
Sore itu Evelyn tengah melajukan mobil pulang menuju ke rumahnya setelah menghabiskan waktu beberapa saat bersama Ziva di restoran.
Mobil Evelyn kini sudah berada di depan pintu gerbang rumahnya, menunggu penjaga membuka gerbang untuknya.
Begitu gerbang terbuka, Evelyn langsung menancap gas mobilnya, memasuki gerbang besi yang tampak tinggi menjulang itu.
Evelyn terus melajukan mobilnya menyusuri jalanan taman rumahnya yang luas menuju halaman parkir yang berada didepan rumahnya.
Mobil Evelyn kini telah terparkir rapi di halaman rumahnya. Seorang pelayan tampak bergegas mendatangi Evelyn, membukakan pintu mobil untuknya.
"Selamat datang, Nona." sapa pelayan itu.
"Ya, terimakasih. Tolong kau urus mobilnya." ujar Evelyn langsung memberikan kunci mobilnya pada pelayan itu untuk memasukannya ke garasi mobil.
Begitu memasuki rumah, tiba-tiba Evelyn menghentikan langkahnya. Ia menaikkan alisnya heran saat melihat karangan bunga terpajang di ruang tamu, dekat sofa. Evelyn melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap karangan bunga itu.
Maria, kepala pelayan kemudian datang dengan langkah terburu-buru mendekati Evelyn.
"Anda sudah tiba, Nona." sapa Maria sopan.
"Apa ada pelayan yang meninggál di rumah ini, Maria?" tanya Evelyn mengabaikan sapaan Maria padanya barusan.
Maria mengerutkan dahinya bingung dengan pertanyaan majikannya itu. "Maksudnya, Nona?"
Evelyn tak menjawab, malah menunjuk karangan bunga yang ada dihadapannya itu dengan dagunya.
Maria ikut menoleh untuk menatap ke arah karangan bunga yang dimaksud Evelyn barusan dan langsung paham.
__ADS_1
"Ah, karangan bunga ini." ujar Maria tampak tersenyum canggung. "Seseorang kurir datang mengirimkannya kesini tadi siang. Katanya bunga ini dikirim untuk anda Nona."
"Untukku?"
"Ya, Nona."
"Dari siapa?"
"Kata pengantarnya bunga ini di pesan oleh tuan Gerald, Nona."
"Ah, si bodóh itu." Evelyn mengangguk paham.
"Ada kartu ucapan juga, Nona." ujar Maria menjelaskan.
"Apa isi kartunya?"
"Maaf, saya tidak tahu, Nona. Saya tidak berani membukanya tanpa izin dari anda."
"Karangan bunga ini hanya untukmu yang terindah, Evelyn!" Evelyn membaca isi dari kartu ucapan itu.
Evelyn mendengus setelah membacanya.
"Dasar laki-laki." gumam Evelyn tertawa kecil sembari menggelengkan kepalanya.
Sejujurnya ini bukan karangan bunga pertama yang Evelyn terima bulan ini. Sudah yang ke lima. Dan itu pun dari orang yang berbeďa-beda.
Evelyn menghela napasnya malas. Ia amat benci hal-hal romantis seperti ini. Terlalu menggelikan untuknya.
__ADS_1
"Ambil ini, Maria!" ujar Evelyn sembari menyerahkan kartu ucapan itu pada Maria. "Dan… aku ingin kau buang karangan bunga ini. Aku tidak suka hal-hal seperti ini. Merusak pemandangan di rumahku saja."
Maria yang mendengar perintah mengejutkan itu langsung melebarkan kedua matanya.
"Apa Nona? Bunganya di-dibuang?" ujar Maria menatap majikannya itu dengan raut tak percaya.
Sementara yang ditatap tak menjawab apapun dan lebih memilih untuk melangkahkan kakinya menjauh, menaiki anak tangga menuju kamarnya.
Setibanya di kamar, Evelyn langsung menghempaskan diri ke atas tempat tidur empuknya. Ia akan langsung tidur, mencoba melepaskan penat yang dirasa sejak tadi.
Drrrttt… Drrrttt…
Tepat beberapa detik setelah memejamkan mata hendak tidur, Evelyn harus terganggu karena mendengar ponselnya yang berdering.
Evelyn sontak menggerutu karena gangguan itu. Ini adalah salah satu dari banyak hal yang paling Evelyn benci. Evelyn serius. Ia bahkan bisa langsung memecat pelayan hanya karena mereka berani menggangu tidurnya.
Kamar Evelyn dihujam bisu selama empat-lima detik sebelum ponselnya bergetar lagi.
Evelyn mengeráng kesal dan dengan cepat menutupi wajahnya dengan bantal agar tak mendengar suara berisik dari ponselnya itu.
Karena ponselnya tak kunjung berhenti berdering, Evelyn akhirnya menyerah. Dengan malas ia meraih tasnya yang kebetulan masih berada diatas tempat tidur dan mengeluarkan ponselnya dari dalam tas.
Evelyn menatap layar ponsel untuk melihat nama dari orang yang sudah mengganggu tidurnya.
Dan detik itu juga, rasa kesalnya berganti jadi rasa gembira begitu mengetahui kalau ayahnya yang menelepon.
Evelyn dengan cepat menggeser tombol hijau dilayar.
__ADS_1
"Ayah..."
***