Menikahi Nona Muda Kaya Raya

Menikahi Nona Muda Kaya Raya
34


__ADS_3

Evelyn menegak habis minuman dari gelasnya. Entah ini sudah gelas keberapa yang ia habiskan malam ini. Ia sudah tak ingat lagi. Sejak tadi Evelyn hanya minum dan terus minum sementara teman-temannya yang lain asyik mengobrol satu sama lain.


Evelyn kembali mengisi gelas kosong miliknya dan langsung menghabiskannya dalam sekali tenggak.


Ziva melirik sekilas pada Evelyn tepat saat gadis itu hendak kembali menuang minuman ke dalam gelasnya untuk yang kesekian kalinya.


"Apa yang dia lakukan?" gerutu Ziva kesal. Sebenarnya sejak tadi Ziva sudah memperhatikan sahabatnya itu yang kerjanya hanya minum saja.


"Evelyn, hei, apa yang kau lakukan." ujar Ziva sembari lebih mendekat pada Evelyn.


"Minum." jawab Evelyn santai.


"Letakkan itu. Kau sudah terlalu banyak minum." ujar Ziva hendak menarik botol minuman dari tangan Evelyn.


"Tidak apa-apa. Aku ini kuat minum. Tak mudah mabuk. Kau lupa?" ujar Evelyn sambil menepis tangan Ziva.


Ziva memutar bola matanya malas.


"Ya aku tau. Tapi sekuat apapun, kalau kau minum sebanyak itu tetap saja kau akan mabuk juga. Ayo, berhenti dulu."


Tangan Ziva bergerak ingin mengambil kembali botol minuman milik sahabatnya itu namun harus kembali di tepis oleh Evelyn.


"Ada apa denganmu, Ziva." omel Evelyn.

__ADS_1


"Melarangmu mabuk! Apalagi memangnya?"


"Ck, bukankah tujuan awal kita datang kemari untuk bersenang-senang. Jadi ayo bersenang-senang dan berhentilah menggangguku!" gerutu Evelyn.


"Aku akan berhenti menganggumu, tapi kau harus berjanji ini adalah botol terakhirmu. Dan setelah botol ini kau harus berhenti minum." paksa Ziva menatap sengit sahabatnya itu. Ayolah, Ziva hanya tak ingin sahabatnya itu nanti kesusahan.


"Baiklah.. baiklah.." ujar Evelyn dengan nada malas.


"Kau bawa supir, Eve?" ucap seorang lelaki yang duduk di dekat mereka dan sejak tadi hanya fokus mendengarkan percakapan Evelyn dan Ziva.


Dia adalah Fernando, seorang pengusaha yang di kenal sebagai orang yang kaya raya. Fernando diketahui memang sudah sangat lama menyukai Evelyn, tapi Evelyn tak pernah tertarik sama sekali padanya. Evelyn hanya menganggap Fernando sebagai salah satu kenalan biasa.


Evelyn menggeleng sebagai jawaban. "Aku datang bersama Ziva tadi." jawabnya singkat.


"Apa kau mau ku antar pulang?" tawar Fernando.


Mendengar penolakan dari Evelyn pada pemuda itu, Ziva langsung mendecih sinis dan menggelengkan kepalanya pelan.


Ziva tahu benar sifat dari sahabat baiknya itu. Jika gadis itu tidak tertarik pada seseorang, jangankan untuk pulang bersama, kehadirannya saja Evelyn tidak akan peduli.


"Kau menolaknya lagi?" bisik Ziva.


Evelyn menggedikkan bahunya acuh. "Tentu saja. Aku ini bukan wanita murahan. Aku tidak akan pulang dengan sembarangan orang."

__ADS_1


Ziva mendengus sinis.


Bagaimana bisa Evelyn mengatakan hal konyol itu jika seminggu yang lalu ia bahkan pulang dengan seseorang yang baru ia kenal di klub malam.


"Katakan itu pada lelaki yang kau ajak berkencan beberapa waktu lalu. Dan jangan lupakan juga kejadian mengejutkan di Bali yang sempat kau ceritakan padaku itu. " ejek Ziva sambil menegak minumannya.


"Aku tidak sengaja menidurinya, oke!" protes Evelyn kesal.


"Wow, benarkah?" Ziva jelas tak percaya pada sahabatnya itu.


"Hei, aku memang tak sengaja menidurinya waktu itu. Dan aku tidak sedang berbohong padamu. Sudah aku katakan berulang kali padamu kalau aku sedang tidak ingin berhubungan ranjang dulu untuk sekarang." ujar Evelyn malas sambil menggoyang-goyangkan gelas minuman di tangannya, menatap busa kecil dari minuman yang ada di dalam gelas itu.


"Aku jadi penasaran lelaki seperti apakah yang akan membuatmu berselera." ujar Ziva lalu mendekatkan dirinya pada Evelyn, menyenggol lengan sahabatnya itu. "Ah… aku tau! Apa jangan-jangan yang seperti pelayan tampan itu, ya?"


Evelyn sontak menoleh dan menatap tajam pada Ziva. "Apa yang kau bicarakan? Berhentilah bicara sembarangan. Kau bisa membuat rumor diantara teman-teman kita nanti."


"Oke, oke, santai, sayang. Aku kan hanya bercanda." ujar Ziva sembari tersenyum miring.


Evelyn kini terdiam, termangu di posisinya.


'Ya, jika aku bisa jujur pada Ziva, sebenarnya aku memang sangat tertarik pada pelayan itu.' batin Evelyn.


Evelyn akui kalau ia memang tertarik dengan pelayan itu, entah kenapa. Ia hanya merasa terhubung dengan pemuda itu. Tapi harga dirinya terlalu tinggi untuk mengakuinya pada Ziva.

__ADS_1


Dan ya, demi menjaga harga dirinya sebagai seorang gadis yang biasa dikejar, Evelyn tentu mencoba mengontrol sikapnya karena ia tidak ingin terlihat kalau memang sedang tergila-gilq pada pelayan itu.


***


__ADS_2