Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
71


__ADS_3

Alvin terdiam selama beberapa detik, menatap amplop pemberian Evelyn itu heran.


"Ya, tapi untuk apa uang ini, Nona?"


"Sebagai ucapan terima kasih dariku." ujar Evelyn tersenyum sambil menatap Alvin sementara tangannya masih mengulurkan amplop itu.


"Ucapan terima kasih untuk apa? Kita kan hanya makan." Alvin berujar bingung.


"Ya ampun. Kau ini imut sekali, sih..." Evelyn seketika tertawa kecil saat melihat wajah Alvin yang tampak jelas sedang kebingungan itu.


Gadis itu berdehem sebentar sebelum menjawab kebingungan yang Alvin rasakan.


"Uang ini adalah ucapan terima kasih atas apa yang kau lakukan padaku di malam itu." jelas Evelyn.


"Yang aku lakukan?"


Evelyn mengangguk pelan. "Kau sudah membantuku dan Ziva malam itu. Kau bahkan mengantarkan aku pulang. Kau tidak lupa, kan?"


Baiklah, Alvin mengerti sekarang. Ternyata ini adalah ucapan terima kasih atas bantuannya malam itu,tepatnya saat Evelyn mabuk berat.


Alvin kemudian mendorong mundur amplop coklat pemberian Evelyn yang berisi uang itu dengan kedua tangannya.


"Aku rasa aku tidak bisa menerima ini." ujar Alvin tenang.


"Kenapa?"


"Nona, saat itu aku hanya ingin membantu saja. Teman anda tampak sangat kesusahan, jadi aku harus membantunya, kan? Dan jika Nona ingin berterimakasih, cukup ucapkan terima kasih saja. Bukan memberi uang." ujar Alvin.


"Apa yang kau katakan, beginilah caraku berterima kasih pada orang lain. Dan untuk apa yang kau lakukan itu tidak cukup hanya dengan mengucapkan terima kasih saja. Jadi ambillah uang ini, ayo cepat." Evelyn kembali menyodorkan amplop itu pada Alvin.


"Jika itu cara anda, kalau begitu aku tak bisa menerimanya karena bukan begini cara diriku menolong orang lain, Nona."


"Kau menolak uang?" tanya Evelyn ragu.

__ADS_1


Alvin mengangguk. "Aku tidak butuh imbalan apapun, nona."


"Jangan bercanda." protes Evelyn tak percaya.


Evelyn agak terkejut sekarang. Pasalnya ini adalah pertama kali dalam hidupnya melihat orang yang menolak pemberian uang dari orang lain. Hei, memangnya di dunia ini siapa yang akan menolak uang gratis?


"Aku tidak bercanda." ujar Alvin lalu tersenyum. "Nona, aku membantumu dengan ikhlas dan tulus."


Evelyn meletakkan uang itu di atas dashboard mobilnya. Saat ini ia justru lebih tertarik untuk bicara serius dengan pemuda di hadapannya ini.


"Kau serius dengan perkataanmu?" Evelyn menatap takjub.


"Aku bersungguh-sungguh, Nona." Alvin mengangguk meyakinkan. "Aku tidak butuh imbalan apapun dari anda."


"Alvin, tapi-"


Alvin meraih amplop dari atas dashboard dan menyerahkannya kembali pada Evelyn.


"Ck, padahal aku hanya ingin mengucapkan terima kasih padamu. Apa salahnya?" Evelyn menautkan kedua alisnya.


Alvin kini menghela napas dan kembali tersenyum pada Evelyn. Sejujurnya ia bisa mengerti kenapa gadis dihadapannya ini bisa merasa heran dengan keputusannya.


"Tidak ada yang salah dari ucapan terima kasih anda, Nona. Tapi jika itu adalah ucapan terima kasih, aku rasa traktiran bubur ayam tadi saja sudah cukup untukku. Ambillah uang ini lagi!" ujarnya.


Evelyn mendecih.


Dengan kesal ia menarik lagi amplop dari tangan Alvin itu dan memasukkannya ke dalam tas.


Ini benar-benar tak bisa di percaya. Bagaimana bisa seseorang menolak uang? Dia benar-benar tak habis pikir sekarang.


"Terserah kau sajalah." ujar Evelyn menggedikkan bahunya acuh.


"Kalau begitu aku turun dulu, ya." ujar Alvin pada Evelyn.

__ADS_1


Setelah itu dengan perlahan, Alvin menyampirkan sebelah tali tas kuliahnya ke pundak dan menatap Evelyn sekali lagi.


"Terima kasih atas traktiran bubur ayamnya." ujar Alvin sopan.


"Ya, tapi bisakah lain kali kita makan lagi." tanya Evelyn.


Alvin tampak berpikir sebentar sebelum kemudian ia tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Tentu saja. Aku yang akan traktir bubur ayamnya lain kali." jawab Alvin.


"Terima kasih." balas Evelyn tersenyum.


Setelah itu Alvin pun segera turun dari mobil Evelyn. Ia menutup kembali pintu mobil dan menunduk, menatap Evelyn melalui jendela mobil.


"Aku masuk dulu." pamit Alvin.


"Ya, masuklah!" balas Evelyn yang masih menunggu didalam mobil.


"Nona hati-hati di jalan." seru Alvin melambaikan tangan pada Evelyn.


Setelah itu Alvin melangkah memasuki gerbang kampus. Mata Evelyn terus menatap punggung Alvin sampai pemuda masuk ke dalam gerbang kampus.


Namun baru saja Evelyn hendak menyalakan mesin mobilnya, matanya malah terfokus pada benda yang ada di door trim mobilnya.


"Apa itu?" Evelyn mengerutkan keningnya.


Gadis itu menyipitkan matanya memastikan benda apa itu. Dan seketika saja mata Evelyn langsung membulat begitu menyadari benda apa itu. Itu jelas ponsel. Dan ia tahu siapa pemilik benda persegi itu. Sudah jelas ini milik Alvin.


Evelyn langsung buru-buru mengambil benda itu.


"Ponsel Alvin tertinggal."


***

__ADS_1


__ADS_2