
"Eh?" Alvin tiba-tiba jadi gugup setelah dipuji.
Gadis seksi itu menatap Alvin beberapa detik sebelum kemudian mengibaskan tangannya acuh. "Tidak. Lupakan saja ucapanku barusan."
"Ngomong-ngomong, apa kau belum pernah mengantar pesanan di ruangan ini sebelumnya?" tanya gadis seksi itu, mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
Alvin diam selama beberapa detik sebelum kemudian menganggukkan kepalanya pelan.
"Belum, nona. Ini pertama kalinya saya mengantar kesini." jelas Alvin.
"Pertama kali?" tanya gadis itu, menatap Alvin heran. "Apa kau pelayan baru di sini?" tebaknya.
"Iya nona, benar. Saya pelayan baru di klub ini."
"Oh… sudah berapa hari kau bekerja di sini?"
"Saya baru melamar siang tadi, nona. Dan diminta untuk langsung bekerja." Alvin menggaruk tengkuknya malu-malu.
"Begitu rupanya. Pantas saja kau tidak mengenal aku." ujar gadis itu manggut-manggut.
Dalam beberapa detik muncullah pertanyaan di kepala Alvin. Apakah gadis ini tamu penting di klub ini sehingga harus dikenal?
Kalau benar gadis ini adalah orang pentinh, artinya Alvin pasti tanpa sadar sudah menyinggung gadis ini, bukan?
Ucapan gadis itu berhasil membuat Alvin jadi merasa tak enak hati. "Maafkan saya karena tidak mengenali siapa anda, nona. Tapi saya-"
"Ngomong-ngomong, artinya ini adalah kali pertama bagimu melayani ruangan vip seperti ini, ya?"
"Benar, nona."
"Hm, harusnya kau langsung masuk saja tadi. Di dalam sangat ramai orang. Musiknya juga nyaring. Berbeda dengan di aula depaj. Jadi mereka tidak akan mendengar apalagi menggubrismu jika kau hanya mengetuk pintu seperti itu." ujar gadis itu menjelaskan.
"Maaf, nona. Saya tidak tahu."
"Tak masalah. Kau akan terbiasa dengan hal ini nanti. Sebenarnya, kau hanya perlu masuk, susun minumannya lalu pergi. Itu saja pekerjaanmu."
__ADS_1
"Begitu rupanya. Baiklah, terima kasih, nona. Akan saya ingat lain kali."
"Kemari! Biar aku beritahu sesuatu padamu." ujar gadis itu mendekatkan wajahnya pada Alvin.
"Ya, nona?"
"Semua pelayan senior di sini sudah mengenal kami dengan sangat baik, jadi mereka sudah sering melakukannya. Sekali lagi aku ajarkan. Kau masuk saja dan siapkan minumannya. Jika ada yang ingin, berilah layanan tambahan. Layani kami."
"Melayani?"
"Ya, layani. Kau tau maksudku, kan?" ujar gadis itu mengedipkan sebelah mata.
"Oh, begitu rupanya. Ya, kalau melayani, saya tau artinya, Nona." ujar Alvin terkekeh.
Gadis itu bergerak mundur.
Sedikit kecewa dengan tanggapan polos pemuda itu. Ia merasa kalau pelayan ini sepertinya tak begitu paham dengan kata 'melayani' yang dimaksud di sini.
Gadis itu terkekeh sendiri kemudian menggelengkan kepalanya tak percaya karena baru saja bicara dengan pemuda polos.
"Ya, begitulah. Oh ya, namaku Ziva. Jadi lain kali kalau ada pesanan atas namaku kau bisa langsung masuk saja. Seperti yang kukatakan tadi." ujar gadis seksi itu menjelaskan segalanya secara rinci.
Alvin mengangguk. "Nama saya, Alvin. Nona."
"Ya, Alvin. Jadi kau sudah paham cara kerjanya, kan?"
"Iya, saya paham, Nona."
Alvin sebenarnya ingin mengatakan kalau tadi ia bahkan tak tahu siapa nama dari pemesan minuman ini.
Sebelumnya, rekan kerjanya tiba-tiba saja meminta bantuannya tanpa memberitahu semua informasi itu padanya.
Namun Alvin lebih memilih mengurungkan niatnya dan tak mengatakan apapun karena merasa itu hanya seperti dia sedang mencoba membuat alasan. Lagipula hal itu juga tidak terlalu penting, kan.
"Kau bilang ini pertama kalinya kau bekerja di sini, kan?" Ziva tersenyum nakal.
__ADS_1
"Iya benar."
"Kalau begitu kau harus masuk ke dalam dan merasakan bagaimana rasanya pertama kalinya melayani kami."
Gadis seksi itu lalu kembali tersenyum nakal pada Alvin. "Ayo, cepat kau bawa troli minumannya masuk!"
"I-iya, nona" Alvin mengangguk.
Gadis seksi yang mengaku bernama Ziva itu menekan handle pintu dan membukanya lebar-lebar.
Dan begitu pintu ruangan itu terbuka, langkah Alvin sontak terhenti. Ia berhenti tepat di ambang pintu, tampak tercengang saat melihat pemandangan yang ada di depannya.
Bagaimana tidak, ruangan itu tampak penuh sesak dengan berbagai macam orang dan juga sangat berisik oleh musik.
'Pantas saja tidak ada yang mendengarku sejak tadi.' batin Alvin. Ia mentertawai dirinya sendiri yang tampak seperti orang bodoh saat berdiri di depan pintu beberapa saat lalu.
Tapi toh tidak masalah juga kalau ia mengetuk pintu terlebih dahulu, bukan? Itu bukan hal aneh. Sopan malah.
Alvin kan masih memiliki norma kesopanan yang tinggi. Ucapkanlah terima kasih pada mendiang orang tuanya yang sudah mengajarinya adab yang baik saat ia masih kecil, sehingga saat mereka tiada Alvin bisa mengamalkannya.
Alvin mengerjapkan matanya dan kembali tersadar dari lamunan kecilnya barusan.
Alvin lalu mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan itu. Namun saat itu juga Alvin langsung buru-buru menundukkan kepalanya.
Ia tampak malu setelah tanpa sengaja melihat beberapa orang di ruangan itu tampak sedang bermesraan dengan pasangannya. Hal itu membuat Alvin jadi merasa canggung sendiri berada di tempat ini.
Alvin meruntuki dirinya sendiri. Ini hari pertamanya, tapi sudah diperlihatkan hal-hal seperti ini.
"Lama sekali kau ke toilet, Ziva?" tanya seorang gadis pada Ziva. Gadis itu bicara dengan nyaring karena suaranya sedikit tertutup suara musik.
Alvin melirik pada gadis yang baru saja bicara dan langsung membulat saat menyadari siapa gadis itu.
Dia.
Bukankah dia gadis yang sempat Alvin tabrak di lantai bawah tadi? Dia di sini? Di ruangan ini.
__ADS_1
***