Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
107


__ADS_3

Alvin terhenyak di posisinya sesaat setelah ia memutuskan sambungan telepon. Ia menatap layar ponselnya beberapa saat, masih sedikit terkejut Karina menghubunginya lagi.


Sembari meletakkan ponselnya ke atas nakas, Alvin lalu membenarkan duduknya di sudut tempat tidur.


"Karina disini?" gumam Alvin tak percaya. Ia memikirkan apa yang sedang Karina lakukan di rumahnya malam-malam begini.


"Dia rela datang ke sini hanya untuk bicara tentang Evelyn?" ujar Alvin lagi.


Alvin kemudian bangkit dari duduknya. Ia mengintip dari jendela kamarnya dan benar saja, mobil Karina sudah terparkir di halaman rumahnya.


Setelah berpikir beberapa saat, Alvin menarik napas panjang sebelum kemudian melangkah keluar dari kamarnya untuk menemui Karina.


Alvin menutup kembali pintu rumahnya sesaat setelah ia tiba di teras rumahnya. Ia melangkah menuju teras rumahnya menuruni anak tangga menuju ke halaman rumah.


Dari posisinya saat ini, ia bisa melihat Karina yang tengah berdiri di halaman rumahnya. Gadis itu tampak melipat kedua tangannya di dada, menyandar pada mobil miliknya.


"Alvin." seru Karina sesaat setelah ia melihat Alvin muncul.


Alvin melangkahkan kakinya semakin mendekat pada Karina.


"Apa yang kau lakukan di rumahku, Karina?"


"Bagaimana kabarmu?"


Alvin tak menjawab. Ia malah menatap Karina tajam, sementara Karina malah menatapnya lekat-lekat sembari tersenyum.


"Ada masalah apa, Karina? Kenapa kau datang?"


Karina hanya bisa meringis melihat Alvin yang amat cuek padanya.


"Alvin, saat ini aku sedang bicara baik-baik padamu. Kenapa kau harus marah-marah padaku seperti itu, sih?"


"Ini jam tiga pagi, Karina. Kau datang menemui seseorang jam tiga pagi. Kau jelas mengganggu. Wajar jika aku merasa kesal atau marah padamu."


"Kenapa kau harus bicara sekasar ini." gerutu Karina.


Alvin mendecih, "Justru aku merasa ada yang aneh denganmu. Bukankah kau selalu bicara dengan nada mengejek padaku. Kenapa sekarang berbeda. Aku justru lebih terbiasa dengan Karina yang biasanya."


Karina tau jelas Alvin sedang menyindir dirinya. Ia menghela napas panjang. Jujur saja, Karina tak tau sejak kapan Alvin jadi lelaki pemarah seperti ini. Ia merasa ada yang hilang dari Alvin. Dimana Alvin yang dulu?


Apa ini karena Alvin terpengaruh oleh sikap Evelyn, si gadis murahán itu.


"Aku mau bicara." ujar Karina kemudian.


"Bukannya kita sedang bicara?"


Karina memejamkan kedua matanya. "Alvin!"


"Langsung ke intinya saja, Karina. Saat ini aku sedang lelah. Aku ingin istirahat."


Karina jadi tersadar kalau Alvin memang tampak pucat. Meskipun ini malam hari, Karina tetap bisa melihat wajah lelah Alvin.


"Kenapa kau tampak lesu sekali. Apa kau sedang sakit?" Karina mendekat, menatap Alvin dengan raut cemas, lantas mengangkat tangannya hendak menyentuh kening pemuda itu.


Alvin menjauhkan tangan Karina dari wajahnya. "Aku tidak apa-apa. Langsung saja. Ada apa kau datang?


"Aku tadi datang tapi kau tak ada dirumah."


"Aku mungkin masih bekerja."


"Ah, benar." Karina mengangguk paham. "Maaf. Aku lupa. Kau bekerja di klub itu. Kenapa kau tak mengangkat teleponku sebelumnya? Aku sudah menghubungimu berkali-kali."

__ADS_1


"Aku bahkan tak tahu kalau kau menelepon. Kau mau bicara apa sebenarnya?"


Karina tersenyum masam.


Alvin bahkan tak mau untuk sekedar berbasa basi dengannya. Karina membuka pintu mobilnya dan mengambil paper bag dari dalam mobilnya.


Gadis itu menyodorkan paper bag itu pada Alvin dengan tersenyum, "Aku membawakan ini. Untukmu."


"Apa ini?"


"Ini makanan."


"Makanan?"


"Ya, makanan kesukaanmu. Aku membelinya dalam perjalanan kemari."


"tapi untuk apa?"


"Itu makan malam untukmu. Kau pasti belum makan, kan?"


Alvin hanya diam memandang paper bag berisi makanan pemberian Karina itu.


Sejujurnya, saat ini Alvin tidak begitu lapar tapi memang benar kalau ia belum makan. Sejak siang ia tidak menyentuh makanan sama sekali.


