan Alvin menginginkannya lagi. Tapi kali ini, rasanya begitu buruk seakan-akan ia baru saja dipaksa saat melakukannya bahkan memberikannya rasa trauma dihati.


Alvin menghela napasnya lelah kemudian bangkit dari duduknya. Ia keluar dari bilik toilet dan menuju wastafel.


Alvin menyalakan keran untuk berkumur kemudian menyemburkan air itu dengan rasa jijik seolah-olah ciuman itu akan menjadi penyebab penyakit untuknya. Hal itu ia lakukan karena ia benar-benar merasa tak nyaman dengan ciuman gadis itu.


Alvin lanjut membasuh wajahnya dengan air dingin. Ia menarik napas panjang, mencoba untuk menenangkan dirinya kemudian menatap pantulan dirinya pada cermin yang ada di hadapannya.


Alvin menggigit bibirnya sendiri. Ia merasa baru saja dilecehkan. Tunggu, apakah itu memang bisa disebut pelecehan?


Alvin merapikan seragam kerjanya dan bersiap untuk keluar dari toilet. Namun saat hendak melangkahkan kakinya keluar toilet, langkahnya terhenti saat melihat seorang gadis berdiri tepat di depan pintu.


Alvin menatap terkejut. "Anda?"


"Ya, benar. Ini aku. Lagi..." jawab Monika santai.


Gadis itu tampak berdiri dengan santai di hadapan Alvin. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding toilet sembari melipat kedua tangannya di depan dada, tersenyum pada Alvin.


"Apa yang anda lakukan di sini?"


"Aku?" Monika menunjuk dirinya sendiri. "Aku sedang menunggumu."


Alvin mengernyitkan dahi.


"Tapi, bagaimana..." Alvin menoleh ke area sekitar toilet, tak ada satu pun orang di sana, toilet juga tampak sepi. "Bagaimana anda bisa-"


"Bagaimana aku bisa masuk kemari tanpa dilarang siapapun? Itukah yang ingin kau tanyakan padaku?" ujar gadis itu.


Alvin diam saja, tak berniat menjawab ucapan gadis itu.


"Seperti yang kau lihat ini toilet umum." ujar Monika menjelaskan.

__ADS_1


"Ya, tapi ini toilet laki-laki, Nona."


"Ini memang toilet laki-laki."


"Dan anda tidak boleh masuk kesini."


"Aku tahu."


"Lalu kenapa anda masuk ke sini!"


"Karena aku ingin." Monika terus menjawab pertanyaan Alvin dengan santai. Wanita itu seperti tak punya beban. "Dan kau lihat, tak ada yang melarangku. Uang yang berbicara."


"Anda menyogok penjaga?"


Monika menatap takjub, "selain tampan, kau juga pintar rupanya."


Alvin menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan apa yang gadis ini lakukan. Jika dia tahu ini adalah toilet laki-laki lalu kenapa ia tetap masuk ke dalam?


"Apa anda tidak malu masuk ke toilet laki-laki seperti ini?"


Monika hampir tak bisa menahan tawanya mendengar perkataan pemuda tampan ini.


"Dan kenapa nona harus terus menggangguku?"


"Itu karena kau mengabaikanku, sayang. Dan aku tidak pernah diabaikan oleh siapapun. Seumur hidupku. Aku tak suka diabaikan. Sekarang aku ingin lihat sejauh apa kau akan mengabaikan aku, pelayan."


"Bisakah nona keluar. Ini jelas tidak sopan jika anda berada di toilet pria seperti ini."


"Ayolah tampan. Aku bisa berada dimana aku mau. Tak ada yang bisa menghalangiku." ujar Monika lagi.


"Saya tidak ingin tahu apa yang sedang anda lakukan di sini atau apa yang anda cari. Saya rasa tidak ada hubungan apapun dengan saya. Jadi saya permisi."


"Tidak." Monika buru-buru merentangkan sebelah tangannya untuk menutup jalan, mencegah Alvin pergi. "Kau sudah mengabaikanku tadi dan aku tak ingin diabaikan lagi."


Alvin mengerutkan alisnya. "Apa sebenarnya apa yang anda inginkan dari saya."


"Kau istimewa. Ada sesuatu pada dirimu yang membuat aku menyukaimu. Maukah kau tidur denganku malam ini? Aku bayar berapapun yang kau mau."


Alvin menggelengkan kepalanya. Ia sungguh tak punya banyak waktu untuk meladeni hal-hal seperti ini.


"Sudah cukup, nona. Saya harus bergegas, pekerjaan saya menumpuk. Saya minta anda menyingkir. Saya hanya tak ingin berbuat kasar pada wanita. Apalagi pelanggan klub ini."


"Tapi aku suka jika ada yang kasar padaku." goda Monika.


Alvin menatap Monika dengan tatapan yang tak bisa diartikan.


"Saya rasa anda sedang mabuk sekarang, Nona. Tolong sadarkan diri anda terlebih dahulu."

__ADS_1


"Aku mabuk?" Monika tertawa renyah. "Aku sedang tidak mabuk. Aku sadar. Seratus persen. Tapi, yah, aku memang mabuk. Aku mabuk kepayang oleh dirimu. Aku menginginkanmu. Jadi bagaimana kalau kita-"


"Bisa tolong jauhkan tangan anda. Saya ingin pergi." pinta Alvin.


Monika menggeleng, kemudian tersenyum.


"Ah, kupikir aku tak cukup menarik untukmu. Kau pelayan yang punya selera tinggi rupanya." ujar Monika.


Monika sungguh tersinggung sekarang karena Alvin yang terus menerus menolaknya.


Sejujurnya Alvin adalah orang pertama yang menolaknya untuk bermain cinta dan itu sangat melukai harga dirinya.


"Dengar!" Monika melangkah maju.


Melihat Monika yang melangkah maju, Alvin dengan cepat melangkah mundur setengah meter, menjauh dari wanita itu.


"Kenapa kau menjauh begitu?" Monika semakin merasa kesal sekarang. "Kau mencoba menghindariku?"


Pemuda itu tidak langsung menjawab. Ia malah terdiam sembari menatap gadis itu dengan tatapan gugup.


Alvin kini tengah berusaha mencari cara untuk menghindari gadis ini tetapi otaknya terasa kosong.


"Ada apa Alvin?" Monika kembali melangkah maju, semakin mendekat padanya. "Kenapa kau tampak begitu gugup?"


"Aku tidak gugup."


"Benarkah begitu?" Monika melangkah maju untuk yang kesekian kalinya, membuat Alvin harus kembali melangkah mundur.


Alvin bahkan tak menyadari bagaimana Monika berhasil membuatnya terpojok hingga punggungnya menyentuh dinding.


Monika mengulurkan tangan, hendak menyentuh pipi Alvin tapi Alvin dengan cepat menepisnya. "Jangan bertindak kurang ajar pada saya."


"Menarik. Sungguh menarik. Ini pertama kalinya ada seseorang yang sama sekali tak tergoda oleh rayuanku seperti ini. Kau tahu, selama ini tak pernah ada yang bisa menahan pesonaku."


Sembari mencondongkan tubuhnya pada Alvin, Monika tersenyum licik.


"Tapi mari kita lihat seberapa kuat kau menahan pesonaku."


Monika kembali mengulurkan tangannya hendak menyentuh wajah Alvin.


"Apa aku menggangu kalian?" terdengar suara berat dari arah pintu masuk, membuat Monika langsung memundurkan langkahnya dan menoleh.


***


Note :


Bab 92-102, saya revisi. Trm

__ADS_1


__ADS_2