
"Jadi?" Ziva menyipitkan kedua matanya, menatap Evelyn curiga. "Kau menyukai Alvin, kan?"
"Aku… yah, aku akui aku memang menyukainya, sedikit."
"Sedikit, kau bilang."
"Em, ya. Sedikit." Evelyn tersenyum canggung.
Ziva mendecih sinis. Ia heran. Sudah jelas kalau Evelyn memang memiliki rasa pada Alvin, tapi ia tetap tak mau jujur seratus persen.
"Intinya aku hanya ingin menolong Alvin, itu saja. Aku tak ingin melihat harga dirinya diinjak-injak oleh Karina." jelas Evelyn. "Kau lihat sendiri apa yang Karina lakukan di klub waktu itu, kan?"
"Ya, tapi tidak dengan mengajak Alvin melakukan hal konyol itu." Ziva menatap Evelyn dengan sinis. "Lagipula kita kan sudah mengerjai Karina di klub waktu itu. Apa masih kurang puas?"
"Ada apa sih denganmu? Kau seakan ingin mengatakan kalau apa yang aku lakukan ini salah."
"Ya, memang salah. Sudah kukatakan sejak tadi. Kau salah di semua bagian. Semua itu salah. Pikirkan lagi Eve, kau hanya 'sedikit' menyukainya tapi sudah berani melakukan hal konyol seperti ini. Lantas bagaimana kalau kau sungguh tergila-gila padanya nanti. Kau bisa sampai menghabisi orang lain, mungkin."
"Apa menurutmu begitu?" Evelyn menatap takjub. "Wah, bukankah itu artinya aku ini luar biasa sekali, ya."
"Ya ampun. Kau ini benar-benar." Ziva menghela napasnya lelah sembari memijit pangkal hidungnya. Bukannya menyadari kesalahannya, Evelyn malah terlihat bangga.
Evelyn terkekeh melihat reaksi frustasi dari sahabatnya itu. Bagi Evelyn, Ziva terlihat sangat menyenangkan jika sedang kesal padanya.
"Perbuatanmu ini sungguh konyol, Eve. Benar-benar konyol." omel Ziva.
__ADS_1
"Ayolah Ziva. Kenapa kau terlihat begitu tak suka aku membantunya."
"Aku senang, senang sekali kau membantunya, Eve. Bahkan aku juga membantumu di klub, kan?"
"Ya, aku ingat." Evelyn memutar bola matanya malas.
"Kau tak salah jika ingin membantunya. Tapi bukan berarti kau harus ikut campur sedalam itu. Kau bahkan juga memasukkan dia ke dalam kebohonganmu, Eve."
Evelyn menyesap minumannya dan menghela malas. "Ya, aku tahu dia juga ikut berbohong karena ulahku. Tapi di sini aku hanya ingin membela kebenaran, Ziva. Alvin… dia di hina oleh mantannya itu. Itulah alasannya dan aku begitu membenci mantannya."
"Membela kebenaran apa. Ini bukan membela kebenaran. Tapi kau membuat Alvin masuk ke jurang yang lebih dalam. Jurang kebohongan. Membela kebenaran dengan menggunakan kebohongan. Ya ampun. Aku jadi bingung, sejak kapan kau jadi seperti ini."
"Seperti ini, apa?"
Evelyn tak bisa menahan senyum usilnya. Ia menatap Ziva sejenak, lalu memejamkan kedua matanya, mencoba mengingat-ingat kapan terakhir dia seperti ini.
"Aku jadi begini sejak bertemu dengan Alvin, kurasa. Aku merasa berubah sejak bertemu dengannya. Aku sering berbuat sesuatu tanpa berpikir sejak bertemu dengan Alvin."
"Wah, kau bahkan sadar kalau kau berbuat sesuatu tanpa berpikir." ejek Ziva. "Cinta memang bisa membuat seseorang jadi gila."
Evelyn kembali terkekeh,
"Bukan hanya cinta."
"Apa?"
__ADS_1
"Cinta saja tak cukup. Tapi Alvin-lah yang merubahku. Kalau ini orang lain aku tidak yakin akan melakukan hal sama. Itu harus Alvin. Ah, aku sungguh tertarik padanya bahkan sejak awal pertemuan kami. Dan aku ingin dia jadi mi-"
"Kau ingin dia jadi milikmu." potong Ziva cepat.
Evelyn langsung menghentikkan tawanya. Ia terdiam, mulutnya terkatup rapat, kaget bagaimana Ziva bisa tahu apa yang akan dia katakan.
"Bagaimana kau-"
"Bagaimana aku bisa tahu, itu yang ingin kau katakan, bukan?"
Evelyn mengangguk
"Aku tahu. Karena itu terlihat jelas. Bahkan tampak jelas sekali kalau kau benar-benar galau hanya karena dia tak mengenali dirimu saat di klub malam. Aku tau kalau kau memang 'sedikit' menyukainya." jelas Ziva.
"Bukan hanya galau, tapi kecewa lebih tepatnya." ralat Evelyn. "Asal kau tahu Ziva, aku sudah menunggu kesempatan ini. Kesempatan untuk bisa dekat dengannya. Dan saat kesempatan itu akhirnya datang, mana mungkin aku sia-siakan, bukan?"
"Benar, tapi aku rasa kau tidak perlu sampai jadi seperti psikopat begini. Ah, aku jadi merinding melihatmu."
Evelyn terkekeh, "Masalah mencampuri atau tidak itu urusan lain. Yang jelas tawaranku masih berlaku untuknya. Dan aku berharap kalau dia akan segera menerima tawaranku."
Ziva memutar bola matanya, "Apa kau yakin Alvin akan menerima tawaran konyolmu itu?"
"Aku tak yakin, tapi aku akan terus menunggu saat itu tiba."
***
__ADS_1