Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
118


__ADS_3

Setelah menghabiskan waktu satu jam untuk tidur siang, Evelyn perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali sebelum benar-benar bangun dari posisinya.


Evelyn melangkah menuju nakas tempat air putih berada. Ia menuang air lalu menenggaknya.


Namun tiba-tiba saja gadis itu tersenyum karena mengingat sesuatu. Ia meletakkan kembali gelas ke atas nakas dan tersenyum lagi.


"Ah, sepertinya moodku sore ini terasa bagus sekali."gumam Evelyn senang.


Evelyn tahu apa yang jadi alasan dia bisa jadi senang seperti ini. Pasti karena hari ini ia sudah bertemu dengan pemuda tampan itu.


"Kalau tau makan siang dengan Alvin bisa membuat suasana hatiku jadi bagus, aku akan makan siang dengannya setiap hari." lanjutnya.


"Salahkan saja dirinya sendiri karena dia tak pernah mengirimiku pesan, jadi aku datang untuk menemuinya sendiri."


Evelyn melangkah ke arah jendela dan menatap pemandangan taman yang ada diluar jendela rumahnya.


Evelyn menghela napas lalu memilih keluar dari kamar menuju ke lantai bawah. Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke sofa untuk bersantai.


Tak lama kemudian Maria datang untuk mengantarkan salad buah. Evelyn ingat kalau pada jam segini ia memang selalu mengabiskan waktu untu menikmati salad di ruang tamu.


"Ini salad buah anda, Nona." ujar Maria meletakkan mangkuk keatas meja.


"Terimakasih, Maria." ujar Evelyn menegakkan duduknya untuk makan salad buah yang memang sudah menjadi makanan favoritnya selama ini.


"Maaf, Nona." ujar Maria. "Tapi apa Nona ingin saya menyiapkan sesuatu untuk makan malam?"


"Hm," Evelyn berhenti mengunyah dan tampak berpikir sejenak. Evelyn mengangkat kepalanya. "Kau bisa-"

__ADS_1


Sebelum Evelyn sempat memutuskannya, tiba-tiba ponselnya yang berada diatas meja berbunyi.


Evelyn melirik ke arah layar ponselnya. Dari posisinya ia bisa membaca dengan jelas nama Ziva yang terpampang di layar.


"Aku akan memikirkannya dulu." ujar Evelyn mengangkat ponselnya dan menunjukkannya pada Maria.


Maria menatap beberapa detik kemudian mengangguk paham. Ia tau majikannya mungkin ingin mengangkat teleponnya dulu dan membuat Maria memilih pergi dari tempat itu.


Setelah kepergian Maria, Evelyn mengangkat telepon dan menempelkan ponselnya ditelinga.


"Ada apa?" ujar Evelyn malas pada Ziva yang ada di seberang telepon.


"Hei Eve, aku mengirimimu pesan. Tapi tidak kau baca. Kau sibuk?"


"Tidak. Aku baru bangun." jawab Evelyn meletakkan mangkuk saladnya. "Ada apa?"


Evelyn menaikkan sebelah alisnya, merasa heran. Ini aneh. Tak biasanya Ziva mentraktirnya makan malam begini.


"Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau mengajak makan malam." Evelyn memilih mengutarakan pikirannya.


"Ya, sebenarnya aku memesan meja di salah satu restoran untuk makan malam dengan pacarku. Tapi ternyata dia tak bisa datang. Jadi… yah, kita bisa makan bersama. Aku tak ingin rugi, kau tau!" ujar Ziva menjelaskan.


Evelyn mendecih.


"Uangmu banyak. Kenapa masih memikirkan untung rugi?"


"Hei, aku ini tak sekaya dirimu. Kau lihat sendiri, kan kalau aku bahkan harus bekerja untuk memenuhi hidupku." Ziva bicara dengan nada memelas.

__ADS_1


"Jangan berpura-pura menjadi orang susah untuk mendapat simpatiku." balas Evelyn sinis. "Bukankah kau sendiri yang mengatakan padaku kau memilih bekerja karena kau merasa bosan. Bukan karena kau benar-benar butuh."


Ucapan Evelyn itu berhasil membuat Ziva terkekeh.


"Hei, cerewet. Tujuanku menghubungimu hanya karena ingin mengajakmu makan malam. Aku bukan ingin mendengar ocehanmu itu. Ayolah, aku tak ingin makan sendiri."


"Baiklah," Evelyn menyerah. Ia juga tak tega menolak ajakan sahabat dekatnya itu. "Jam berapa?"


"Jam tujuh. Bagaimana? Kau mau datang, kan?" tanya Ziva di seberang, seolah memastikan.


"Ya, aku akan datang."


"Sungguh? Kau mau? Apa perlu aku jemput?" tanya Ziva.


"Tidak, tidak perlu. Kau kirimkan saja lokasi restorannya padaku. Aku akan datang ke sana nanti."


"Baiklah. Aku akan mengirimkannya padamu. Aku tunggu." ujar Ziva antusias.


Setelah itu telepon dimatikan sepihak oleh Ziva. Evelyn menatap layar ponselnya dan mendecih.


"Dasar tidak sopan." ujar Evelyn melemparkan ponselnya ke sofa di sampingnya.


Evelyn lalu menoleh pada pelayan yang ada di dekatnya. "Kau beritahu Maria kalau tak perlu menyiapkan makanan apapun untukku nanti malam."


"Tidak perlu, Nona?"


"Benar. Aku akan pergi bersama makan Ziva malam ini."

__ADS_1


***


__ADS_2