Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
17


__ADS_3

Pagi itu, waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi tepat saat Alvin tiba di kampusnya. Ia membelokkan sepeda motornya memasuki area parkir kampus.


Setelah memarkirkan motornya, Alvin melepas helm dan dengan cepat turun dari motornya baru kemudian bergegas menuju ruang kuliahnya.


Selama perjalanan menuju ruang kuliah, terlihat beberapa gadis diam-diam melirik kepada dirinya. Namun tak ada yang istimewa bagi Alvin dari tatapan itu. Ia tetap terlihat biasa saja bahkan terkesan acuh dan tak perduli dengan tatapan itu bahkan tetap jalan seperti tak ada yang terjadi.


"Vin! Alvin, tunggu dulu." seru seorang pemuda sambil berlari kecil di koridor kampus, mengejar Alvin.


Alvin berbalik dan mendapati Dave, teman sekelasnya yang juga berstatus sebagai sahabat baiknya kini tengah menatap prihatin padanya.


"Ada apa?" tanya Alvin menaikkan sebelah alisnya. Ia merasa heran melihat raut wajah dari sahabatnya itu.


"Tunggu sebentar!" ujar Dave membungkuk sambil memegangi kedua lututnya, mencoba mengatur nafasnya yang habis karena berlari, setelah itu barulah ia kembali bicara.


"Apa kau sudah dengar rumornya?" tanya Dave tampak begitu penasaran.


"Rumor apa?"


"Rumor tentangmu!"


"Tentangku?"


Dave mengangguk mengiyakan. "Ya, apa kau sudah mendengarnya?"


"Tidak. Aku juga tak peduli." ujar Alvin acuh.


Sebenarnya Alvin sudah biasa mendengar rumor macam-macam tentang dirinya. Mulai dari ia berselingkuh, ia di sukai oleh dosen wanita, menggoda mahasiswa tingkat atas dan rumor konyol lainnya.

__ADS_1


"Tunggu Alvin!" tahan Dave yang melihat Alvin hendak kembali melangkah. "Ini berbeda. Ini rumor terheboh yang pernah kudengar."


"Apalagi sekarang?" Alvin mulai penasaran sekarang.


"Aku baru saja mendengar rumor yang beredar di antara mahasiswa kalau kau sudah putus dengan Karina. Itu tak benar, kan?" tanya Dave dengan ekspresi bertanya-tanya di wajahnya.


Mendengar pertanyaan itu wajah Alvin seketika berubah sendu. Tanpa menjawab pertanyaan itu, Alvin malah kembali melanjutkan langkahnya.


Sementara Dave yang menunggu jawaban tampak menatap wajah sendu Alvin sambil mengikuti langkah Alvin. Ia berjalan beriringan di sebelah sahabat baiknya itu.


"Jadi apa berita itu benar adanya?" tanya Dave lagi.


Alvin kembali menghentikkan langkah kakinya dan berbalik, menoleh pada Dave.


"Bagaimana kau bisa tau?" tanya Alvin.


Dave lalu kembali melanjutkan. "Apa kau lupa kalau selama ini banyak orang yang memperhatikan hubungan kalian. Kau dan Karina, kalian kan sama-sama populer. Terutama Karina, dia sangat populer di kampus ini. Dia adalah bintang kampus. Jadi berita tentang kalian pasti akan dengan cepat menyebar."


"Kau benar. Karina populer. Jadi itu bukan kabar yang mengejutkan jika semua orang membicarakannya." jawab Alvin enteng sambil menganggukkan kepalanya pelan lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Jadi kalian benar-benar sudah putus?" Dave mencoba memastikan.


Alvin menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya perlahan sembari menggedikkan bahu.


"Begitulah!" jawab Alvin.


"Hei, jawaban macam apa itu?" ujar Dave heran.

__ADS_1


"Kami memang putus." ujar Alvin.


Dave mengerutkan dahi. "Kapan kalian putus?"


"Beberapa hari lalu."


"Wah, ini gila." Dave tampak tak percaya dengan jawaban Alvin itu.


Sementara Alvin memilih untuk tak menanggapi apapun lagi.


"Kenapa kalian bisa putus?" tanya Dave masih menatap Alvin penasaran.


"Takdir."


"Ayolah Alvin, aku serius." Dave bicara dengan putus asa. Ia sungguh penasaran sekarang..


"Kami hanya tak bisa bersama lagi, Dave." ujar Alvin menanggapi rasa ingin tahu sahabatnya itu.


Dave menatap Alvin curiga. Ia seolah tak puas dengan jawaban itu. Dave kemudian mendekati Alvin, meletakkan sebelah tangannya di bahu sahabatnya itu.


"Apakah kau yang meminta putus dari Karina?" bisik Dave.


Alvin menggelengkan kepalanya.


"Bukan aku, tapi Karina sendiri-lah yang meminta berpisah." jelasnya.


"Apa?" Dave sontak membulat. "Karina yang minta putus?"

__ADS_1


***


__ADS_2