"Kenapa malah diam begitu? Ayo ambil ini!"


"Aku tidak mau."


"Kenapa? Aku tidak memasukan racun kok."


Alvin masih menatap pemberian Karina itu lalu beralih menatap Karina. Ia kemudian menghela napasnya lelah.


"Tahukah kau Karina, aku tak suka kau seperti ini."


"Ya, kau baik padaku seperti ini. Aku tak suka situasi ini.


"Kau hanya perlu menerimanya, Alvin." pinta Karina.


Alvin kembali menatap pemberian Karina itu. Jujur saja, Alvin tak begitu ingin menerima makanan ini.


"Apa hanya ini?"


"Apa?"


"Aku bertanya, apa urusanmu denganku sudah selesai?"


Karina menatap Alvin beberapa saat sebelum menundukkan kepalanya.


"Diriku."


"Ya?"


"Aku menjaminkan diriku sendiri." ujar Karina mendongak, menatap Alvin lekat-lekat.


"Aku… tidak mengerti."


"Aku akan kembali bersamamu." ujar Karina. "Aku akan kembali bersamamu asal kau mau putus dengan gadis itu."


Alvin terperangah.


Karina kembali pada topik pembicaraan ini lagi. Sungguh? Apa sebenarnya masalah gadis ini.

__ADS_1


"Karina, ini sudah jam tiga pagi. Ini terlalu malam untukmu berada di sini." ujar Alvin melirik jam di tangannya. Ia berusaha menghindar dari pembahasan mereka.


"Kau mengusirku?"


"Aku tak bermaksud mengusirmu, aku hanya berharap kau tahu waktu, tapi terserahmu kalau kau menganggap begitu."


"Alvin, aku tak akan pergi sebelum kau menjawab pertanyaanku."


"Karina, kita bahas ini lain waktu saja. Aku hanya merasa tak baik kalau seorang wanita berkeliaran malam-malam begini."


"Aku sudah dewasa Alvin. Aku tahu mana yang baik untukku. Dan aku datang kerumahmu. Mengunjungimu. Bukannya berkeliaran."


"Ya, kau benar. Kau memang sudah dewasa. Dan harusnya kau tahu kalau kehadiranmu di tengah malam begini bisa menimbulkan prasangka buruk dari orang sekitar rumahku."


Evelyn mengedarkan pandangannya kemudian menggeleng kecil. "Tak ada orang yang melihat kita. Kau benar-benar ingin mengusirku, ya."


"Apa tak ada lagi yang ingin kau katakan?"


"Alvin, saat ini aku hanya ingin jawabanmu saja. Jika kau memberiku jawaban, setelah itu aku janji aku akan pergi."


"Benarkah?"


"Ya."


"Kalau begitu jawabanku adalah… TIDAK!"


Setelah itu, pandangan Alvin agak goyah. Sekilas pandangannya menggelap. Ia kembali merasakan tubuhnya yang tak enak. Sakitnya semakin parah saja. Ia mulai merasa tak sanggup berdiri.


"Lebih baik sekarang kau pulang. Aku ingin istirahat." ujar Alvin.


Setelah mengatakan itu, Alvin berbalik hendak kembali ke rumahnya lagi. Ia menaiki anak tangga rumahnya, namun tiba-tiba saja tubuhnya oleng dan kakinya hampir tergelincir di pijakan anak tangga selanjutnya.


"Alvin! Hati-hati." Karina buru-buru memegang lengan Alvin yang tampak limbung. "Kau tidak apa-apa?"


"Aku tidak apa-apa." Alvin memegang kepalanya yang terasa pusing.


"Kau panas sekali." ujar Karina setelah merasakan panas tubuh Alvin. "Kau yakin baik-baik saja?"


"Aku bilang aku tidak apa-apa, Karina."


"Kau mau kuantar ke dalam rumah?"


"Tidak apa. Aku bisa sendiri. Kau pulanglah sekarang."


"Tapi kau sakit, Alvin."


"Itu sebabnya kau harus pergi. Aku ingin istirahat."


Karina menggelengkan kepalanya, menolak. "Aku bisa membantu untuk mengantarmu ke dalam rumahmu."


"Kau pergi saja sekarang." Alvin ngotot. Alvin lalu melepaskan pegangan Karina dari tubuhnya dan melangkah kembali ke dalam rumahnya. "Kau pulanglah!"


Karina menghela napasnya lelah. Alvin begitu keras kepala. Ia menatap punggung Alvin, khawatir.


Alvin, kenapa kau terlihat-"


Bruk!


"-sakit!" Karina membulat saat menyaksikan tubuh Alvin yang tiba-tiba saja jatuh terjembab ke lantai.


***

__ADS_1


Update langsung 10 chapter, karena merasa bersalah atas revisi kmrin. :)


__ADS_2