
Alvin memberhentikan motor yang ia kendarai di dekat kedai bubur ayam langganannya. Ia mematikan mesin dan turun dari motornya.
"Alvin!"
Gerakan Alvin terhenti saat mendengar seseorang memanggilnya.
Ia menoleh ke sumber suara dan terkejut saat melihat seorang gadis cantik berdiri menyandar ke pintu mobilnya sembari melambaikan tangan padanya.
"Hai!" sapa gadis itu lagi.
Alvin hanya diam, melongo di atas motornya menatap Evelyn yang tengah melangkahkan kakinya, mendekati Alvin dengan senyum cerahnya.
"Nona Evelyn?" sapa Alvin.
"Kau memanggilku Nona lagi. Sudah kubilang panggil nama saja, tolong." ujar gadis itu mengibaskan tangannya. "Kau itu temanku, Alvin. Bukan pelayan di rumahku. Aku bukan majikanmu, ingat?"
Alvin menganggukkan kepala sembari menggaruk tengkuknya. "Panggilan itu tak disengaja. Maaf."
Alvin perlahan turun dari motornya. Ia melepas helm yang dikenakan dan kembali menatap Evelyn.
"Sedang apa anda di sini?" tanya Alvin heran.
"Makan. Apalagi memangnya. Ini kan kedai bubur ayam. Tentu saja aku kesini karena aku ingin makan."
Alvin tersenyum canggung. "Benar juga."
"Kau mau makan juga, kan? Kalau begitu, ayo. Aku sudah lapar sekali. Aku menunggumu sejak tadi di sini. Kau lama sekali datangnya." ujar Evelyn menarik tangan Alvin.
"Anda menungguku?"
"Ya, aku ingin kita makan bersama lagi. Kau tahu? Daritadi pembeli bubur ayamnya selalu penuh dan aku sampaibtakut kehabisan. Jelas aku tak ingin kehabisan dan sia-sia menunggumu disini." Evelyn terkekeh.
__ADS_1
Seperti sudah sering kemari, Evelyn dengan cepat memesan bubur ayam dan dua es teh untuk mereka.
Alvin hanya menatap lucu tingkah sok tahu Evelyn karena mengetahui gadis itu baru dua kali datang kesini.
Jujur saja, sebelumnya Alvin merasa kalau sakitnya semalam masih belum hilang. Tapi begitu melihat Evelyn, ia menjadi lebih bersemangat, seperti kembali sehat lagi.
"Kenapa anda menungguku." tanya Alvin berusaha mencari topik pembicaraan.
"Aku ingin mentraktirmu."
"Memangnya ada acara apa. Kenapa anda mentraktirku? Anda sedang ulang tahun?"
"Bukan."
"Merayakan keberhasilan sesuatu?"
"Tidak."
"Lantas?"
"Aku hanya ingin tau apa yang sedang kita rayakan." jawab Alvin apa adanya.
"Tak ada perayaan apapun. Aku melakukan ini karena kita ini teman. Bukankah ini yang di lakukan oleh teman? Mentraktir teman yang lain." jelas Evelyn.
"Begitu rupanya." Alvin hanya tersenyum canggung.
"Kau tak lupa kan kalau kita ini sudah berteman sekarang."
Alvin mengangguk sebagai tanggapan.
Tepat saat itu pesanan mereka datang. "Ini makanannya." ujar sang penjual.
__ADS_1
"Terima kasih, paman." ujar Alvin ramah.
Evelyn dan Alvin segera menyantap bubur ayam itu dengan lahap.
"Aku yakin, lama-lama aku pasti semakin suka dengan makanan ini." ujar Evelyn terkekeh, menunjuk mangkuk miliknya.
Alvin mengangguk. "Makanan ini sangat enak, siapa yang bisa menolaknya."
"Benar." jawab Evelyn.
Tepat saat mereka tengah berbincang sembari menikmati bubur ayam itu, perhatian Alvin tersita oleh penjual bubur yang nampaknya tengah berbincang dengan pembeli lain.
Alvin bisa mendengar sang penjual tengah bercakap santai dengan pembeli lain yang hendak membayar.
"Nona yang di sana sudah membayar semua porsi bubur ayam hari ini. Dia meminta saya menggratiskan bubur ayam saya untuk pembeli lain." ujar sang penjual itu menunjuk ke arah Evelyn.
Alvin mengerutkan alisnya. Ia menatap Evelyn dan penjual itu bergantian.
'Apa maksudnya?' Alvin membatin penasaran.
Katanya Evelyn membayar semua bubur di sini? Apa penjual bubur itu berkata yang sebenarnya?
Alvin yang sontak menoleh pada Evelyn dan memanjukan posisi tubuhnya agar lebih dekat pada Evelyn.
"Anda benar sudah membayar semua porsi bubur ayam di sini?" tanya Alvin.
Mendengar pertanyaan Alvin itu, Evelyn yang tengah menikmati bubur ayamnya mendongak lalu menganggukkan kepalanya santai.
"Masalah itu…"Evelyn menatap Alvin agak ragu. "Ya, aku membayar semua porsinya."
Kedua bola mata Alvin membulat.
__ADS_1
"Apa?"
***