Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
104


__ADS_3

"Apa itu perlu?" tanya Daniel pada Evelyn yang tengah memperbaiki rambutnya.


Evelyn menghentikan gerakannya menata rambut dan menoleh pada Daniel. "Apanya?"


"Menampar wajahnya!"


"Tentu saja. Dia pantas menerimanya." ujar Evelyn sembari melanjutkan langkahnya menuju mobilnya.


Evelyn menghentikkan langkahnya lalu menoleh kembali ke bangunan klub malam di belakangnya.


Dari situ dia bisa melihat pengunjung yang baru berdatangan tengah memasuki pintu masuk klub malam.


Melihat semua hal yang terjadi, Evelyn jadi merasa yakin untuk mendekati pemuda itu. Ia tak mau terlambat dan Alvin akan diambil oleh wanita pengunjung klub ini.


'Alvin itu milikku, aku tak akan membiarkan siapapun menggodanya.'


Awalnya Evelyn tertarik pada wajahnya, namun sekarang Evelyn tertarik pada semua hal yang ada pada dirinya. Ia akan sangat berterima kasih pada Tuhan jika pemuda itu benar-benar jadi miliknya.


Evelyn menghentikkan langkahnya lagi. Berpikir tentang sesuatu. Ia memutuskan untuk tak pulang sekarang. Ada hal yang ingin ia lakukan lebih dahulu.


"Daniel." serunya.


Daniel yang hendak membuka pintu mobilnya seketika menghentikkan gerakannya. Ia berbalik, menatap Evelyn dengan tatapan bingung.


"Ada apa?"


"Kau bisa pulang lebih dulu."


"Apa?"


"Kau duluan saja. Pulanglah lebih dahulu."


Daniel menatap Evelyn dengan heran. "Memangnya kau tidak pulang?"


"Aku akan pulang tapi bukan sekarang."

__ADS_1


"Hah?"


Evelyn diam, tampak berpikir.


"Sebenarnya aku ada urusan lain setelah dari tempat ini. Itu sebabnya aku tidak akan pulang sekarang."


"Urusan lain?" Daniel menatap Evelyn agak curiga lalu kembali melirik jam di pergelangan tangannya, "Urusan apa jam segini?"


"Yah," Evelyn mengangguk ragu. "Ini urusan mendadak."


"Kau yakin akan pergi sekarang?" tanya Daniel.


"Aku yakin. Yah, ini hal penting yang tak bisa ditunda sama sekali."


Daniel diam. Masih menatap Evelyn dengan agak ragu. Seolah-olah ia merasa berat meninggalkan sahabatnya itu.


"Kau mau kuantar saja?"tawar Daniel. "Maksudku, sejak awal kau pergi untuk bertemu denganku, kan. Itu sebabnya aku punya tanggung jawab besar atas keselamatanmu malam ini."


"Tidak perlu." kata Evelyn cepat-cepat sambil mengibaskan sebelah tangannya. "Sebenarnya itu ide yang bagus. Tapi kebetulan aku bawa mobil sendiri. Jadi kau bisa pulang saja duluan."


"Aman. Aku bahkan tidak merasa mabūk. Kita berdua kan tak minum banyak malam ini. Kadar alkoholku pasti rendah. Aman untuk membawa mobil sendiri."


"Oh," kata Daniel masih tampak ragu untuk sejenak, tapi pemuda itu memilih menganggukkan kepalanya saja. "Baiklah kalau begitu."


"Ya, kau pulanglah!" ujar Evelyn.


"Aku pergi dulu." ujar Daniel sebelum memasuki mobilnya.


Dan setelah masuk ke dalam mobil, Daniel menurunkan jendela mobilnya, "Sampai jumpa."


"Sampai jumpa."


Setelah kepergian Daniel, Evelyn lalu berjalan ke arah mobilnya. Ia masuk ke dalam mobil. Melemparkan tas dan jaketnya ke kursi mobil di sebelahnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


"Aku akan menunggu Alvin di sini." ujarnya menatap bangunan klub malam dihadapannya.

__ADS_1


Sudah hampir dua jam berlalu sejak Evelyn menunggu Alvin di dalam mobilnya. Ia menghela napas dan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi mobil, merasa bosan.


Sejujurnya, Evelyn juga tak tahu kenapa ia sampai melakukan hal seperti ini. Untuk apa juga dia menunggu Alvin berjam-jam di sini?


Rindu? Mungkinkah ia rindu dan ingin bertemu dengan Alvin lagi? Tapi bukankah ia baru saja bertemu dengan pemuda itu tapi kenapa sudah merasa begitu rindu.


Dan juga, setelah mengingat kembali saran dari Daniel, ada beberapa hal yang Evelyn pikirkan di kepalanya.


Evelyn merasa ucapan Daniel memang tidak sepenuhnya salah. Kehidupannya dan Alvin memanglah jauh berbeda. Dan ia tahu Daniel hanya merasa khawatir pada pandangan orang terhadap Alvin.


Sejujurnya itu salah satu tantangan tersendiri untuk Evelyn dalam mendapatkan Alvin. Ia harus berpikir lagi bagaimana caranya orang lain tak merendahkan Alvin saat mereka bisa bersama suatu saat nanti.


Dan tepat jam tiga pagi, ketika para karyawan klub malam keluar dari bangunan klub setelah selesai bekerja.


Evelyn yang sejak tadi berada di dalam mobil langsung menegakkan posisi duduknya dan menatap satu per satu karyawan yang pulang dari dalam mobilnya.


"Kenapa dia belum keluar juga?" gumam Evelyn mulai tak sabar.


Evelyn kemudian sadar bahwa Alvin pasti memiliki hal-hal lain yang harus dikerjakan setelah bekerja, seperti membantu membersihkan ruangan atau membuang sampah.


Beberapa menit kemudian Evelyn melihat Alvin keluar. Evelyn menatap resah ke luar mobilnya. Ia ragu apakah harus menawarkan tumpangan pada Alvin atau tidak.


"Tidak. Jika aku terus menemuinya, dia pasti akan terganggu." ujar Evelyn menggelengkan kepalanya setelah memutuskan kalau ia tidak jadi menawarkan tumpangan.


Evelyn terus menatap gerakan Alvin. Saat ini, pemuda itu tengah berdiri di dekat motornya, sedang memasang helm.


Evelyn tiba-tiba saja tersenyum. Melihat wajah pemuda itu saja sudah membuat hatinya berbunga-bunga seperti ini. Ia merasa dirinya sudah jadi gila.


"Pemuda ini sungguh membuatku tergila-gila."


***


Note :


Bab 92-102, saya revisi. Trm

__ADS_1


__ADS_2