
Kepala Alvin terasa begitu sakit saat bangun pada pagi hari ini. Hal itu membuatnya harus kembali menutup matanya lagi, mencoba mengurangi rasa pusing.
"Argh.. kepalaku sakit sekali.." Alvin mengangkat tangannya, memijit-mijit pelan kepalanya yang terasa berat.
Alvin ingat semalam ia merasa tubuhnya sangat lemas. Dan begitu pun juga dengan pagi ini, tak ada bedanya justru Alvin merasa sakitnya semakin parah saja.
Alvin mengusap matanya yang masih terasa begitu berat karena masih mengantuk. Namun tiba-tiba saja Alvin tersadar tentang sesuatu. Semalam, bukankah Karina ada di rumahnya. Apakah itu hanya mimpi?
Itu artinya ia bermimpi aneh karena tiba-tiba sqja memimpikan Karina hadir di sampingnya, bahkan menemaninya.
"Tapi apa itu benar-benar mimpi atau-"
Pemuda itu mengerjapkan matanya. Ia menoleh ke sekitar dan terkejut saat mendapati Karina yang tengah duduk santai di kursi yang berada tepat di sebelah tempat tidurnya, menatapnya dengan tangan terlipat.
Alvin tersentak dan bangun terduduk di tempat tidurnya. "Kau-"
Karina yang melihat raut terkejut di wajah Alvin langsung menegakkan duduknya. Ia sejak tadi memang menunggu Alvin bangun dari tidurnya. Dan ketika dilihatnya Alvin sudah benar-benar membuka mata ia tampak tersenyum, diam beberapa saat, menatap wajah pemuda itu.
"Kau sudah bangun?" ujar Karina mencoba memajukan tubuhnya, lebih mendekat ke tempat tidur Alvin.
"Kau disini?"
"Tentu saja. Dimana lagi aku harus berada memangnya."
"Sedang apa kau dikamarku?"
Karina hanya mendengus mendengar pertanyaan itu. "Sungguh kau ini tak sopan sekali, Alvin."
"Jangan basa-basi Karina."
"Ya, aku akui kalau kau agak berbeda dengan Alvin yang ku kenal dulu. Ck, apa sikap sopanmu itu sudah hilang"
"Apa?"
"Kau tidak ingin berterima kasih padaku terlebih dahulu padaku?! Bukankah kau harusnya melakukan itu sekarang?"
"Terima kasih?" Alvin menaikkan sebelah alisnya heran. "Untuk apa aku melakukan itu?."
"Alvin, aku sudah merawatmu semalaman. Apa kau tidak ingat?" tanya Karina, "Ck, setidaknya ucapkan terima kasih padaku."
Alvin mengerjapkan matanya tidak percaya. Ini jelas bukan mimpi tapi kenapa terasa seperti mimpi saja. Karina membantu merawat dirinya. Apa tidak salah?
"Ayo, minum ini." Karina menyodorkan segelas minuman padanya.
"Apa ini?"
"Teh panas. Sebenarnya aku tidak yakin ini masih panas karena aku membuatnya beberapa saat yang lalu." Karina menyentuh gelas itu lagi. "Sepertinya ini masih hangat."
Alvin menatap gelas pemberian Karina itu dalam diam kemudian meraihnya dan menenggak isinya lalu memberikannya lagi pada Karina.
"Masih tak ada ucapan terima kasih." ujar Karina tersenyum.
Karina bergerak lebih dekat dan mendudukkan dirinya di atas tempat tidur. Ia mengangkat tangannya dan menempelkannya di dahi Alvin.
"Panasmu sudah turun." ujar Karina.
Alvin yang sempat terkejut buru-buru menepis tangan Karina, menjauhkannya darinya. "Jangan sentuh aku!"
Karina kembali tersenyum setelah mendapat perlakuan itu. Ia hanya menggelengkan kepalanya kemudian meraih baskom sisa mengompres Alvin semalam.
__ADS_1
"Aku kebelakang dulu." ujar Karina bangkit dari tempat tidur, membawa baskom kompres tadi.
Alvin mengerutkan dahinya lalu menatap Karina.
"Tunggu dulu!" tahan Alvin.
Karina menghentikkan langkahnya dan menatap Alvin bingung. "Ada apa?"
"Kau mau kemana?"
"Dapurmu."
"Mau apa?
"Membuat sarapan."
"Tidak perlu."
"Hah? Tapi kenapa?"
"Lebih baik kau pergi dari sini. Kau bilang tadi kau sudah di rumahku semalaman. Itu tak baik jika kau terus ada di sini. Aku juga tak ingin ada yang mengetahuinya kita berdua semalaman di sini, kita bisa di anggap sedang zina."
Karina mengerutkan dahinya. "Apa yang kau katakan, Alvin. Kau-"
"Aku mau kau keluar dari rumahku Karina, sekarang."
