
Pagi itu, Alvin berjalan dengan langkah cepat menuju ruang kuliahnya. Ia harus buru-buru karena waktunya tidak banyak untuk berjalan dengan bersantai-santai.
Pagi ini Alvin memang tidak terlambat, tapi ia berangkat ke kampus jauh lebih siang dari biasanya. Jika biasanya Alvin tiba di kampus pukul tujuh tepat, kali ini ia tiba pada pukul tujuh lewat empat puluh lima. Alvin terlambat lebih dari selama setengah jam.
Alvin memang bangun kesiangan karena semalam ia pulang bekerja terlalu larut. Alvin sampai di rumah sekitar pukul tiga lewat dua puluh pagi karena harus membantu mengantarkan pengunjung yang mabuk dan harus kembali lagi ke klub malam untuk mengambil motornya.
Dan saat ini, begitu sampai di ruang kuliahnya, Alvin langsung menarik kursi kuliah dan mendudukkan pantaťnya di kursi itu. Ia mengeluarkan buku bacaan setelah itu barulah mulai membaca buku dengan serius.
Namun konsentrasinya untuk membaca tiba-tiba saja terpecah saat ia teringat kejadian semalam. Kejadian dimana gadis bernama Evelyn itu tiba-tiba saja mencium bibirnya dan membuat dirinya terkejut bukan main.
Alvin perlahan mengangkat tangannya kemudian menyentuh bibirnya dengan jari. Alvin tersenyum simpul. Bekas ciuman gadis itu bahkan masih begitu membekas di ingatannya.
Ah, bisakah Alvin menyebut dirinya beruntung saat gadis yang ia sukai pada pandangan pertama itu tiba-tiba saja menciumnya bahkan tanpa diminta?
Namun detik itu juga buru-buru Alvin tersadar atas lamunannya sendiri. Ia menggelengkan kepalanya kencang saat menyadari kalau pikirannya sudah mulai ngawur.
'Apa yang aku lakukan? Dia menciumku waktu itu hanya karena dia sedang mabuk dan tak sadar. Apa yang sedang aku pikirkan ini jelas salah. Dan kenapa juga aku harus memikirkan ini? Cih, aku dan gadis itu bahkan sudah seperti langit dan bumi. Aku jelas bukan levelnya..." batin Alvin.
"HAI ALVIN!!" teriakan nyaring seseorang terdengar dari arah pintu masuk ruang kuliah.
Itu Dave, sahabat dekat Alvin yang baru saja tiba di ruang kuliah. Ia berjalan mendekat pada Alvin kemudian menarik kursi kuliah yang ada di depan Alvin dan memutarnya agar menghadap ke arah pemuda tampan itu. Dave lalu mendudukkan dirinya dengan santai di kursi itu. Ia menatap gerak gerik Alvin yang saat ini sama sekali tak menatapnya, fokus pada buku di hadapannya.
"Kemana saja kau? Kenapa kemarin kau menghilang di jam kuliah kedua?" tanya Dave, menatap Alvin dengan tatapan penasarannya.
"Aku bolos." jawab Alvin asal.
"Apa? Kau apa?"
"Bolos."
"Kau bolos?" Dave menatap sahabatnya itu dengan tatapan tak percaya.
"Ya,"
"Ayolah... jangan berbohong, Vin. Mana mungkin kau bolos. Memangnya sejak kapan kau pandai bolos kuliah?"
__ADS_1
Alvin menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bohong."
Senyum Dave memudar saat melihat raut serius yang ditunjukkan Alvin.
"Wow, jadi kau memang bolos kuliah?" Dave menghela nafasnya panjang, lalu menatap Alvin dengan serius. "Apa ini karena Karina?"
Ucapan Dave itu membuat Alvin seketika mengerutkan dahinya bingung.
"Karina?"
"Ya." Dave mengangguk mantap. "Aku yakin pasti karena gadis itu kan?"
"Kenapa jadi membahas dia?"
