
Alvin menatap lurus ke arah gadis cantik itu. Ia masih tak menyangka kembali bertemu dengan gadis ini. Seorang gadis yang kecantikannya begitu Alvin kagumi walau hanya di pertemuan sepintas mereka beberapa saat lalu.
Itu hanya pertemuan beberapa detik yang berhasil membuat Alvin tak bisa melupakan pertemuan mereka. Dan sekarang, Alvin bertemu lagi dengan gadis cantik itu seolah-olah mereka memang berjodoh.
'Aku beruntung sekali hari ini.' batin Alvin tersenyum senang.
Jujur saja, selama hidup ia tak pernah merasa lebih bahagia daripada yang ia rasakan saat ini.
Alvin bahkan tak terlalu memperhatikan area di sekitar ruangan. Matanya hanya tertuju pada gadis cantik yang sempat ia tabrak beberapa saat lalu itu.
Wajah gadis itu berhasil membuat Alvin tak berkedip dan membeku di tempatnya. Alvin terpana.
Tapi tampaknya, gadis itu sama sekali tak memperhatikan kehadirannya. Gadis itu malah menatap gadis seksi bernama Ziva tadi.
"Kau tidak mampir ke ruangan VIP yang lain, kan?" ujar gadis cantik itu lagi pada Ziva.
"Jangan bicara sembarangan. Ada pacarku di sini." jawab Ziva menunjuk seorang lelaki yang duduk di sofa. "Aku ada keperluan mendadak tadi, Evelyn."
Dan mendengar jawaban Ziva itu kembali membuat Alvin tersenyum.
__ADS_1
'Ah, jadi nama gadis itu Evelyn." batin Alvin mangangguk-anggukkan kepalanya.
Alvin kembali tersenyum dalam diam. Entah kenapa ia jadi merasa jauh lebih senang dari sebelumnya setelah mengetahui nama dari gadis cantik itu.
Alvin melirik kembali pada gadis bernama Evelyn itu. Dia terlihat duduk di ujung sofa tanpa terlihat ada pasangan yang menemani di sebelahnya.
Jauh berbeda dengan teman-temannya yang kebanyakan terlihat membawa pasangan masing-masing. Hal itu lantas membuat Alvin sedikit bertanya-tanya apakah gadis cantik itu masih single?
Namun Alvin buru-buru menggelengkan kepalanya dan meruntuki apa yang baru saja ia pikirkan.
Ada apa dengannya barusan? Untuk apa juga dia harus memikirkan hal-hal konyol seperti itu. Memangnya kenapa kalau gadis itu masih single atau tidak? Hal itu sama sekali bukan urusannya, kan!
"Dua puluh menit. Kau pergi ke toilet selama dua puluh menit, Ziva." ujar seorang wanita yang berdiri di dekat Ziva.
"Hampir, itu lima belas menit lebih tepatnya." Ziva membela diri sembari melangkah menuju sofa dan duduk di sebelah seorang pria tampan yang tadi ia akui sebagai kekasihnya.
"Ya, tapi ini kan pestamu. Kau mengundang kami tapi kau malah mengabaikan teman-temanmu di sini. Apa jangan-jangan kau memang mencari pria baru tadi?" canda teman-teman Ziva.
"Ayolah teman-teman. Jangan bersikap berlebihan begitu." jawab Ziva, bicara dengan nada malas lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
__ADS_1
"Memangnya kau darimana saja?" tanya gadis lainnya.
"Toilet. Tapi sebelum itu aku harus menerima telepon dulu. Itulah alasan kenapa membuat kalian menunggu. Kenapa? Apa menurut kalian aku terlalu lama." jawab Ziva tanpa beban.
"Ya, kau memang sudah terlalu lama. Lihat ini. Seluruh minumannya bahkan sudah habis."
"Ah, benar. Minumannya." ujar Ziva menoleh ke arah pintu masuk dimana Alvin masih berdiri menunggu. "Aku sudah memesannya tadi. Itu dia pelayan yang membawa minumannya."
Semua orang langsung menoleh ke arah yang dimaksud Ziva.
Sementara Alvin yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian langsung tersenyum canggung. Di perhatikan seperti itu lantas membuatnya gugup.
Sejak tadi memang tak ada yang menyadari kalau Alvin berada di ambang pintu. Barulah setelah Ziva menunjuknya, semua orang langsung menyadari kehadiran Alvin.
Di sela rasa gugupnya, Alvin melirik lagi pada Evelyn. Ia memperhatikan kalau gadis itu yang tampaknya tak peduli dengan kehadirannya. Ia malah memilih ngobrol dan tertawa-tawa bersama temannya.
Namun, di detik selanjutnya Alvin menyadari kalau gadis itu sudah menatap padanya.
'Astaga, dia melihatku'
__ADS_1
***