"Alvin, aku sudah menjagamu dari jam empat subuh. Aku belum makan. Setidaknya biarkan aku sarapan dulu." ujar Karina kembali melanjutkan langkah keluar dari kamar menuju dapur.
Alvin menghela lelah saat menyadari Karina tak mendengarkan permintaannya sedikit pun.
Tak lama kemudian, Karina kembali ke kamar dengan membawa sepiring makanan.
"Ini aku buatkan untukmu." ujar Karina menyodorkan piring itu pada Alvin.
"Kau harus makan agar kesehatanmu cepat pulih."
Namun langsung dijawab Alvin dengan gelengan kepala.
"Tidak."
"Kenapa tidak?"
"Aku tidak mau makan."
"Iya, kenapa tidak mau?"
Alvin tak lagi menjawab.
Karina menggelengkan kepalanya sembari terkekeh geli. Untuk pertama kalinya Karina menyadari Alvin begitu imut saat sedang sakit. Dia jadi gemas sendiri melihat kelakuan pemuda ini.
Alvin melihat Karina yang tertawa-tawa sendiri, ia jadi tersinggung. "Ada apa?"
Suara Alvin membuat Karina terhenyak. Ia mengerjapkan matanya dan menatap Alvin.
"Kenapa?"
"Kau tertawa." Alvin menatap tak terima saat melihat tatapan Karina padanya. "Apa kau sedang mentertawaiku? Apa ada yang lucu dariku?"
"Tidak." Karina menggeleng.
__ADS_1
Alvin mengerutkan kedua alisnya. Apa sebenarnya yang Karina tertawakan dari dirinya. Tapi bukankah selama ini Karina memang sering mentertawakan dirinya.
Sementara Karina melihat raut wajah Alvin langsung terkekeh.
"Kenapa kau begitu sensitif sih. Aku bahkan tidak memikirkan hal negatif tentangmu." ujar Karina.
Alvin memalingkan wajahnya seolah tak ingin mendengar penjelasan gadis itu.
"Ayo makan." ujar Karina menyodorkan sendok berisi nasi tapi Alvin buru-buru memalingkan wajahnya, menolak suapan itu.
"Sudah kubilang, aku tak mau makan!"
"Kau tidak mau makan karena aku yang membuatnya, ya?"
"Hm."
Karina menghela dan meletakkan piring yang ia pegang ke atas nakas. Ia menatap Alvin dengan tenang.
"Kalau kau tidak makan, bagaimana kau bisa minum obat? Kau tidak akan cepat sembuh." omel Karina.
"Aku tidak perlu minum obat apapun."
"Alvin!"
"Karina, tolong berhentilah.." Alvin berbisik dengan suara paraunya.
"Ya?" tanya Karina yang tidak mengerti dengan ucapan pemuda itu.
"Tolong berhenti melakukan hal semacam ini. Dan juga, kumohon kau pergilah dari sini. Aku sudah memintamu berkali-kali tapi kau tidak juga mau menurutiku." ucap Alvin dengan wajah memohon.
"Alvin-"
"Kenapa, Karina?!" tanya Alvin menunduk. "Kenapa setelah meninggalkan aku demi lelaki lain kau harus kembali dan hadir lagi. Saat ini, aku sedang mencoba move on darimu."
"Bisa?"
Ucapan Alvin terhenti. Ia mendongak untuk menatap Karina.
"Aku tanya padamu. Kau bilang kau mencoba move on. Lantas apa kau bisa move on dariku? Apa kau bisa menjauhkan ingatan tentangku?"
Alvin menelan ludahnya kasar kemudian mengangguk. "Ya! Aku bisa. Aku bahkan bisa mencintai gadis lain. Seperti-"
"Siapa?" potong Karina. "Evelyn?"
Alvin kembali terdiam untuk kesekian kalinya. "Dia maksudmu?"
"Ya, aku bisa mencintainya. Bahkan lebih dari saat aku mencintaimu dulu."
Saat ini giliran Karina yang terdiam. Entah kenapa di dalam lubuk hati Karina ia merasa kecewa dengan perkataan mantan kekasihnya itu. Setahu Karina, Alvin begitu mencintainya dan tak mungkin bisa mencintai gadis lain dalam waktu dekat setelah mereka berpisah.
"Jam berapa ini?" ujar Karina mengalihkan topik pembicaraan sembari melihat ke jam dinding yang ada di rumah Alvin.
"Ini sudah siang. Sepertinya aku akan pulang sekarang dan bersiap untuk pergi ke kampus." ujar Karina lagi.
Alvin hanya diam memperhatikan Karina yang tampak canggung.
"Kau jangan lupa makan sarapanmu dan juga obatmu. Aku meletakkannya di atas nakas dekat lemari. Aku pergi dulu." pamit Karina.
Setelah mengatakan itu, Karina mengambil tas dan mantelnya lalu melangkahkan pergi meninggalkan Alvin seorang diri di kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa dengannya?" gumam Alvin bingung.
***