"Aku tebak. Kau pasti masih merasa sedih dan patah hati karena dia meninggalkanmu, mencampakanmu. Itu sebabnya kau butuh waktu sendiri dan memutuskan untuk bolos kuliah. Benar begitu kan?" tebak Dave asal.
Alvin hampir tersedak ludahnya sendiri mendengar kalimat asal-asalan dari sahabatnya itu. Ia lalu terkekeh pelan. "Kau bicara asal-asalan. Jangan bercanda, Dave." ujarnya.
"Ah, jadi bukan karena Karina?"
Alvin berdecak. "Tentu saja bukan."
"Berhentilah membahas tentang Karina, Dave. Aku tidak ingin mendengar namanya lagi dalam hidupku. Aku dan Karina sudah tidak memiliki hubungan apapun." tegas Alvin menatap sahabatnya itu tajam.
"Baiklah! Jangan marah begitu." Dave hanya menatap Alvin dengan cengiran lebar lalu merangkul bahu Alvin. "Maafkan aku, oke!"
"Lupakan saja." Alvin mengibaskan tangannya.
"Oh ya, aku dengar tadi dosen mata kuliah kedua hari ini pergi keluar kota." Dave akhirnya mengubah topik pembicaraannya.
Alvin mengangguk, "Ya, aku juga mendengarnya dari mahasiswa lain tadi."
"Oke, karena dosennya tidak hadir. Kita pasti pulang lebih cepat, kan?"
"Ya, tentu saja. Lalu kenapa?"
__ADS_1
"Bagaimana kalau pulang kuliah ini kau dan aku pergi ke game center? Terakhir kali aku kalah darimu jadi aku ingin membalas kekalahanku waktu itu." tawar Dave.
"Game center?"
"Ya, mau pergi bersamaku?"
Alvin menggelengkan kepalanya pelan dan kembali membaca buku di tangannya. "Aku tidak bisa. Pulang kuliah ini aku harus mengerjakan tugas pak Bondan."
Dave berdecak.
"Ayolah, kau kan bisa mengerjakannya nanti saat ada waktu luang. Lagipula tugasnya kan masih lama, di kumpulnya saja baru minggu depan, kenapa kau rajin sekali, sih?" bujuk Dave.
"Aku tidak punya waktu luang sepertimu untuk bisa menunda-nunda tugas kuliah, Dave." jawab Alvin tanpa mengalihkan pandangannya dari buku di hadapannya. "Dan ya, tugasnya memang baru akan di kumpul minggu depan, tapi aku tidak ingin membuat tugas kuliahku sampai menumpuk sepertimu." sindir Alvin.
"Tak punya waktu kosong? Ah, kau ini sok sibuk sekali." protes Dave. Ia kesal. Padahal biasanya Alvin tidak pernah menolak ajakannya tapi kali ini sahabatnya itu malah menolaknya. "Ya sudah, bagaimana dengan sore hari?"
Alvin kembali menggeleng.
"Aku harus istirahat sore hari nanti, kalau tidak aku akan kurang tidur." ujar Alvin menjelaskan.
"Kenapa kau kurang tidur?"
"Itu karena aku harus bekerja sampai jam dua belas atau jam satu malam nanti. Dan aku tidak mau mengantuk saat jam kuliah esok harinya."
"Jam dua belas malam?" Dave bertanya kaget.
"Ya."
"Kau bekerja sampai jam dua belas malam? Tengah malam?"
Alvin mengangguk. "Ya,"
"Jangan bercanda. Memangnya kau bekerja di klub malam sampai-sampai harus pulang pagi hari." Dave terkekeh geli saat mengatakannya. Namun tawanya memudar saat melihat raut serius di wajah Alvin.
Sementara Alvin hanya menatap Dave datar seolah memberitahu sahabatnya itu kalau ini bukanlah candaan.
__ADS_1
"Kau benar-benar bekerja di klub malam?"
***